Oleh: Novita Catur (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Di tengah pandemi Covid-19 yang saat ini belum usai dan masih dalam kurva tinggi, pemerintah memutuskan memberlakukan new normal. Seperti aktivitas ekonomi, sosial, dan sekolah dengan tetap menggunakan standar protokol kesehatan. Semua kegiatan ini diizinkan mulai dari bekerja hingga sekolah.

Dalam kebijakan ini, muncul kekhawatiran para orang tua terkait kegiatan sekolah. Yakni, bagaimana keamanan terkait kesehatan anak mereka nantinya. Padahal, tiap hari kasus covid-19 ini terus melonjak tinggi.

Kemendikbud menegaskan, hanya sekolah di zona hijau yang dapat kembali membuka pengajaran tatap muka di tengah pandemi corona.
“Hanya sekolah di zona hijau yang dapat membuka sekolah dengan tatap muka. Tanggal pastinya menunggu pengumuman mendikbud,” ujar Plt Direktur Jenderal PAUD, pendidikan dasar dan pendidikan menengah, Hamid Muhammad (tribunnews.com, 5/6/2020).

Zona itu tidak bisa di pertanggungjawabkan, muncul rasa was-was dan khawatir pada orang tua stres. Bahkan, banyak yang mengatakan lebih baik tidak naik. Yang bikin greget lagi, pemerintah mengatakan corona itu seperti sahabat. Hal ini menjadikan masyarakat sekarang bersikap sekarepe dewe, tidak peduli dan tidak patuh pada protokol kesehatan.

Banyak nyawa melayang tanpa ada perlindungan dari penguasa. Harusnya dalam pandemi ini benar-benar lockdown sejak awal bagi daerah yang terkena wabah, dan semua kebutuhan ditanggung negara. Tetapi, karena negara ini menganut sistem kapitalisme, maka yang dicari hanya materi belaka. Bersegera menerapkan new normal demi kembalinya roda perekonomian. Seolah nyawa rakyat, terutama anak bangsa tak ada artinya.

Ini bukti bahwa sistem kapitalis tidak bisa menuntaskan masalah. Sehingga, diterapkannya new normal agar rakyat kembali bekerja dan anak-anak kembali sekolah adalah kebijakan yang banyak menuai kritik. Meskipun hanya zona hijau saja yang diizinkan sekolah dengan tatap muka, namun yakinkah jika tak akan tertular dari daerah sekitar yang masih belum aman?

Benar, jika menuntut ilmu itu hukumnya memang wajib. Tetapi, menjaga nyawa itu juga kewajiban. Untuk memutuskan anak kembali sekolah, harus dipastikan keadaan sudah aman. Apalagi KPAI mengatakan, penerapan new normal di sekolah akan sulit mengkondisikan anak agar tidak berkerumun dan mau pakai masker.

Wal hasil, kesehatan dan keselamatan nyawa generasi kita terancam jika harus segera sekolah. Sangat lebih baik jika anak belajar di rumah dengan sistem online. Negara berkewajiban memberi fasilitas secara optimal dan gratis. Karena pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang wajib ditanggung oleh negara. Inilah aturan Islam yang bersumber dari Sang Maha Pencipta. Jika yang dipakai standart Islam, maka semua akan tenteram dan damai. Dan hal ini hanya akan bisa terwujud jika Islam diterapkan dalam sebuah negara secara Kaffah. Wallahu’alam bishowab.