Oleh : Nafisah Asma Mumtazah
Penulis Idieologis
Gresik, Jawa Timur.

Disadur dari HARAKATUNA.com, (12/06/2020 ), Hasin Abdullah, Peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, telah menebar kebencian dengan memuat tulisan yang propokatif berjudul Resistensi Ulama Vs Deideologisasi. Disitu disampaikan, bahwa simbol perlawanan ulama tampak terang-terangan pasca pemerintah membubarkan paham Khilafah 2017 lalu, mengapa ulama kita hanya memandang bahaya laten komunisme, leninisme, dan marxisme saja ? Lalu, bagaimana dengan paham Khilafah yang ingin mereka tegakkan di negeri Pancasila ini ? Apakah semua idieologi sama-sama berbahaya ? Tentu, pasti.

Disitu juga dituliskan bahwa ditengah-tengah resistensi ulama radikal, agenda deideologi adalah pola strategis dalam upaya menangkal paham Khilafah yang berdampak terhadap perkembangan idieologi transnasional. Oleh karena itu, sumbangsi ulama moderat sangat dibutuhkan oleh negara untuk menyadarkan siapa pun yang membesar-besarkan komunisme hingga juga Khilafatisme.

Deideologisasi

Deideologisasi menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berhentinya proses pendalaman (penyebaran) Idieologi. Sedangkan deideologisasi dalam kontek deradikalisasi diartikan sebagai penghapusan idieologi atas agama, serta agama tidak dipandang sebagai idieologi politik melainkan dapat dipahami sebagai nilai-nilai luhur yang menyamai pesan perdamaian (Hikam Muhammad AS (2016) Peran Masyarakat Sipil Indonesia Membendung Radikalisme-Deradikalisasi. Jakarta: Kompas,hlm.vii).

Menyamakan Khilafah dengan idieologi Komunisme adalah sebuah kesalahan yang fatal. Karena perbedaan keduanya sangatlah jauh bagaikan bumi dan langit. Karena Khilafah bukanlah idieologi akan tetapi sistem pemerintahan Islam yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya berdasarkan Al Quran, hadist, ijma sahabat.

Jika merujuk arti deideologisasi di atas maka, proyek ini bukan hanya menangkal ide Khilafah tapi juga untuk menangkal Islam idieologis. Proyek ini menginginkan berhentinya terhadap pendalaman islam idieologis. Targetnya adalah Isam hanya sebatas ibadah ritual saja. Bahkan lebih rendah lagi, agar Islam diambil hanya sebagai ajaran yang memuat nilai-nilai luhur yang menyamai pesan perdamaian. Dengan kata lain, ajaran Islam yang dianggap tidak menyamai pesan perdamaian akan dimutilasi.

Islam bukanlah agama yang hanya mengurusi masalah ruqiyah saja, akan tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan, dari politik (siyasiyah) hingga urusan rumah tangga. Dengan kata lain Islam adalah akidah spiritual dan politik.

Akidah spiritual adalah akidah yang mengatur masalah yang berhubungan dengan akhirat seperti surga, neraka, pahala, siksa, dan dosa. Termasuk didalamnya ibadah shalat, haji, puasa.
Sedangkan akidah politik adalah yang mengatur urusan kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, pemerintahan, pendidikan, hukuman dll. Oleh karena itu Islam boleh disebut agama dan idieologi.

Sebagai agama dan idieologi Islam adalah ajaran yang mengadung akidah dan sistem ( aturan/ nizham). Akidah adalah keimanan kepada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, Hari Kiamat, dan Qadha dan Qadar, yang baik buruknya semata dari Allah Swt.

Sedangkan nizham atau syariat adalah kumpulan hukum syara’ yang mengatur seluruh manusia dan seluruh aspek kehidupan. Deideologisasi Islam yang digaungkan adalah upaya mereduksi nizham atau syariat yang berkaitan dengan kehidupan dunia ( politik, sosial, budaya, dll), sebagian besar akan dibuang dan akan disisakan sedikit saja, dan akan ditambahkan syariat Islam yang berkaitan kehidupan akhirat ( shalat, puasa, zakat, dll).

Akhirnya Islam menjadi mandul, hukum/ syariatnya tak mampu lagi menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi umat saat ini. Bahkan yang terjadi adalah problem semakin rumit, rakyat makin menderita, kesulitan semakin parah, kemaksiatan semakin merajalela.

Demikianlah ketika ayat-ayat Allah hanya diimani sebagian dan diingkari sebagian lainnya. Maka kehinaan yang akan ditimpakan kepada umat Muhammad Saw.

Sebagamana ALLAH Swt berfirman :

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain ? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” ( QS AL Baqarah (2):85).

Wallahu a’lam