Oleh: Nurul Irma N, S.Pd (Pendidik SMK)

Tak dipungkuri ada rasa rasa rindu menyelinap. Baik siswa maupun guru. Rindu bergelut dengan aneka aktivitas pembelajaran. Siswa rindu menatap wajah dan mendengarkan senandung merdu suara guru menjelaskan bab pelajaran, walau terkadang membuat mata sayup-sayup mengatup. Rindu bercanda dan mengoda kawan, kelak membuat kenangan terkenang. Guru yang merindukan berdiri di depan kelas, menatap wajah-wajah sumringah memancarkan semangat menyambut pelajaran. Meskipun ada saja wajah yang menggelitik, mendorong rasa penasaran menghampiri. Bahkan aneka kisah tersirat di sekolah, hingga tembang lawas Obbie Mesak selalu membekas. Ya, tiada yang bisa menggantikan suasana belajar di sekolah, sekalipun canggihnya teknologi tersedia lengkap di rumah.
Semenjak pandemi covid-19 melanda, pembelajaran tatap muka langsung digantikan dengan pembelajaran jarak jauh atau online. Berbagai kendala menyelimuti. Kekuatan sinyal yang tidak merata, kesulitan membeli paket internet, tipe handphone tak support lagi hingga terpaksa menggali lubang untuk menggantinya. Bahkan hingga ada mahasiswa merelakan diri untuk makan mie instant demi membeli paketan. Sungguh miris kondisi ini.
Rapuhnya Kebijakan Pendidikan
Sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat mencanangkan new normal life, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan, sekolah di zona hijau yang dapat kembali membuka pengajaran secara tatap muka ditengah pandemi virus Corona. Plt Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Hamid Muhammad saat dihubungi menyampaikan hanya sekolah di zona hijau yang dapat membuka sekolah dengan tatap muka. Tanggal pastinya menunggu pengumuman Mendikbud (Tribunnews.com, 4/6/2020).
Pembukaan pengajaran tatap muka di zona hijau tidak seperti kondisi sebelum pandemi covid-19. Pemerintah memberikan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Bagi lembaga sekolah, diminta menyiapkan alat tes ukur suhu tubuh, menyiapkan wastafel untuk cuci tangan disetiap kelas, mengatur bangku berkapasitas 15 siswa/kelas, menyediakan masker. Dari aspek siswa dan pendidik, ketika berangkat dan pulang sekolah dilarang berboncengan kecuali satu KK, wajib memakai masker, membawa bekal sendiri, membawa peralatan shalat sendiri, tidak diperkenankan pinjam meminjami perlengkapan sekolah. Dan masih banyak lagi kebijakan yang dipandang sangat merepotkan.
Zona merah dan kuning, menurut Evy Mulyani selaku Kepala Biro Kerjasama dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tetap diberlakukan pembelajaran jarak jauh. Untuk menunjangnya, Kemendikbud telah merekomendasikan 23 laman yang bisa digunakan tenaga pendidik sebagai sumber belajar. Selain itu, warga satuan pendidikan, khususnya peserta didik dapat memanfaatkan berbagai layanan yang disediakan Kemendikbud antara lain program belajar dirumah melalui TVRI, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak serta alat peraga dan media belajar dari benda dan lingkungan (Merdeka.com). Namun kebijakan inipun sangat kesulitan dalam implementasinya. Misalnya saja, pembelajaran melalui TVRI. Tidak semua wilayah bisa mengaksesnya melalui layar televisi hanya dengan mencari jalur UHF yang dijangkaunya.
Nampaklah, begitu rapuhnya sistem pendidikan negeri ini. Kebingungan dan tergagap, tak siap dengan kurikulum serta sarana dan prasarana saat pandemi melanda. Sistem pendidikan berlandaskan sekuler kapitalis, mengarahkan kehidupan materialis. Sehingga wajar diperoleh output minim skill, kurang beradab dan laksana robot yang siap dipekerjakan. Sebatas tulisan indah saja terpampang dalam banner visi dan misi disetiap lembaga pendidikan Mencetak generasi IPTEK dan IMTAQ. Tanpa ada langkah yang nyata dalam mewujudkannya.
Ketangguhan Sistem Pendidikan Islam
Islam memiliki sistem pendidikan yang terintegrasi secara menyeluruh. Islam memandang bahwa mencetak generasi yang rabbani, saintis, canggih teknologi dan cemerlang sebagai penentu peradaban haruslah diwujudkan. Ditentukanlah asas pendidikannya aqidah Islam, yaitu menjadi standar penilaian, sebagai kaidah atau tolok ukur pemikiran dan perbuatan. Memiliki tujuan pendidikan yaitu (1) berkepribadian Islam, (2) menguasai tsaqafah Islam, (3) menguasai ilmu kehidupan (sains, teknologi dan keahlian yang memadai). Adanya saling berkesinambungan visi dan misi bagi pelaksana pendidikan yakni pendidikan disekolah/kampus, dikeluarga dan masyarakat.
Model sistem pendidikan seperti ini, negaralah yang memiliki otoritas penyelenggara pendidikan bermutu, penyediaan dana yang mencukupi, sarana, prasarana yang memadai dan SDM yang bermutu. Dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pemerintah akan bertumpu pada dua elemen sistem besar, yakni ekonomi dan politik. Politik akan melahirkan kebijakan-kebijakan sementara ekonomi akan melahirkan pengelolaan sumber-sumber ekonomi dan dana. Kedua fungsi ini akan saling menunjang pelayanan umum (kesehatan, pendidikan, keamanan, infrastuktur) yang merupakan kewajiban negara untuk setiap warga negaranya.
Nyatalah terbukti sistem pendidikan Islam ini, di Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Muntashir di kota Baghdad, setiap siswa menerima beasiswa emas sebesar 1 dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian dijamin. Fasilitas sekolah lengkap beserta perpustakaan dan isinya, rumah sakit dan pemandian. Begitu pula Madrasah An Nuriah di Damaskus didirikan abad ke 6 hijriyah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Tersedia fasilitas asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan untuk siswa, staf pengajar dan pelayan serta ruang besar untuk ceramah. Dan jauh sebelumnya, Khalifah Umar bin Khattab memberikan gaji kepada guru yang mengajar anak-anak di Madinah sebesar 15 dinar (setara 31.875.000, dengan harga emas 1 gram 500.000).
Ketika sudah terbukti nyata menghasilkan generasi cemerlang yang mewujudkan peradaban tiada tanding, tak cukup layakkah untuk kembali menerapkannya?. Wallahu bishawab