Oleh: Yuyun Rumiwati
(Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Tiap penulis tentu memiliki trik unik tersendiri dalam berkarya. Bisa jadi antara satu orang dengan yang lain bisa berbeda. Ketika diterapkan memiliki efek berbeda dalam hasil. Terlebih bagi seorang ibu dengan berbagai peran yang dijalani, ada beberapa trik yang dibutuhkan agar tetap bisa optimal berkarya di tengah segala amanah.

Semoga trik berikut menjadi tambahan energi positif dan pelecut diri penulis. Terutama bagi para penulis pemula. Atau pun penulis yang sejenak atau lama berhenti karena suatu atau beberapa hal.

Beberapa tips dan trik penulis ideologis di antaranya:

Pertama: Kekuatan motivasi. Motivasi yang diawali niat karena Allah. Dan ingin memberikan yang mampu di jalan Allah. Niat dan tekad yang bulat berlanjut pada komitmen diri bagi penulis. Misalnya komitmen menulis berapa tulisan perhari, per minggu atau per bulan. Dengan komitmen ini penulis akan terjaga produktivitas menulis.

Kedua: Sinergitas dengan suami. Sebagai seorang muslimah yang sadar bahwa ketaatan pada suami dalam kebaikan adalah kewajiban. Tentu, harus berfikir keras bagaimana agar aktivitas menulis pun menjadi sarana produktif untuk menjadi amal shalih di tengah menjalankan kewajiban dan ketaatan kepada suami. Dengan kejelasan misi menulis yang terkomunikasikan secara baik pada suami dan komitmen untuk saling mendukung. Menjadi pelecut tersendiri bagi penulis muslimah.

Tentu bentuk dukungan antara suami di antara penulis bisa berbeda sesuai kapasitasnya. Bahkan, keridhaan suami tanpa ada unsur terpaksa, apalagi melarang. Adalah modal terbesar bagi seorang penulis berkarya. Bagaimana ide brilian tidak akan tertumpahkan dengan cantik ketika tanpa dukungan dari pasangan. Dan semoga Allah balas kebaikan berlimpah bagi para suami yang telah memberikan kelapangan bagi sang istri menulis sebagai bagian aktivitas penunaian kewajiban dakwah.

Ketiga: Kepekaan terhadap masalah umat. Kepekaan terhadap urusan umat, yang dilakukan tidak tepat oleh penguasa. Jiwa penulis yang mencintai umat dan Islam. Akan meronta, melihat kedzaliman di depannmata.

Kondisi tersebut menjadi energi pendorong tersendiri bagi si penulis untuk menumpahkan segala kritik dan tawaran solusi. Tentu bukan asal kritik butuh bahan dan pengkajian baik pengajian fakta maupun Tsaqofah Islam sebagai standar pembedah kebijakan tersebut benar atau salah. Tepat atau tidak. Lalu bagaimana Islam mengaturnya.

Keempat: Menerapkan sekala prioritas dengan tepat. Kewajiban segera ditunaikan. Terutama kewajiban sebagai seorang istri, ibu dan pengatur rumah tangga. Sayapun kewajiban lain. Karena penunaian kewajiban ini akan berpengaruh terhadap kelancaran proses menulis. Ketika amanah wajiban belum tertunaikan tentu akan menjadi ganjalan tersendiri ketika menuangkan ide dalam tulisan.

Kelima: Menentukan waktu khusus untuk menulis. Malam hari adalah waktu terindah bagi penulis muslimah. Dimana anak dan suami sedang tidur pulas. Kebiasaan menyempatkan nulis malam ini pun, berefek pada turunnya berat badan lho, bagi sebagian penukis. Walau saya yakin bukan itu motivasi utamanya. Ibarat menanam padi, tumbuh daun Semanggi di sekitarnya. Bonus cantik.

Keenam: Segera menunaikan komitmen menulis ketika ada kesempatan. Tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengumpulkan bahan dan merangkai kata demi kata. Dengan trik ini penulis bisa menghasilkan karya lebih dari komitmen.

Ketujuh: Bersegera tangkap opini yang sedang viral dan menulis. Kecepatan penulis merespon opini yang sedang viral. Kemudian ditulis dikirim ke media. Memberi peluang untuk termuat di media. Tentunya tetap dipertahankan kualitas tulisan.

Kedelapan: Keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Keberanian ini amat penting. Tanpa keberanian untuk menulis dan mempublikasikan, mustahil tulisan bisa terbaca khalayak. Walau sebatas posting di akun pribadi. Keberanian ini tentu berkait dengan niat dan kekuatan prinsip yang di pegang penulis. Sebagai seorang penulis muslim. Niat karena Allah dan berpegang terhadap aturan Allah. Menjadi bekal dasar dari segala aktivitas termasuk menulis.

Karenanya ketika tulisan sudah diposting terasa ringan tanpa beban takut, malu dari penilaian manusia. Andai pun ada kritik akan siap diterima sebagaimana seharusnya seorang muslim merespon kritik. Jika baik dan tidak melanggar syara’ tentu dengan legowo siap ditetima. Andai tidak, itu pun hak penulis untuk mempertimbangkan.

Kesembilan: Senantiasa upgrade diri dan berkumpul dengan komunitas tulis.

Tiada hari untuk berhenti belajar. Baik lewat baca maupun dengar. Terlebih di era Pandemi. Kesempatan upgrade diri terbuka lebar meski lewat virtual.

Komunitas yang sepemikiran dan perasaan pun amat penting untuk menjaga ritme semangat juang. Saling menyemangati dan berbagi ilmu menjadikan komitmen menulis lebih terjaga.

Andai ditulis semua tentu banyak motovasi, tips dan trik cantik dari penulis ideologis. Semoga beberapa hal di atas bermanfaat dan menjadi pelecut bagi penulis khususnya dan pembaca untuk menorehkan pena dalam syiar Islam. Allahu a’lam bi shawab