Oleh: Magnolia

Pernahkah engkau melakukan perdagangan bersama Allah Ta’Ala?

Perdagangan bersama AllahTa’Ala tiada lain tiada bukan adalah ketika engkau menginfakkan hartamu di jalan Allah Ta’Ala.

Engkau tidak mengharap balasan apa pun dari manusia yang engkau berikan sebahagian hartamu kecuali semata-mata itu hanya perintah Allah Ta’Ala yang engkau harap keridhaan-Nya.
.
Saat dua per tiga Ramadhan lalu, ku berkesempatan menyaksikan perdagangan tersebut. Beliau bernama Ali adalah pebisnis (bahasa kerennya) tersebut.
.
Suatu waktu menjelang berbuka puasa, sampailah kami di kediaman Beliau yang merupakan rumah sederhana yang menjadi panti asuhan bagi yatim piatu, fakir miskin dan anak-anak terlantar.
.
Sosok itu tegak di depan rumah, menemani banyak anak lelaki juga satu orang anak perempuan berkerudung kuning masih berusia batita (bawah tiga tahun). Mereka sedang bermain bersama menanti waktu berbuka puasa dan sosok tersebut mengawasi anak-anak tersebut.
.
Mobil kami berhenti di tanah kosong depan rumah tersebut, anak-anak dengan sekejap langsung berhenti dan memperhatikan kami yang keluar dari kendaraan.
.
Begitu mereka melihat suamiku membuka pintu belakang dan mengangkat sekarung besar beras, tanpa komando di antara mereka yang agak besar (menurut perkiraanku tidak lebih dari 10 Tahun) langsung mengambil alih karung tersebut dibantu seorang anak lainnya. Suamiku tercenung, tetapi anak lelaki itu begitu sigap memanggul goni beras tersebut untuk dibawa masuk ke dalam rumah.
.
Aku menyaksikan beliau, Bapak Ali yang membisu tetapi menjawab salam dari kami yang datang begitu mendadak berdekatan dengan waktu berbuka puasa.
.
Sosok itu bisa dikatakan kurus, hitam dan (maaf) dekil. Umurnya belum mencapai paruh baya tetapi guratan muka dan tangannya menggambarkan kesusahan hidup yang dijalani. Jari-jari kaki Beliau yang beralaskan sandal jepit (maaf) buruk ikut menjadi alibiku.
.
Al Fatih, bayi yang belum genap satu bulan, adalah yang menghantarkan kami sampai di panti asuhan Pak Ali ini – yang dibiayai oleh beliau secara swadaya atau mandiri.
.
Menyampaikan maksud kedatangan kami yang tak lain adalah mencari ayah angkat Al Fatih yang telah kami jenguk keberadaannya di Rumah Sakit Sansani, Pekanbaru.
.
Melihat reaksi wajah Beliau yang menggambarkan kebingungan, kami menjelaskan bahwa mengetahui keberadaan bayi Al Fatih melalui jaringan media sosial, pun bagaimana sakit yang diderita oleh bayi tersebut (pasien dalam pemantauan corona virus).
.
Menyampaikan sedikit uang tunai dari para donatur yang telah ku tambahkan beberapa helai, diprakarsai oleh komunitas menulis “Kalimat” yang ku ikuti. Pak Ali sangat bersuka cita menerima bantuan sekedarnya tersebut.
.
Aku memperhatikan suamiku bercakap ringan dengan beliau mengenai keberadaan panti dan kumpulan anak-anak tersebut yang sangat bervariasi umur dan besaran badan.
.
Beliau menceritakan bagaimana bayi Al Fatih yang masih merah dan masih berselimut ari-ari diantarkan seorang supir taxi menjelang maghrib dekat Ramadhan kemarin. Beliau sediri yang menguburkan ari-ari tersebut saat senja itu.
.
Beliau kemudian menunjuk anak perempuan batita kecil yang sedang bermain dan diusili oleh kakak-kakak angkatnya, bahwa anak tersebut juga diantarkan oleh supir truk yang mengaku dari (pulau) Jawa.
.
Beliau menceritakan dengan gembira bahwa ia memiliki 45 anak dan rumah sederhana dengan luasan 200 m persegi itu penuh karenanya. Menunjukan kepada kami bangunan batu bata tanpa plesteran, belum beratap, juga belum berlantai yang didirikannya untuk fungsi mushala dan tempat belajar mengaji anak-anak di atas bahagian kecil dari tanah 500 m persegi.
.
Tidak sampai 30 menit keberadaan kami di halam rumah panti Pak Ali. Beberapa ibu-ibu bersepeda motor menghantarkan nasi-nasi kotak untuk berbuka puasa dan langsung diletakkan di teras rumah. Tanpa berselang lama datang lagi kemudian ibu-ibu juga bersepeda motor menghantarkan kotak-kotak makanan penuh takjil.
.
Kelihatan Pak Ali sudah agak kerepotan melayani tamu-tamunya. Pak Ali memanggil istrinya dari luar tetapi istri beliau tak kunjung muncul dari balik pintu.
.
Aku berpikir mungkin istri beliau lagi sibuk menyiapkan persiapan untuk berbuka puasa sehingga tidak kunjung datang dipanggil oleh suaminya.
.
Kami pun pamit, agar Pak Ali bisa fokus sama ibu-ibu yang datang memberikan infak berkantong-kantong plastik besar berisi makanan takjil dan nasi kotak.
.
Tak lupa saat bersalaman dengan suamiku Pak Ali bermohon, sekiranya ada niat suamiku atau teman-teman kantor suamiku, mendonasikan sedikit harta untuknya agar dapat menyelesaikan mushala panti yang telah berdiri di halaman depan rumah panti tersebut.
.
Keluar kami dari gang keluarga yang merupakan jalan masuk menuju panti asuhan milik Pak Ali tersebut. Suamiku yang tak tertahankan lagi herannya, mulai menghitung-hitung dan mengkali-kali kebutuhan dan pengeluaran yang harus di penuhi Pak Ali yang pekerjaannya hanya serabutan.
.
Suami ku menggeleng-gelengkan kepalanya tanda keheranan dan tak masuk dalam akalnya bagaimana Pak Ali menghidupi istri dan semua anak-anak tersebut yang dikatakannya adalah anak-anaknya.
.
Suami ku juga tak habis terheran-heran mengetahui bahwa tidak ada dan tidak akan ada satu anak pun yang akan ditolak Pak Ali, ketika seseorang mengantarkan anak mereka untuk tinggal di panti asuhannya. Bahkan itu diantarkan oleh orang tua dari anak-anak itu sendiri yang beralasan bahwa mereka tidak lagi menyanggupi menghidupi anak mereka.
.
Apa yang bisa ku ingatkan kepada suamiku selain mengatakan: “Ayah ini bukan perkara hitungan kebutuhan hidup per bulan yang bisa kita tambah dan kali jumlah uang yang dibutuhkan di keadaan normal; Bahwa yang dilakukan Pak Ali adalah melaksanakan perintah Allah, yaitu memelihara fakir miskin, yatim-piatu dan anak-anak terlantar; Bahkan Pak Ali telah ridha memberikan waktu, umur, hartanya untuk melindungi dan mengasuh anak-anak tersebut; Beliau tidak menunggu kepantasan waktu yang tepat atau kepantasan harta yang tepat untuk berbagi dan menjadi orang tua dari anak-anak tersebut. Sehingga Allah Ta’Ala yang menjamin kebutuhan hidup anak-anak tersebut, memberikan rizki-Nya dari banyak tempat yang tak terduga kepada Pak Ali dan keluarganya. Sesungguhnya kita harus meyakini perintah Allah Ta’Ala tanpa sedikitpun keraguan dan Pak Ali bersama istrinya telah membuktikan amal perbuatan tersebut kepada kita”.
.
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS Faathir [35]: 29).
.
Sungguh hikmah yang sangat besar dicontohkan Pak Ali kepada ku, yaitu beramal dengan tindakan dan perbuatan. Bersegeralah dan berlomba-lombalah, telah difirmankan Allah Ta’Ala kepada kita yang mengaku umat-Nya.
.
Tak akan lekang ingatanku terhadap sosok Pak Ali yang dekil dengan baju tanpa sentuhan seterikaan tetapi begitu ceria ketika menceritakan anak-anak angkatnya. Maasyaa Allah, hanya itu yang dapat terucap dari lisan ini. Aku meyakini bahwa sesungguhnya Pak Ali dan Istri Beliau telah mempersiapkan istana mereka kelak di syurga firdaus-Nya Allah, Aamiin. Bukankah kehidupan sesungguhnya bagi muslim beriman adalah setelah hari penghisaban.
.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (gagal membukukan laba dalam bertransaksi dengan Allah), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya mentetapi kesabaran” (QS Al-‘Ashr [103]: 1-3).
.
Wallahu’alam bish shawab.
.