Oleh: Analisa

https://makassar.kompas.com/read/2020/06/19/05450081/menyoal-biaya-tes-virus-corona-seorang-ibu-kehilangan-anak-dalam-kandungan?page=all

Sudah beberapa bulan wabah virus corona belum juga usai, rasa pilu hati kian memuncak lantaran kesehatan sangat mengkhawatirkan. Ekonomi kian memburuk malah kesehatan di komersilkan. Sungguh ironi hidup di tengah pandemi kesehatan menjadi sangat mahal bahkan berbelit-belit pelaksanaan.

Seperti di lansir dari laman KOMPAS.com – Uji tes Covid-19 baik melalui rapid maupun swab test dituding telah “dikomersialisasikan”. Tingginya biaya tes disebut telah menelan korban di masyarakat.

Seorang ibu di Makassar, Sulawesi Selatan, dilaporkan kehilangan anak di dalam kandungannya setelah tidak mampu membayar biaya swab test sebesar Rp 2,4 juta.

Padahal, kondisinya saat itu membutuhkan tindakan cepat untuk dilakukan operasi kehamilan. Mirisnya biaya kesehatan yang sangat mencekik bahkan tega mengorbankan nyawa rakyat.

Nyatanya, Negeri ini kaya raya melimpah ruah aneka pangan sandang dan papannya, tapi malah terabaikan akibat ulah Sistem yang telah di terapkan. menjadikan sisi aspek kehidupan hancur berantakan.

Di masa sekarang, kesehatan dianggap sebagai suatu komoditas yang layak diperjualbelikan. General Agreement on Trade Service menegaskan bahwa kesehatan kini telah menjadi jasa komersial. Jika ingin sakit, Anda harus siap dengan tabungan yang besar. Hal ini jauh bertentangan dengan prinsip yang dianut pada masa kekhilafahan. Pelayanan kesehatan tidak ditujukan untuk meraih nilai materi, tetapi ditujukan demi mendapat ridla Allah semata.

Sangatlah tegas sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam
“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi, penguasa adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sejatinya pemimpin merupakan pengayom untuk menjaga melindungi serta memberikan yang terbaik untuk rakyatnya sangat berbeda pandangan antara Sistem Kapitalis dan Islam. Kapitalis hanya berasaskan materi sedangkan Islam maslahat untuk umat. Islam memandang aspek kesehatan merupakan aktivitas yang sangat mulia, kehadiranya sangat penting untuk rakyat. Dalam bingkai Islam kesehatan tidaklah berbiaya mahal apalagi sampai mencekik rakyat.

Lepasnya tanggung jawab negara dengan cara mendorong praktek liberalisasi dan komersialisasi sektor kesehatan ini, telah membawa banyak dampak buruk bagi orang-orang miskin.

Dalam Islam, kebutuhan atas pelayanan kesehatan termasuk kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi kewajiban negara. Rumah sakit, klinik dan fasilitas kesehatan lainnya merupakan fasilitas publik yang diperlukan oleh kaum Muslim dalam terapi pengobatan dan berobat. Jadilah pengobatan itu sendiri merupakan kemaslahatan dan fasilitas publik. Kemaslahatan dan fasilitas publik (al-mashâlih wa al-marâfiq) itu wajib disediakan oleh negara secara cuma-cuma sebagai bagian dari pengurusan negara atas rakyatnya.

Kesehatan dalam Islam merupakan salah satu bidang di bawah divisi pelayanan masyarakat (Mashalih an-Nas) Pembiayaan rumah sakit seluruhnya ditanggung oleh pemerintah. Dokter dan perawat digaji oleh khalifah . Dananya diambil dari Baitul Maal dari pos harta kepemilikan negara (kharaj, jizyah, harta waris yang tidak dapat diwariskan kepada siapapun, dan lain-lain) dan pos harta kepemilikan umum (hasil pengelolaan sumber daya alam, energi, mineral, tanah, dan sebagainya). Pelayanan kesehatan gratis bagi pasien tidak hanya diterapkan saat kekhilafahan mencapai puncak kejayaannya, melainkan sudah diterapkan sejak awal kemunculannya.

Sungguh sejahteranya saat pelayanan kesehatan digratiskan bagi muslim maupun non muslim, yang miskin maupun yang kaya, dimudahkan dalam mendapatkan kesehatannya. Semua difasilitasi oleh Negara abdi Khalifah sangat berperan besar dalam menjaga dan melestarikan umat manusia, dengan selalu menjadikan kesehatan yang utama serta menjaga jiwa dan nyawa manusia, tanpa mengabaikan yang lainnya.

prinsip jaminan kesehatan Islam yang cemerlang, yang bersumber dari mata air ilmu dan kebenaran, yaitu Al Quran dan As Sunnah, dan apa yang ditunjuki oleh keduanya, berupa ijma’ sahabat dan qiyas. Memberi rahmat bagi seluruh alam serta menjadikan keselamatan dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishowab.