Oleh: Desi Wulan Sari

Mencari keadilan dalam rezim demokrasi hanya ilusi semata. Kasus Novel Baswedan menyempurnakan bukti bahwa semua aspek kekuasaan demokrasi (legislatif, eksekutif dan yudikatif) telah menunjukkan kegagalannya dalam memberantas tuntas korupsi dan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Karena hari ini, masyarakat dan semua pihak yang berseberangan pikiran dengan penguasa, akan merasakan hukum yang bertepuk sebelah tangan.

Reaksi penolakan atas tuntutan yang irasional tidak hanya dari para tokoh, tetapi masyarakat pun sudah banyak yang tidak nyaman dengan kondisi peradilan di Indonesia saat ini. Penilaian irasional pengadilan hukum dianggap sedang sangat “sakit”, dikhawatirkan hukum memang sekedar memenangkan penguasa saja.

Sangat menarik apa yang disampaikan pengamat politik Rocky Gerung terkait kasus penyiraman air keras oleh oknum. Beliau mengatakan mengibaratkan air keras yang digunakan pelaku saat menyiramkan ke mata penyidik KPK Novel Baswedan adalah air keras kekuasaan. Untuk itu, ia meminta agar mata publik tidak buta dengan proses peradilannya. Dan di tempat yang sama, pakar hukum tata negara Refly Harun menilai peradilan yang dilakukan terhadap kedua terdakwa pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan tidak asli. (vivanews.com, 14/6/2020).

Hukuman kasus Novel Baswedan oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam persidangan itu, justru menuntut hukuman pidana penjara hanya satu tahun kepada kedua terdakwa. Sungguh lucu, sebuah kasus besar, proses pencarian tersangka sangat lama, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun, setelah tertangkap hanya dijatuhi hukuman ringan. Dengan alasan kejahatan yang dilakukan ada indikasi faktor “tidak sengaja”, walaupun bukti yang ada berbanding terbalik?

Apakah ini wajah negeri dagelan demokrasi? Yang selalu membuat resah rakyat. Dimana keadilan hukum yang diagungkan rakyat? Kepada siapa rakyat mencari keadilan hukum yang berpihak padanya? Terbukti, bahwa demokrasi tidak mampu memberikan solusi dan jalan keluar atas permasalahan rakyat, justru semakin menyengsarakan rakyat diberbagai sisi.

Hukum Islam Terhadap Kejahatan Jinayah

Islam telah menurunkan aturan-aturan berupa syariat kepada manusia melalui wahyu Allah, yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Rasulullah saw dengan diturunkannya AlQuran.

Alquran adalah aturan bagi manusia melingkupi berbagai aspek kehidupan dari individu, masyarakat hingga negara. Begitupun dengan hukum menghilangkan anggota tubuh seseorang dengan melukainya.

Dalam kasus jinâyah, terkadang korban tidak mengalami kematian. Akan tetapi hanya menderita cacat atau terkena luka yang dapat disembuhkan. Dalam Islam, balasan pidana ini adalah qishâsh, sebagai keadilan yang Allah Azza wa Jallategakkan di muka bumi. Ini menunjukkan bahwa pada luka juga terdapat hukum qishâsh. Dan ini adalah syariat umat sebelum umat ini, seperti yang sebutkan pada firman Allah Azza wa Jalla:

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ Dan

Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishashnya.

Dari ayat di atas, diketahui bahwa hukum asal jinâyah adalah qishâsh. Akan tetapi, terkadang hukum asal ini (qishâsh) terhalang dengan beberapa mawâni’ (penghalang), sehingga al-jâni (pelaku jinâyah) diberi hukuman lain sebagai ganti rugi dari kerusakan yang ditimbulkan, yaitu diyat.

Anggota badan yang berpasangan (berjumlah dua) seperti, mata, telinga, tangan, bibir, tulang geraham, kaki, puting susu, pantat, biji dzakar, maka pada diyatnya utuh, dan pada salah satunya diyatnya setengah. Kedua hal di atas berasal dari Sabda Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa ssallam

عَنْ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ لَهُ ، وَكَانَ فِي كِتَابِهِ : وَفِي اْلأَنْفِ إذَا أُوْعِبَ جَدْعُهُ الدِّيَةُ ، وَفِي اللِّسَانِ الدِّيَةُ ، وَفِي الشَّفَتَيْنِ الدِّيَةُ ، وَفِي الْبَيْضَتَيْنِ الدِّيَةُ ، وَفِي الذَّكَرِ الدِّيَةُ ، وَفِي الصُّلْبِ الدِّيَةُ ، وَفِي الْعَيْنَيْنِ الدِّيَةُ ، وَفِي الرِّجْلِ الْوَاحِدَةِ نِصْفُ الدِّيَةِ

Dari `Amru bin Hazm bahwa Rasullullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis untuknya, dalam ditulisan itu, “Pada hidung yang terpotong diyatnya utuh, pada lidah diyatnya utuh, pada kedua bibir diyatnya utuh, pada dua buah biji dzakar diyatnya utuh, pada batang kemaluan diyatnya utuh, pada shulb (tulang syaraf reproduksi) diyatnya utuh, pada kedua mata diyatnya utuh, dan pada satu kaki diyatnya setengah ”

Maksudnya setengah adalah jika diyat utuh adalah 100 ekor onta, dan 40 diantaranya sedang bunting. yaitu seperti diyat Nafs (jiwa). Maka setengahnya diyat tersebut dapat diambil dari jumlah yang telah ditetapkan tersebut.

Sungguh mahal dan berharganya jiwa manusia dimata Islam. Allah memberi tanda bahwa nyawa dan tubuh manusia yang diciptakannya bukanlah senda gurau yang murah harganya. Dengan Islam, mampu melindungi umat atas hukkum-hukum kemaksiatan dan kedzaliman di dunia dengan seadil-adilnya. Bandingkan dengan putusan ringan atas kejahatan yang dilakukan pada Novel Baswedan yang jelas-jelas melukai dan menghilangkan mata dengan sengaja.

Jika hukum demokrasi yang dibawa pengusung kapitalime tetap diberlakukan, maka tinggal menunggu hancurnya negeri secara perlahan tapi pasti. Sejatinya umat menanti hukum yang hakiki, yaitu yang mampu membawa keadilan seluruh rakyat, kemakmuran dan kesejahteraan nyata, bukan lagi ilusi. Itulah sistem Islam sebagai rahmatan lil alaamiin, solusi tuntas problematika seluruh umat manusia. Wallahu a’lam bishawab.