Oleh : Hery D Inkasaria ((Mahasiswi Ahwal Syakhsiyah Unismuh Makassar)

“Seksualitas kita terdiri dari seluruh jenis warna. Kita semua adalah gender, ras, dan usia,” jelas Gilbert Baker dilansir National Geographic.

Kutipan di atas adalah argumentasi yang katanya menjadi cikal bakal kenapa kaum warna warni yang lagiBT menjadikan pelangi sebagai jati diri.

Padahal pelangi adalah salah satu ciptaan Allah berikut lagu kanak-kanak yang dihafal luar kepala. Akhirnya karena label mereka, seolah saat bersenandung ria dengan lagu pelangi malah bikin mual.

Bukan warna pelangi yang terbayang, tapi perilaku penyimpang dan menjijikkan yang melayang dalam pikiran.

Klaimnya. Mereka berperilaku demikian karena perbedaan orientasi. Seni berekspresi. Selera seksualitas yang tinggi.

Menjadikan perbedaan dalam agama sebagai landasan. Seolah orientasi seksual adalah kewajaran. Nyatanya penyimpangan.

Ikhtilaf dan Inkhiraf itu berbeda. Ikhtilaf tentu sesuatu yang berbeda namun tidak keluar dari koridor syara. Inkhiraf atau penyimpangan jelas memaksakan kehendak berikut menyalahi syariat.

Tafsir itu relatif, tapi tidak mengandung perbedaan yang justru salah arti.

Misal saja. Musdamulia bilang pernikahan sejenis itu boleh, asal sakinah mawaddah wa rahmah.

Samawah menjadi pijakan. Sebagai perbedaan menjalin hubungan. Berbeda orientasi tak masalah. Asal Sakinah katanya.

Padahal bertentangan dengan ayat yang Allah murka dengan perilaku kaum Nabi Luth. Klaimnya sakinah padahal Al Faahisyah.

{وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ}

Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?” [Al-A’raaf: 80].

Jadi, bukan salah pelangi warna-warni. Tapi perilaku mereka yang bikin antipati. Tentu karna keji.

Alhasil. Untuk teman-teman yang turut bergerak menyuarakan boikot produk sana-sini.

Ada hal yang lebih mengerikan untuk segera kita boikot. Adalah HAM tameng yang membuat kita buta dan kadang jadi bolot.

Tentu tidak menyalahkan yang suka boikot. Setidaknya itu adalah salah satu cara dari banyak acara.

Tapi, coba mikir. Kenapa mereka masih tetap lenggang bahkan wara-wiri. Bahkan begitu vulgar dan berani.

Artinya, akar permasalahannya bukan soal maraknya lagiBeTe. Tapi apa yang membuatnya betah.

Sistem yang dianut termasuk yang diadopsi oleh negara kita bahkan dunia hari ini adalah Sistem Sekularisme Kapitalisme Demokrasi.

Sekularisme sejak awal sudah menutup hati agar urusan publik dan agama (pribadi) tidak boleh ikut campur sari.

Kapitalisme tentu menjadikan landasan segala sesuatu harus mendatangkan manfaat. Entah, bahkan harus menghilangkan nyawa. Meski buntung tapi kudu tetap untung.

Demokrasi. Ojelas menjadi cikal bakal kenapa HAM itu ada. Atas dasar mewakili suara dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Sehingga ketika ada rakyatnya yang menyimpang dan menyebar kerusakan. Yaa tetap harus difasilitasi, karna ia adalah hak asasi.

Jadi lengkap. Bahwa sistem ini jelas tidak mendatangkan kebaikan. Mau ngomong agama sudah dipalang dengan sekularisme, mau berbicara soal kemanusiaan karna banyaknya yang kena penyakit kelamin misalnya, malah terhalang dengan wajah asli Kapitalisme yang kondisi apapun tetap harus untung.

Walhasil. Ketika menyuarakan kebenaran menolak LagiBT pun akhirnya diranjau dengan dalih Hak Asasi Manusia.

Padahal Poligami dan Nikah Sirri dihujat sana sini. Eh giliran Zina malah bilang privasi. Di mana hati nurani.

Di sinilah pentingnya Peran Negara. Yang jelas harus menjamin kewarasan dan keamanan rakyatnya.

Sampai sini sudah paham yah. Urgensi perjuangan Islam Kaaffah dalam bingkai KHILAFAH ?!

Bahwa syariat Islam itu tak pernah buat kita merugi. Justru hadirnya untuk menjaga diri. Agar tetap suci.

Jadi sembari boikot produk, jangan lupa boikot Sistem Sekularisme Kapitalisme Demokrasi.

Menjadikan perjuangan menegakkan syariat Islam sebagai panggilan hidup penuh dedikasi.

Baarakallahu Fiynaa Jamiian