Oleh : Dien Kamilatunnisa

Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dr. Iwan Ariawan menyampaikan, dengan jumlah kasus yang masih terbilang tinggi maka penerapan new normal life beresiko tinggi terhadap makin masifnya penyebaran virus corona ( cnn.com, 22/06/2020). Pada tanggal 26 Juni 2020 saja, CNN mencatat angka 50.187 kasus infeksi di Indonesia.

Sejak diumumkan new normal life masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa. Meskipun ada beberapa pembatasan terkait dengan jam kerja, protokoler kesehatan, dan sebagainya. Ternyata angka pasien Covid-19 terus meningkat.

Di sisi lain menurut, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebut masih tingginya kasus baru Covid- 19 karena pelacakan yang dilakukan secara agresif (kompas.com, 20/06/2020).

Sementara itu, sejumlah pakar dan praktisi kesehatan menduga pembukaan sembilan sektor ekonomi dan wacana adaptasi kebiasaan baru atau AKB di tengah masyarakat menyebabkan kenaikan kasus Covid-19 di atas seribu per hari pada sepekan terakhir (bisnis.com,21/06/2020).

Pada faktanya masyarakat mengharapkan kehidupan yang adil dan sejahtera. Adapun terkait adanya krisis pandemi Corona maka peran penguasa dibutuhkan untuk memberikan langkah-langkah yang solutif.

Penguasa butuh merumuskan mekanisme dalam pengurusan rakyat seperti melakukan tes pelacakan, memastikan individu terinfeksi tidak menularkan ke yang sehat sehingga diperoleh data yang akurat mengenai jumlah orang-orang yang terinfeksi.

Disisi lain peraturan normal life disadari membuka peluang bertambahnya angka pasien covid-19. Oleh karena itu, pilihan untuk mengkarantina wilayah yang terkena covid-19 sangat dibutuhkan. Adanya karantina wilayah harus diikuti pula dengan kesadaran bahwa penguasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar warganya.

Kondisi saat ini membutuhkan peran penguasa sebagai pengurus urusan rakyatnya. Konsep penguasa sebagai pelayan dan perisai rakyat hanya akan ditemui dalam sistem Islam Kaffah. Wallahu a’lam bishawab.