Oleh: Yudia Falentina, S. Hut (Pemerhati Generasi dan Sosial Masyarakat)

Duka muslim Rohingnya seperti tak ada habisnya. Dinegara Myanmar mereka tak diakui, dinegara Burma juga tak terdaftar. Hingga mereka terkatung-katung tak punya negara. Diusir dan disiksa di Myanmar. Sebagian dari mereka nekad mengarungi lautan demi mencari perlindungan.

Negara Malaysia adalah tempat favorit dikunjungi imigran. Kini dengan adanya covid 19 perdana menteri Malaysia menolak menerima muslim Rohingnya. Hal ini dikarenakan kondisi perekonomian Malaysia yang tengah kesulitan akibat pandemi covid 19. Hasilnya ratusan imigran Rohingnya terkatung-katung dilautan, tanpa bantuan makanan. Tak sedikit juga diantar mereka yang mati karena kelaparan, hingga dilarungkan kelaut sebagai kuburan (serambinews, 26/6).

Baru-baru ini nelayan Aceh telah menyelamatkan 94 orang imigran Rohingnya di perairan tepi Pantai Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara. Dari jumlah tersebut kebanyakan anak-anak dan perempuan. Mereka telah berada di perairan Aceh beberapa hari sebelumnya, sempat terkatung dilautan, hingga ditarik kedarat oleh warga setempat.

Salah seorang warga Aceh mengatakan kesediannya untuk menampung imigran Rohingnya dalam beberapa waktu kedepan. Kalau pemerintah tidak mampu, kami saja masyarakat yang membantu mereka, karena kami adalah manusia dan mereka adalah manusia juga dan kami memiliki hati,” tegas Syaiful warga setempat (pikiranrakyat, 27/6).

Mulia sekali hati masyarakat Aceh yang berani menampung, saat yang lain menolak. Semua berbekal rasa kemanusian dan cinta antar sesama manusia. Itu juga tak lepas dari kultur islam yang masih kental di daerah Aceh. Rasa persaudaraan muncul saat umat yang lain tak bisa menolong, mereka hadir sebagai penolong.

Ini persis yang terjadi pada zaman Rasulullah 14 abad yang lalu. Kaum Anshar menyambut gembira kaum Muhajirin dari Makkah. Dua suku yang tak bersaudara ini mampu saling melekat tanpa saling kenal. Rasulullah mampu menyatukan mereka dalam satu ikatan aqidah.
Dalam Islam, kaum muslim itu ibarat satu tubuh. Jika satu yang tersakiti, maka anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit juga. Sesuai dengan hadist nabi :

”Perumpamaan orang-orang yang beriman adalah saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sekat Nasionalisme jadi sumber Masalah

Semenjak kekhilafahan Turki Usmani berakhir tahun 1924, negeri-negeri muslim menjadi terkotak-kotak. Negara yang awalnya disatukan dalam pemerintah Islam menjadi terpecah belah menjadi banyak negara. Negara yang kaya raya mulai dijajah dan dirampok kekayaannya olah bangsa-bangsa Eropa.

Selain itu, masing-masing warga negara dipahamkan akan konsep nasionalisme atau cinta tanah air sendiri. Semangat membela tanah air terhadap aneka gangguan yang datang dari luar. Sementara jika ada negara lain yang dilanda krisis, mereka tidak bisa berbuat apapun, palingan hanya menghimpun donasi dan bantuan kemanusian. Lagi-lagi semua karena nasionalisme atau cinta tanah air sendiri. Padahal rasulullah telah bersabda :

“Bukan termasuk golongan kami, orang yang mengajak kepada ashobiyah, berperang karena ashobiyah dan mati karena ashabiyah” (HR Abu Dawud).

Nasionalisme sejatinya sebuah ikatan yang lemah dan tak akan mampu membangkitkan. Sifatnya temporal saja, hanya muncul ketika ada gejolak. Saat ada gejolak biasanya muncul istilah “gayang ini, gayang itu”. Setelah itu diam tak bersuara.

Berbeda sekali dengan ikatan aqidah dalam Islam. Sebuah ikatan yang amat sempurna, datang dari pencipta jagad raya. Tak pandang ras, warna kulit dan bahasa. Juga tak kenal kaya dan miskin umatnya. Asalkan islam atau muslim kita bersaudara.

Persaudaraan karena aqidah mampu meredam semua masalah, karena bersandar pada ketakwaan pada Allah SWT. Selain itu ada pemimpin yang menerapkan Aturan Allah dalam lingkup negara. Yang akan menjaga umat dari aneka ancaman yang ada. Hingga rakyat hidup sejahtera, jauh dari nestapa.
Wallahua’lam Bishawab.