Oleh: Ulul Ilmi, SPd (Aktivis Muslimah)

Perjuangan Tak Kenal Lelah di Tengah Wabah

Oleh: Ulul Ilmi, SPd (Aktivis Muslimah)

Penyebaran Covid-19, sudah memakan korban puluhan ribu warga Indonesia. Para tenaga kesehatan (nakes) pun tak luput dari serangan virus ini. Bahkan sejumlah nakes berturut-turut meninggal dunia. Berseliweran berita terkait meninggalnya pejuang kesehatan saat berjuang menghadapi pandemi covid-19 ini.

Sabtu (20/6/2020), diberitakan laman berita Surya bahwa dua tenaga medis di Sidoarjo meninggal dunia akibat covid-19. Mereka sehari-hari menjadi perawat di RSUD Sidoarjo. Sebelumnya, diberitakan pada Senin (1/6/2020) detiknews, seorang dokter di Surabaya juga meninggal. Salah satu spesialis penyakit dalam RS Adi Husada Undaan Wetan Surabaya meninggal dunia dengan status PDP Corona.

Berikutnya juga diberitakan detiknews (11/6/2020), Miftah Fawzy Sarengat, salah satu dokter penyakit dalam di RSU dr. Soetomo, meninggal dunia pada Rabu (10/6) karena terpapar COVID-19. Demikian juga diberitakan dilaman Tribunjatim, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengabarkan dua dokter meninggal dunia karena corona di Pulau Madura, Senin (15/6/2020).

Begitulah kondisi nakes, banyak berguguran di saat menjalankan tugas mulia. Tugas kemanusiaan, sebuah perjuangan yang luar biasa. Berjuang di medan perang, untuk melawan musuh. Namun musuh yang dihadapi tak nampak alias kasat mata. Begitu mengerikan.

Di saat semua orang diminta menjauh dan menjaga jarak dari pasien corona, justru mereka harus mendekat guna merawat pasien corona. Melayani segala kebutuhan mereka tanpa kenal lelah.

Begitu berat beban kerja nakes saat pandemi seperti saat ini. Dengan resiko tertular jauh lebih besar. Karena mereka pasti akan bersentuhan langsung dengan pasien yang terpapar.

Tidak hanya itu, mereka harus bekerja dengan dengan pakaian yang tidak biasa dalam waktu berjam-jam. Mereka harus terus berjuang dan bertahan. Mereka rela meluangkan waktu, berjuang sekuat tenaga untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Lantas, apakah sudah maksimal penjagaan dan pengamanan untuk para nakes?

Nakes Korban Buruknya Sistem

Adanya kasus kurangnya pasokan alat pelindung diri (APD) yang tersedia. Termasuk juga penggunaan alat pelindung diri yang kurang tepat, karena yang standar tidak tersedia akhirnya memakai alat ala kadarnya misalnya jas hujan. Padahal kwalitas jas hujan berbeda dengan APD yang sebenarnya. Hal ini semakin memperburuk keadaan para nakes.

Kondisi ini cukup memprihatinkan, mengingat banyak rumah sakit yang melaporkan kekurangan peralatan ini saat menangani wabah covid-19. Diberitakan di Tempo, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Dr. dr. Eka Ginanjar menuturkan, sampai saat ini tenaga medis di Indonesia masih kekurangan alat pelindung diri (APD).

Sekali pun sudah ada upaya pemenuhan tapi masih ada yang kekurangan. Seharusnya ini tidak boleh terjadi, karena nakes adalah pejuang garda terdepan dalam penanganan wabah covid-19 ini. Yang langsung bersentuhan dengan pasien corona, harus betul-betul dilengkapi dengan alat-alat pengamanan berupa alat pelindung diri (APD) dan alat-alat kesehatan (alkes) lainnya.

Biang Kebobrokan Adalah Sistem Kapitalisme

Dari hari ke hari kondisi negeri ini makin carut marut. Banyak fakta yang menunjukkan ketidakberhasilan sistem dalam mengatasi berbagai macam persoalan. Termasuk masalah kesehatan yang tidak kelar-kelar. Apalagi ditambah dengan hantaman wabah virus corona yang sudah berjalan sekitar tiga bulan lebih, terhitung semenjak awal maret. Persoalan kesehatan, perekonomian makin terseok-seok.

Tidak hanya Indonesia dunia pun mengalami keadaan yang hampir sama dalam penanganan pandemi ini. Kita bisa menyaksikan nampak pola penanganannya hampir sama di seluruh dunia. Termasuk ketika akhir-akhir ini diterapkan new normal life. Negara-negara di dunia memiliki kebijakan yang senada dan seirama.

Begitulah, karena memang saat ini seluruh dunia diatur oleh satu sistem kehidupan yang mendunia yakni sistem kapitalisme sekuler yang dikomando oleh AS. Sebuah sistem kehidupan buatan manusia yang memiliki landasan sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan), dan berorientasi pada tujuan kebahagiaan materi semata.

Penerapan Sistem Rusak Akan Merusak

Meninggalnya warga karena makin meluasnya penyebaran virus corona. Tak terkecuali meninggalnya para nakes karena tertular virus corona. Dan adanya berita karena kurangnya APD dan juga alkes lainnya dibeberapa rumah sakit. Ini menunjukkan kegagalan sistem kapitalis sekuler yang diterapkan saat ini untuk melindungi nyawa manusia dari serangan wabah.

Padahal seharusnya urusan nyawa manusia itu harus diutamakan. Dan harus serius dalam penanganannya. Terutama dalam menangani wabah yang bisa membinasakan umat manusia. Membutuhkan penanganan yang berbeda dan ‘istimewa’ dibandingkan dengan penanganan penyakit lainnya. Membutuhkan kebijakan yang bersinggungan dengan banyak orang, bukan hanya pasiennya saja.

Namun, nampak bahwa adanya kebijakan plin- plan selama wabah corona terjadi, menunjukkan buruknya sistem yang diterapkan saat ini. Upaya menyelesaikan persoalan wabah justru berimbas pada semakin menyebarnya virus ke berbagai wilayah. Tidak hanya itu, persoalan pun meluas tidak hanya kesehatan, sektor ekonomi, pendidikan, sosial dengan meningkatnya tingkat kriminalitas karena dibebaskannya narapidana pun mencuat.

Kemudian muncul kebijakan new normal life, ditengah masih tingginya angka penularan covid-19. Adanya kebijakan ini justru nampaknya mengarah pada herd immunity. Semakin amburadul tak tentu arah kebijakan negeri ini. Semakin menunjukkan watak asli sistem kapitalis sekuler yang rusak dan merusak.

Islam Alternatif Pilihan Atasi Kesehatan

Apabila kita berbicara urusan kehidupan dari sudut pandang keimanan, maka jelas sekali bahwa yang menciptakan alam seisinya ini adalah Allah swt. Sebagaimana firman Allah SWT dalam qur’an surah Al Baqarah ayat 284 ,” Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi…”.

Memahami ayat tersebut berarti, pada hakekatnya Allah SWT lah yang memiliki alam semesta ini. Allah pulalah satu-satunya dzat yang layak mengatur alam ciptaanNya. Tidak layak manusia membuat aturan sendiri. Harus mengembalikan urusan kepada sang penciptaNya.

Allah SWT sudah memberikan aturan yang jelas bagaimana mengelola alam ini melalui baginda Rasulullah Muhammad Saw. Beliau menjadi pemimpin negara dan mengatur seluruh urusan umat dengan syari’at Islam. Baik urusan pendidikan, kesehatan, ekonomi, pidana, pemerintahan dan lain sebaginya. Semua urusan dalam maupun luar negeri diatur berdasarkan aturanNya.

Islam sebagai sebuah sistem kehidupan yang khas dan unik memiliki kumpulan konsep kehidupan yang bisa diwujudkan dalam realitas kehidupan. Memiliki konsep yang bisa menyelesaikan problematika umat manusia dalam kehidupan. Termasuk dalam penanganan wabah.

Di dalam Islam ketika terjadi wabah, maka sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw yang intinya, “ketika suatu wilayah terkena wabah hendaknya yang di dalam tidak boleh keluar, sementara yang berada di luar tidak boleh masuk”. Sehingga Lockdown adalah bagian dari syari’at Islam dalam mengatasi masalah wabah dan memutus mata rantai penyebarannya.

Dimana penerapan lockdown akan dibarengi dengan menjamin kebutuhan dasar bagi warga yang di lockdown oleh negara. Yang dananya berasal dari kas negara. Sementara yang warga tidak dilockdown bisa beraktifitas seperti biasa sehingga ekonomi tidak lumpuh secara total.

Memang di dalam Islam, negara harus betul-betul memastikan bahwa hak dasar warga terpenuhi. Termasuk di saat adanya wabah pendemi. Baik kebutuhan dasar individu terkait sandang, pangan, papan, maupun kebutuhan dasar kolektif seperti kesehatan, pendidikan dan juga keamanan.

Jika kebutuhan dasar tersebut belum terpenuhi, maka menjadi tanggung jawab negara untuk menyelesaikan persoalan tersebut berdasarkan hukum syara’ (hukum Allah SWT). karena hal itu menjadi tanggung jawab negara. Yang kelak Allah SWT akan meminta pertanggungjawabannya.
Wallahu‘alam Bishawab