Agar Tak Salah Dalam Mencinta

Oleh: Yuyun Rumiwati

Cinta adalah anugerah. Dimana cinta berbuah rasa menyayangi, rasa memiliki, simpati dan empati. Bahkan cinta menghasilkan energi untuk berkorban bagi yang dicintai.

Cinta bisa terwujut dari orang tua ke anak atau sebaliknya. Cinta istri pada suami. Cinta sahabat ke sahabatnya. Atau cinta rakyat pada pemimpinnya. Atau cintai rakyat pada negerinya.

Kenapa cinta ini anugerah? Dapat dibayangkan ketika sang pemilik cinta (Allah), tak menitipkan potensi gharizah nau’ (naluri kasih sayang). Saling mencintai pada anak, sesama, orang tua. Jika tidak ada naluri ini, bisa jadi rasa abai dan tidak peduli menyelimuti diri. Sehingga yang ada hanya kepentingan pribadi. Atau berkorban jika ada manfaat materi. Itu yang tidak sadar diajarkan kapitalis saat ini. Tidak ada harga gratis dalam cinta. Di sana pasti ada nilai materi yang ingin di dapatkan.

Lalu, bagaimana jika ini terjadi pada orang tua, anak, terlebih pemimpin. Jika dalam bertindak hanya itung-itungan materi dan keuntungan untuk pribadi. Inilah yang mengotori cinta. Dan cinta tulus pun tak mampu ditangkap.

Di sisi lain, kadang cinta mengalir sebatas sesuai perasaan atau naluri. Dan tidak jarang diluapkan sesuai hawa nafsu (keinginan ) sendiri. Matian-matian kita berkorban untuk meraih cinta. Dan banting tulang untuk membahagkan yang dicintai. Namun, tak jarang lupa tanya bagaimana hakikat penuntun atau cara mencintai yang sesungguhnya. Ya cara mencintai sesuai sang pemberi anugerah cinta. Dialah Allahi Rabbi.

Akhirnya orang tua bekerja siang dan malam dengan untuk mengumpulkan uang dan tabungan untuk si huah hati dengan cara ribawi. Terjebak dalam muamalah yang tak terpikir itu syar’i atau tidak. Yang ada di benak “yang penting ini demi kebaikanmu kelak di masa mendatang nak.” Dan sungguh Eman jika segala pengorbanan dikeluarkan namun, belum tentu menjadi cara tepat untuk untuk mencinta.

Bisa jadi suami untuk membuktikan cintanya pada si istri dan tidak mau kehilangan dirinya dengan segala kesempurnaan fisiknya. Menuruti segala keinginannya. Mulai tuntutan yang primer, sekunder bahkan tersier. Meski secara nyata berat. Tapi demi cinta istri rela memutar otak siang dan malam untuk mencari tambahan penghasilan. Untung-untung jika dengan jalan halal. Lalu bagaimana jika, tercebur dalam penipuan atau salah penggunaan jabatan. Berujung pada korupsi dan sebagainya?

Bisa jadi rakyat atau sahabat pun kurang tepat mencintai. Diberikan waktu dan tenaga untuk pemimpin nya dan sahabatnya sesuai kemauannya. Yang terpenting aku tidak menyakitinya dan tidaj ditinggalkannya. Apalagi jika itu menyangkut hidup dan matiku secara ekonomi. Akhirnya jalan aman kita ambil “diam” terhadap kedzaliman atau ketidakadilan di depan kita. Bungkam dari upaya saking menasehati buah dari cinta.

Lalu, bagaimana agar cinta yang awalnya anugerah tetap terjaga dan membawa berkah?. Tidak berujung pada petaka dan saling menuduh kelak di hari akhir? Rumusnya sederhana, mari kita tanyakan kepada sang penganugerah cinta. Sang pencipta naluri manusia. Dialah Allah sang maha segalanya.

Allah turunkan seperangkat aturan dan sempurna. Yang dibawa nabi Muhammad tercinta. Dialah Islam jalan kemuliaan. Di sana cukup rinci bagaimana syariat indah mencintai suami istri, anak dan orang tua, rakyat dan pemimpinnya, sesama saudara seiman pun non mudim. Pun cara cinta terindah pada sesama ciptaan makhluknya alam semesta beserta isinya.

Cinta yang melahirkan hak dan kewajiban masing-masing. Cinta yang terbingkai karena iman. Terlahir karena niat ingin meraih Ridha Allah. Dan cinta yang ingin kita rangkai sesuai petunjuk Allah.

Dan prioritas cinta yang mutlak tanpa ragu dan kita berikan di atas segala-galanya adalah cinta pada Allah dan rasul-Nya. Dengan tepat meletakkan cinta utama ini. Akan terlahir semangat dan optimis untuk memberikan cinta pada yang lain sesuai porsi dan tuntunannya. Indah di awal, indah dalam proses. Indah di penghujungnya. Karena kita berikan hak-haknya sesuai yang Allah tuntun.

Memang tak mudah menjalaninya. Terlebih di sistem kapitalis yang menjerat manusia. Di satu sisi kita berusaha mencintai sebagaimana tuntunan Allah tercinta. Di sisi lain yang kita cintai tidak memahaminya. Akhirnya cinta pun ibarat sebelah tangan. Bisa salah paham. Atau bahkan salah memahaminya. Kenapa karena kaca mata memandang masing-mading belum seirama. Yang satu berusaha Syara’ yang satu masih tercampur gaya kapitalis sekuler.

Namun, bagaimana pun beratnya, bagaimanapun sulit dan besar tantangannya. Cara mencintai sesuai syariat-Nya lebih dari segala-galanya. Bisa jadi di dunia salah faham. Hingga cinta tak tersambut sebagaimana mestinya. Namun, alam sesudah dunia akan menjadi saksi bahwa tulus antar kita dengan yang kita cinta. Bahwa kita telah mencintainya karena Allah.

Berapa lama ujian di dunia, paling lama hingga seusia kita. Sedang sesuadahnya adalah alam yang terang dimana tak ada lagi salah paham. Yang ada adalah syukur atau penyesalan. Syukur karena kita telah saling mencintai karena Allah. Dan sesuai syariat-Nya. Atau penyesalan karena kita salah dan tidak tepat memberikan cinta. Hingga di dunia kita tak mendapatkan ketenangan dan di akhirat pun hanya penyesalan.

Tentu langkah termudah saat ini selama umur masih ada, mengenal Allah dengan segala tuntunan-Nya. Adalah cara terindah untuk memulai merangkai cinta hakiki yang ingin kita panen di hari akhirat kelak. Hingga penyesalan tiada bersama kita. Sehingga syukurlah yang ingin kita tunai di akhir hayat dan sesudah hayat kita di dunia.

Sebagai muhasabah bersama kita renungkan firman Allah dalam Qs. At-Taubah: 24

_Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik._