Oleh: Aulia Rahmah
Kelompok Penulis Peduli Umat

Banyak kejanggalan terjadi dalam persidangan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Bahkan sesaat setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengumumkan hasil persidangan yang seolah dibuat-buat itu, korban berkomentar menyindir Presiden, “Selamat Pak, inilah prestasi anak buah bapak!” Aroma kemauan untuk memenangkan penguasa jelas sekali terasa. Bahkan Pengamat Politik, Rocky Gerung mengibaratkan air keras yang digunakan pelaku saat menyiramkan ke mata penyidik KPK itu, adalah air keras kekuasaan, dilansir oleh vivanews(14/6)

Mencari keadilan dalam rezim Demokrasi hanya sekedar ilusi. Tindak kriminal hingga mencederai bagian dari panca indera mendapat hukuman lebih ringan dari pasal penghinaan. Kasus ini menyempurnakan bukti bahwa semua aspek kekuasaan Demokrasi dari legislatif, eksekutif, hingga yudikatif telah menunjukkan kegagalannya dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.

Sistem Demokrasi membuka mata kita tentang karakter sebagian besar manusia yang suka sekali berbuat kerusakan di muka bumi. Allah berfirman; “Telah nampak kerusakan di langit dan di bumi akibat ulah tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (Tqs. Arrum:41).

Tentang karakter manusia yang suka bermaksiat, dengan merusak alam maupun merusak kehidupan melalui tindakan pembunuhan ataupun mencederai anggota tubuh manusia yang lain, Allah memberikan seperangkat hukum Syariat untuk mencegahnya dan melindungi alam ciptaanNya. Allah berfirman ;
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Tetapi barangsiapa memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diyat (tebusan) kepadanya dengan baik pula. Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barangaiapa melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat adzab yang sangat pedih. Dan dalam qisas itu ada kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa” (Tqs. Al Baqarah: 178, 179)

Salah satu tujuan Allah menciptakan manusia di bumi adalah sebagai kholifah untuk mengelola bumi dan menegakkan hukuman qisas untuk menjaga kelestariannya. Kholifah Umar bin Khattab menjalankan pemerintahannya untuk meneruskan kepemimpinan Rosulullah Saw di Madinah. Memberantas kedzaliman dan kemaksiatan, melindungi yang lemah, memotivasi yang kuat untuk rajin berderma, dan bersemangat menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. kekhilafahan hadir di muka bumi hingga 13 abad lamanya, hingga khilafah terakhir runtuh pada tahun 1924 M di Turki.

Rahasia kekuatan peradaban Islam hingga bertahan ribuan tahun terletak pada keberhasilannya dalam menegakkan keadilan di seluruh sendi kehidupan, terutama keadilan di bidang perekonomian dan peradilan. Sistem uqubat/ sanksi di dalam Islam yang meliputi; hudud, ta’zir, mukholafat, dan jinayat terbukti menjamin keamanan, keadilan, dan kesejahteraan benar-benar terwujud. Semua sama di mata hukum. Rosulullah pernah berpesan agar tidak tebang pilih dalam menjatuhkan hukuman dengan sabdanya “Sungguh demi Allah, seandainya putriku, Fatimah mencuri maka aku sendiri yang akan memotong tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mencederai mata merupakan sanksi jinayat, yaitu sanksi terhadap tindak penganiayaan atau pencederaan terhadap anggota tubuh, dan diyat (tebusan) untuk sebelah mata adalah emas atau perak seharga 50 ekor unta. Rosulullah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwattha’nya; “Pada satu biji mata, diyatnya 50 ekor unta”

Untuk membangun peradilan Islam yang menjamin kehidupan butuh sistem yang kompeten. Pasalnya sistem Demokrasi beserta seluruh unsurnya bahu – membahu meruntuhkan kebenaran dan keadilan hingga orang-orang lemah berputus asa mendapatkannya. Dan para penguasa makin jumawa saja, bahkan menggunakan berbagai cara untuk mengabadikan kekuasaan dan kedzalimannya. Hanyalah orang-orang yang beriman dan bertakwa sajalah yang mempunyai tekad yang kuat untuk menghadirkannya.

Memperjuangkan Syariat Islam dan Khilafah memungkinkan Syariat qisas dan diyat ditegakkan. Dengan mengembalikan standar emas perak dalam perekonomian, zakat, ukuran pencurian, dan diyat, maka segala bentuk penipuan dan kemaksiatan lainnya dapat diminimalisasi. Menegakkan hukuman qisas dan diyat juga bentuk kepedulian kita untuk menjaga keindahan ciptaan Allah. Manusia dengan keindahan bentuk fisiknya tidaklah ada dengan begitu saja. Allahlah yang menciptakannya dan memberi potensi kepadanya sehingga manusia dapat melihat indahnya dunia. Bahkan dengan mata, manusia dapat memahami berbagai fakta yang diinderanya sehingga dirinya mudah mengbil solusi dari berbagai problem kehidupan yang dihadapi.

“Sungguh Kami (Allah) menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ( Tqs. Attin: 4 ). Wallohu A’lam.