Oleh : Dien Kamilatunnisa

Pandemi covid 19 belum dapat dipastikan kapan berakhirnya. Hal ini telah menyebabkan krisis ekonomi di berbagai negara di dunia. Menurut Kepala ekonom CIMB Niaga, Adrian Panggabean dibutuhkan solusi global untuk bisa mengatasi krisis ekonomi yang terjadi saat ini (republika.co.id, 27/04/2020).

Banyak usaha yang dilakukan untuk memulihkan kondisi ini. Salah satunya oleh Asian development Bank (ADB). Presiden Asian ADB, Masatsugu Asakawa bahkan meluncurkan panel tingkat tinggi beranggotakan para ahli di bidang ekonomi, keuangan dan kesehatan untuk membantu para menteri, gubernur bank sentral, dan pejabat senior dari negara- negara Asia Tenggara untuk mengidentifikasi langkah-langkah pemulihan pasca pandemi virus Corona (kontan.co.id, 11/06/2020)

Namun kondisi belum berubah meski sudah berbulan-bulan pandemi ini terjadi. Padahal berbagai teori sudah dipaparkan. Seperti pola pemulihan ekonomi yang dijelaskan oleh Schelzak, Reeves, Swartz (detiknews.com, 09/06/2020).

Oleh karena itu, sudah saatnya dunia kembali mencari solusi alternatif lainnya. Solusi yang bukan berdasar pada akal manusia tapi berdasarkan wahyu Allah SWT. Solusi berdasarkan syariat Islam kaffah.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas mengenai keberhasilan Islam dalam menangani wabah. Hal ini terangkum dalam buku Negara Khilafah: Dari Masa Rasulullah Saw Hingga Masa Bani Umayyah Jilid 2 halaman 7-8 karya Sheikh Muhammad Khudhari Bek.

Pada tahun 17 H, Umar hendak mengunjungi Syam untuk kedua kalinya. Ketika tiba di Sargh, dia ditemui para panglima militer. Mereka mengabarinya bahwa kawasan tersebut sedang dilanda penyakit menular. Setelah mendiskusikan dengan para sahabatnya, Umar membawa rombongan pulang. Karena Abdurrahman bin Auf berkata, mengenai soal ini, ada hal yang aku ketahui dari Rasulullah saw. Beliau bersabda: “Jika kalian mendengar ada wabah disuatu kota, maka janganlah kalian berada memasukinya, dan jika terjadi saat kalian berada didalamnya maka janganlah kalian lari keluar meninggalkannya”.

Setelah kepulangannya, wabah tha’un amwas semakin menggila, dan kawasan yang paling parah adalah Syam. Banyak orang yang meninggal didalamnya, Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Yazid bin Abu Sofyan dan lain-lain. Wabah ini belum juga berlalu hingga Amr bin Ash sebagai pemimpin mereka ( menggantikan Abu Ubaidah dan Mu’adz) berkata: “Saudara-saudara, penyakit ini bila sudah menimpa, maka dia akan menyala seperti nyala api, ada baiknya kita berlindung dari penyakit ini ke gunung-gunung”. Amr berangkat bersama orang-orang yang masih hidup dan terpencar-pencar didataran-dataran tinggi. Kemudian wabah tha’un menghilang atas izin Allah SWT.

Gambaran mekanisme penanganan wabah diatas terbukti ampuh dalam menangani wabah. Adanya lock down pada daerah terjangkit mutlak dibutuhkan. Penguasa pun mempertimbangkan aspek pengurusan rakyat jika lock down diberlakukan. Namun itu semua hanya bisa dalam sistem Islam, bukan selainnya. Ironisnya, sistem Islam selalu dijadikan tertuduh dan dianggap buruk dalam era sekulerisme sekarang. Jadi hukum siapakah yang lebih baik?

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah ayat 50)

Wallohu’alam bishawab