Oleh: Nuryanti

Wabah Covid-19 yang memporak-porandakan ekonomi seluruh dunia belum juga berakhir, terutama di Indonesia. Bahkan dikhawatirkan, pasar akan menjadi klaster baru penyebaran Covid-19 ini. Ketua bidang keanggotaan DPP IKAPPI Dimas Hermansyah menuatakan saat ini terdapat 13450 pasar tradisional yang tersebar di seluruh tanah air.

DPP IKAPPI mencatat data kasus Covid-19 di pasar seluruh Indonesia adalah 529 positif corona dan 29 meninggal dunia belum ditambah laporan terbaru. Di Sumatra selatan terdapat 19 temuan baru kasus Covid-19 di pasar Kebun Semai Sekip Palembang. Dengan adanya wabah covid-19, banyak pedagang yang terpapar corona dan berdampak kehilangan mata pencaharian. Upaya pemerintah dalam menangani covid-19 di pasar yaitu mengadakan rapid test namun tidak semua pedagang dan pengunjung mau untuk dilakukan test.

Inilah bukti, bahwa negara seolah tak serius mengangani wabah ini. Maklum, sebagai penganut kapitalisme, menjadikan negara terlalu hitung-hitungan untung rugi dalam mengurusi urusan rakyat. Pemberian edukasi yang minimalis, membuat rakyat enggan melakukan tes. Belum lagi, pembukaan pasar dengan pemberlakuan new normal demi kembalinya perekonomian, mengakibatkan sebagian rakyat cuek dan menganggap seolah corona sudah tiada. Namun, di sisi lain rakyat pun gusar akan kemungkinan penularan di keramaian pasar.

Di masa Rasulullah SAW, jika terjadi wabah untuk yang terdampak wabah semua kebutuhan dipenuhi dari Baitul mal dan yang terjangkit wabah dilarang keluar dari daerahnya. Sebaliknya, wilayah yang tidak terkena wabah dilarang untuk mendatangi daerah yang terpapar wabah, dan tetap beraktifitas seperti biasa sehingga perekonomian tidak tersendat.
Dari Siti Aisyah RA beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal Thoun, lalu rasulullah memberi tahukanku Thoun adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Tetapi Allah menjadikannya rahmat bagi orang beriman, maka tiada seorangpun yang tertimpa Thoun kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharap ridhonya. Seraya menyadari bahwa itu ketentuan Allah untuknya, maka ia memperolah pahala seperti orang yang mati syahid.” (HR Bukhari, Nasa’i, dan Ahmad)

Hadist ini menjelaskan upaya lahir batin ketika muncul wabah seperti Covid-19 yang telah menyebar ke seluruh dunia termasuk di Indonesia. Wabah yang terjadi saat ini bukanlah azab, tetapi ujian atau cobaan yang Allah berikan kepada orang yang Dia kehendaki. Maka tak seorangpun mampu menghindari dari wabah tersebut. Jika Allah telah takdirkan, wabah tidak akan menimpa kepada orang yang Allah lindungi. Sebaliknya wabah tersebut dijadikan rahmat bagi orang yang senantiasa meyakini bahwa tidak ada yang terjadi di alam semesta ini melainkan atas pengaturan dzat yang Maha Pengatur.
Wallahua’lam bishowab.