Oleh: Asri Mulya

“Wahai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah apa yang tersisa dari riba, jika kalian adalah orang-orang yang beriman. Maka jika kalian tidak meninggalkan, maka umumkanlah perang kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika kalian bertaubat, maka bagi kalian adalah pokok harta kalian. Tidak berbuat dhalim lagi terdhalimi. Dan jika terdapat orang yang kesulitan, maka tundalah sampai datang kemudahan. Dan bila kalian bersedekah, maka itu baik bagi kalian, bila kalian mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 278-280).


“Hidup tanpa utang tidak menantang”
“Jika tidak berutang, tidak punya apa-apa”
“Orang hidup pasti semuanya pernah berutang”
“Sayang jika membeli cash, mending utang saja”
“Gimana lagi, kalau tidak berutang di bank. Siapa yang bantu?”
“Kepepet, berutang lebih cepat”
“Kartu kredit memudahkan melakukan segala transaksi”

Beberapa ungkapan diatas, sering kali saya dengar dari beberapa orang, baik dari teman maupun saudara bahkan keluarga. Mungkin bagi sebagian orang hal itu suatu kewajaran yang terjadi ditengah masyarakat. Apalagi di era kapitalis sekarang, yang seolah menuntut manusia memperhitungkan untung rugi. Di dukung dengan tuntutan hidup yang semakin menyayat hati, semakin sulit mengais rezeki. Akhirnya mau tidak mau, suka atau tidak suka akhirnya masyarakat kadang terpaksa memilih untuk berutang.

Tapi berbeda dengan beberapa orang lain, yang menganggap berutang itu hal yang wajar, karena memiliki pemikiran jika tidak berutang, tidak akan memiliki apa-apa. Bahkan karena faktor hedonis (hidup mewah) padahal kemampuan pas-pasan, sehingga tidak sabar. Terobsesi ingin memiliki harta dengan segera. Rela menjadikan seseorang melakukan transaksi jual beli dengan berutang, meskipun dengan resiko besar.

Mau punya rumah ambil KPR, mau punya kendaraan pinjam di bank, beli barang-barang rumah tangga berutang. Apakah memang dengan cara berutang satu-satunya jalan memiliki sesuatu? Jawabannya ada pada diri sendiri #tidakmaumenghakimiorang.


POV Teman

Ini cerita nyata dari teman dekat saya sebut saja Dewi (nama samaran). Memandang kalau hanya dengan cara berutang bisa memenuhi kebutuhaan dan impian yang ingin dimiliki seperti rumah dan kendaraan.

“Ya Mbak, kalau tidak berutang pasti gak akan punya rumah, mobil, motor dll. Sedangkan suamiku tidak pernah ada kerjaan tambahan seperti suami Mbak, yang bisa ke Lebanon atau satgas.” Dewi berpendapat saat ngobrol dengan saya.

“Iya mbak namanya rezeki sudah ada yang mengatur. Masing-masing sudah sesuai porsi kebutuhannya” sahut saya .

“Meskipun pada akhirnya saya dan suami harus pintar-pintar mengatur keuangan, dari gaji saya dan suami hidup irit, sampai puasa senin kamis hehee, agar bisa membayar tanggungan.” Dewi bercerita kehidupannya.

“Iya Mbak, setiap orang juga memang punya prinsip yang beda juga. Kalau saya memang punya prinsip utang riba, itu dilarang agama. Terus saya juga, termasuk orang yang gak mau pusing dikejar utang hehee.”

Tiba-tiba suami Mbak Dewi memotong pembicaraan saya.

“Tapi memang kalau tentara tanpa punya utang, gak mungkin punya rumah.”

“Apa mas, buktinya saya, Alhamdulillah sudah punya rumah meski kecil. Itu tanpa berutang ya.” Saya menimpali pandangan suami Mbak Dewi.

“Ya tapi kan itu belinya bukan langsung .”

“Maksudnya?”

“Ya karena Mbak beli rumah punyanya saudara kan?”

“Lah iya memang rumah itu saya beli dari saudara yang jual.Tapi intinya saya dan suami punya rumah tanpa utang.”

Mungkin karena pendapat saya berargumen ada benarnya, suami teman saya terdiam.


POV Saya

Jalan hidup dan prinsip manusia memang berbeda. Termasuk mengambil cara berutang atau tidak. Namun bagi saya pribadi, memilih jalan tidak berutang apalagi dengan cara meriba. Jika ingin membeli barang, nunggu ada uang baru membeli. Saya percayakan rezeki Allah yang mengatur. Tidak terlalu ngoyo mengejar dunia. Selain itu saya punya prinsip utang secara riba diharamkan agama.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imron [3]: 130)

Hukum Allah sudah berlaku, bagi orang yang beriman dan berpikir. Tidak ada tawar menawar, jika memang riba diharamkan. Ya HARAM!.

Namun saya tetap berusaha meraih impian dengan target melalui ikhtiar. Dengan cara apa? Nabung di jalan Allah. Selalu mengutamakan untuk bersedekah. Karena dengan sedekah saya yakin, akan meluaskan rezeki. Meski tetap ikhtiar nabung, mengisi tabungan di rekening hehe.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (Qs Al-Baqarah 276).

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya” (Qs Saba’ 39).

Memang dalam hidup tidak munafik, saya juga pernah berutang pas bener-bener gak ada uang, dan itu diakhir bulan biasanya, atau pas ada keperluan mendadak, pas gak punya tabungan. Tapi itupun cepat dilunasi sekitar kurang dari seminggu, saat suami gajian. Karena saya selalu kepikiran kalau masih punya utang sekalipun sama saudara sendiri.

Iya ini bukan saya bermaksud pamer, atau apa. Alhamdulillah pada kenyataannya saya bisa memenuhi impian saya memiliki rumah tanpa berutang. Walau hanya rumah kecil. Dalam kurun waktu target yang ditentukan yaitu tiga tahun setelah menikah. Dan tiga tahun berikutnya punya tanah sebagai investasi.

Alhamdulillah meski hanya mengandalkan gaji suami yang notabanenya hanya seorang tentara, saya tetap bersyukur tidak merasa kekurangan. Hidup saya dan suami tenang tanpa punya utang.

Hidup pas-pasan. Pas mau beli sesuatu ada aja rezekinya, pas mau pulang kampung pas dapat THR, pas mau makan enak ya beli aja gak perlu irit-irit. Bisa jalan-jalan refresing ke tempat wisata. Toh semua buat sendiri dan keluarga juga.

Saya tipikal orang yang royal, tidak banyak perhitungan, tidak berpikir takut akan kekurangan diakhir bulan. Karena yakin ada Allah. Intinya yang penting saya beli sesuai kemampuan. Tidak pernah memaksakan harus membeli jika belum pas uangnya. Tidak juga merasa iri dengan orang lain yang memiliki barang-barang mewah.

Dari pandangan teman dan saya pribadi silahkan orang bisa menilai sendiri. Pilihan hidup ada tinggal pilih mau berutang atau sedekah untuk mencapai impian memiliki sesuatu.

KomunitasAktifMenulis

MenulisUntukPeradaban

BerbagidanMenginspirasi

PRParagrafPembuka