Ditulis : Ummu Faiha

Kemarin di medsos ada yang posting video situasi jalan dan keramaian di tempat umum yang memang mulai padat. Yang membuat saya miris adalah komentar si pembuat video. Dia katakan saat itu tentang kondisi yang “sudah mau normal lagi”, yang dalam pemahaman saya, sepertinya pengunggah video menganggap virus sudah bukan ancaman lagi. Hmmm. Sungguh pemikiran yang menunjukkan kurangnya pemahaman.

        Semenjak muncul wacana New Normal, masyarakat menganggap bahwa keadaan sudah kembali normal. Hal ini didukung kondisi perekonomian di masyarakat luas yang mulai sulit. Mereka harus kembali bekerja meski harus melawan ketakutan akan penyebaran virus. New Normal sebagai tatanan hidup yang baru seharusnya dipahami sebagai perubahan perilaku untuk tetap beraktivitas normal dengan tambahan protokol kesehatan guna mencegah penularan covid 19. Hal ini yang disampaikan Wiku Adisasmita, ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 dalam laman kompas.com 25 Mei 2020 lalu. Faktanya di masyarakat belum sepenuhnya paham apa itu new normal. Yang dipahami umumnya, mereka sudah bisa kembali beraktivitas setelah beberapa waktu harus menahan diri dari berkegiatan di luar rumah.

        Sesungguhnya masyarakat kita adalah masyarakat yang patuh. Bisa kita  lihat di awal pemberlakuan PSBB, semua orang berusaha mengikuti prosedur yang berlaku. Jalanan lengang karena orang tidak keluar rumah bila tidak ada keperluan mendesak. Kesediaan pemerintah memenuhi hajat hidup selama masa PSBB menjadi alasan utama banyak orang harus keluar rumah untuk mendapat penghasilan, untuk menyambung hidup. Meskipun tak sedikit yang melakukannya sekedar mengisi waktu dengan kongkow. Tapi sekarang kenapa berubah seperti ini.. Acuh pada protokol bahkan terkesan sengaja melanggar. 

        Kondisi jenuh masyarakat menghadapi ketidakpastian PSBB menyebabkan mereka seperti ayam lepas dari kandang. Salah satu tempat yang cukup ramai didatangi saat awal beredar kabar New Normal adalah Tawangmangu. Daerah sejuk di lereng barat gunung Lawu. Masyarakat saat itu sampai menutup daerahnya agar tidak dilewati pendatang dari luar karena takut penyebaran virus.  Belum lagi di berbagai pelosok, anak-anak muda tetap nongkrong bareng sekedar ngopi di warung. Mereka lupa bahwa dengan ke-pede-annya itu berpotensi menjadikan dirinya 'carier' atau pembawa virus yang akan menyebarkan pada orang lain, seperti yang terjadi di Italia saat awal pandemi. 

        Sebetulnya apa yang membuat masyarakat berbondong-bondong ke luar tanpa peduli potensi penyebaran virus. Bahwa new normal bukanlah keadaan sudah kembali normal tapi keadaan normal yang baru. Tidak boleh ada kerumunan, tidak juga salam-salaman layaknya dulu saat bertemu teman, apalagi cipika cipiki. Tentu saja ketidakpatuhan ini juga akibat ketidakpastian berapa lama lagi harus  berada di dalam rumah. Faktor lain, karena banyaknya beredar berita maupun artikel yang berbeda dalam menyikapi keadaan. Ada yang pro dan kontra. Termasuk ketidakjelasan Pemerintah yang kesannya sering terburu-buru mengeluarkan statement yang belum matang. Wacana New Normal yang ditanggapi berbeda oleh berbagai daerah dan masih tingginya kasus, semestinya menjadi acuan kebijakan. 

        Baiklah, saya tidak hendak membahas kebijakan pemerintah yang dari awal 'keukeuh' tidak mau 'lockdown' sehingga penyebaran virus saat ini tidak bisa dikendalikan dan diminimalisir. Terbukti penambahan kasus semakin besar tiap harinya. Setiap keputusan pasti sudah dihitung untung ruginya, meskipun keuntungan akhirat karena mengikuti sunnah Nabi tidak masuk dalam pertimbangan. Yang jelas kita sudah terlanjur berada dalam lingkaran kasus yang telah menyebar dan dunia usaha sudah berteriak menuju kolaps. Satu-satunya opsi yang bisa diambil hanya menerapkan New Normal. Masyarakat, dunia usaha, dibolehkan beraktivitas normal kembali dengan menambahkan protokol pencegahan covid.  

        Lepas dari segala pro kontra, sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk tidak menjadi sarana atau penyebab suatu keburukan. Kalaupun terjadi penyebaran masif, jangan sampai ada peran kita di dalamnya. Kita diajarkan bersabar dalam menghadapi ujian, termasuk ujian pandemi ini. Sabar untuk tidak ikut menjadi bagian kerumunan dan sabar untuk menjalankan semua protokol pencegahan. Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan Muslim dari Abu Malik al-Asy'ari ra. disebutkan bahwa 'Sabar adalah Cahaya' karena 'Barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menjadikannya mampu untuk bersabar. Tidak ada pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran' (Mutafaq 'alaih, dari Abu Said al-Khudri ra).

        Sabar menghadapi cobaan dan ridha terhadap qadha adalah sikap mulia seorang muslim. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran (3):200 ; 'Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu.' Juga dalam QS. al Baqarah (2):155; 'Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar' karena Allah berjanji dalam QS. az Zumar (39):10; 'Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.' Begitu besar penghargaan diberikan bagi orang yang bersabar. Untuk menguatkan kesabaran, Allah berfiman dalam QS. Al Baqarah (2): 153; 'Hai orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar'. Dalam salah satu Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, dari Aisyah ra. bahwa 'aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang penyakit thaun, kemudian Rasulullah memberitahukan Sesungguhnya tha'un adalah siksa yang dikirim Allah kepada orang yang dikehendakiNya. Kemudian Allah menjadikannya rahmat bagi orang yang beriman. Maka tidaklah seorang hamba yang tinggal di negerinya yang tengah terjangkit tha'un, lalu ia bersabar dan mengharap ridha Allah, ia meyakini bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali perkara yang telah ditetapkan Allah, kecuali ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang syahid' Masyaa Allah. Tidakkah kita ingin mendapat pahala syahid? Allah mengampuni dosa orang yang syahid dan memasukkan mereka ke surga tanpa hisab. 

        Negara dalam kondisi wabah seharusnya melakukan lockdown sebagai upaya pencegahan penularan tercanggih karena langsung dicontohkan Rasulullah. Isolasi dilakukan untuk mencegah penyebaran sehingga mempermudah mencari solusi penanggulangannya. Tampak besar beban yang harus ditanggung karena harus mengurus segala keperluan masyarakat terdampak, tapi bila dibandingkan dengan beban yang harus ditanggung negara setelah wabah menyebar tak terkendali, sungguh tidak sebanding. Bagi rakyat terdampak, selain mendapat pemenuhan kebutuhan fisik baik pangan dan pengobatan, juga diberikan pendampingan ruhani. Negara memberikan penguatan akidah sehingga tumbuh keikhlasan dan kesabaran menghadapi ujian. Negara juga harus berperan agar masyarakat paham besarnya balasan atas kesabaran dari Allah yang sungguh luar biasa. Tentu saja selain bersabar juga dibutuhkan hal yang bersifat fisik. Masyarakat harus terus difahamkan bagaimana mereka menghadapi wabah ini secara ideologis yakni dari aspek akidah agar terbangun mentalitas produktif. Juga harus ada edukasi utuh tentang bagaimana menjaga imunitas dan ikhtiar untuk mencegah penularan virus. Begitulah Islam. Pendekatan yang dilakukan bersifat Holistic (menyeluruh) dan sangat manusiawi dalam menghadapi wabah. Dan sungguh, wabah yang Allah turunkan mendatangkan kebaikan bagi manusia karena mengingatkan mereka betapa lemahnya kita di hadapan Allah.    

Wallahualam Bissawab, ‘Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya