Oleh : Peni Sartika

Penduduk bumi tampak risau dengan hukum hari ini, haruskah keadilan terseok-seok untuk mempertahankan eksistensinya, atau haruskah mengemis untuk diakui. Ah sudahlah melihat perlakuan hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas membuat banyak manusia bijak geram telah banyak yang kecewa dengan keputusan hakim yang berat sebelah. Begitulah kiranya perasaan Novel Baswedan satu di antaranya, kekecewaan mendalam terhadap keputusan jaksa penuntut umum yang memberikan hukuman 1 tahun penjara bagi pelaku penyiraman air keras yang dirasa begitu ringan untuk kasus kriminal kategori berat. Novel harus mengalami buta dan cacat seumur hidup.

Manusia yang menghakimi manusia lain dengan hukum batil, yang sama sekali tidak datang dari Allah SWT dan Rasulullah SAW. Atas nama kesepakatan bersama hukum Allah SWT di singkirkan dengan dipilihnya demokrasi sekuler sebagai patokkan dalam kehidupan. Konsepnya masih sama ‘tebang pilih’ rumus kuno yang masih eksis dan berlaku pada masa kini. Disetiap masa pasti akan kita lihat pertunjukkan sandiwara peradilan. Betapa celaka apa yang mereka perbuat itu menjatuhkan hukum bukan pada tempatnya inilah bentuk kedzaliman yang nyata, saat hukum telah rusak.

Kedzaliman akan terus ada selama sistem bathil hidup dan menguasai suatu bangsa. Jadi wajarlah keadilan sedikit demi sedikit hilang ditelan oleh kepentingan mereka yang berkuasa. Begitulah manusia jika diberikan kebebasan mengurus dan mengatur kehidupannya. Akan berlaku semena-mena terhadap yang benar dan menindas yang lemah. Seolah hukum diprogram untuk kepentingan mereka yang berkuasa. Apalah artinya sebuah hukum, jika kebenaran dan keadilan tidak di tegakkan. Hanya sologan omong kosong yang terus-menerus didengungkan. Setebal apapun kitab Undang-undang, pasal-pasal, ayat-ayat, dan bab-bab mengenai peradilan jika lahir pada sistem yang cacat seperi demokrasi sekuler hari ini maka siap-siaplah menelan kekecewaan di dunia dan kehinaan di akhirat. Bukankah Allah telah memperingati kita dalam firman-Nya

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Artinya : Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS. Al – Maidah [5] : 50).

Seharusnya sebagai mukmin yang menyakini Allah SWT dan hari akhir, sudah barang tentu tuduk dan taat pada syariat bukan memilih hukum produk made in barat hasil pemikiran Aristoteles, karl mark dan sebagainya yang jelas bertentangan dengan islam, dan mengundang murka Allah SWT sebab membuat hukum adalah hak progreatif Allah SWT sebagai Al Hakim, sebagaimana firman-Nya.

ۚ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ……

Artinya : …….”Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanykan manusia tidak mengetahui.” (TQS Yusuf [12] : 40 ).

Dan dalam tafsir Al Khazin : “Sesungguhnya hukum, ketetapan, perintah , dan larangan hanyalah milik Allah SWT. Tidak ada sekutu bagiNya”

Adil menurut kaum Muslim adalah lawan dari dzalim. Yakni membenarkan yang benar dan menghukumi yang salah dengan hukum Allah SWT. Islam sangat berhati-hati dalam menetapkan sebuah sanksi untuk para pelaku kriminal. Sebab, kaum Muslim terdahulu benar-benar berpegang teguh pada Al Qur’an dan As sunnah. Karena tanggung jawabnya bukan sebatas di dunia tapi akan di tuntut di akhirat kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka pasti aku potong tangannya. Sabda ini menunjukkan betapa hukum di dalam islam tidak tebang pilih, dan mendapatkan perlakuan yang adil di dalam hukum.

Semoga kita istiqomah dalam menegakkan kebenaran menghapus kebathilan. Hari ini hukum dikuasai oleh mereka orang-orang yang tidak mengerti lagi dzalim sebab bercekolnya hukum yang cacat. Tapi Allah SWT tidak akan membiarkan orang dzalim aman dan lepas dari adzab sebagaimana firman-Nya.

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang dzalim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab).” (QS. Ibrahim: 42).

Wallahu’alam Bish Shawab