Oleh: Asri Mulya

Namaku Aisyah dan sahabatku bernama Dewi. Aku dipanggil Ais oleh Dewi. Kami bersahabat sudah hampir sembilan tahun. Hubungan pertemanan kami senantiasa terjaga meskipun jarak menjadi penghalang. Setelah hampir lima tahun tidak bertemu, karena aku selalu berpindah-pindah tempat tinggal, karena tugas suami sebagai abdi negara.

Dan kebetulan saat suamiku tugasnya kembali ke Jakarta, aku mencari rumah kontrakan yang dekat dengan Dewi, tidak lain agar kami bisa sering bertemu dan bisa saling curhat hehee.

“Assalamu’alaikum ….,” sahabatku, Dewi datang berkunjung ke rumahku.

Ia datang bersama ketiga putrinya yang cantik-cantik. Mengikuti Dewi yang wajahnya seperti orang India, mirip artis Kajol. Rambutnya hitam panjang, hidung mancung dengan kulit sawo matang. Karena Dewi ada keturunan India dari ayahnya.

“Wa’alaikum salam … Alhamdulillah akhirnya kita bisa bertemu lagi ya Dewi.” sapa Aisyah, sambil menjabat tangan dan cipika cipiki sahabatnya yang datang baru berjumpa lagi.

“Ais, kok badanmu semakin melar hehee,” Dewi mengkritik penampilan Ais, “Liat ni, badanku tetap langsing!”imbuh Dewi.

“Iya Dewi, padahal aku uda diet, tapi susah kurus hehee,” jelas Aisyah sambil tersenyum menanggapi penilaian Dewi.

“Jadi kita ngobrolnya depan pintu ni?” Keasikan ngobrol, Aisyah sampai lupa mempersilahkan Dewi dan anak-anaknya masuk ke dalam rumahnya.

“Oya-ya … ayo masuk Dewi!” Aisyah mempersilahkan Dewi dan anak-anaknya masuk rumah.

Anak-anak Dewi langsung akrab saat bertemu anak-anakku, karena memang mereka juga sudah saling kenal. Mereka sering ikutan nimbrung kalau aku dan Dewi sedang video call. Mereka main di kamar Adel anak pertamaku.

“Wah rumah kontrakannya besar juga ya Ais, pasti mahal uang sewanya?” Dewi merasa takjub melihat rumah kontrakanku.

Saat Dewi masuk rumah Aisyah, ia langsung keliling melihat bagian ruang rumah. Setelah itu kembali ke ruang tamu dan duduk.

“Alhamdulillah Dewi, ini rezeki Allah buat aku dan keluarga, dapat rumah besar dengan sewa murah.” jawabku.

“Oya, gimana usaha butikmu, masih lancar?” tanya Aisyah pada Dewi. Mengalihkan pembicaraan Dewi tentang rumah kontrakan.

“Ya Alhamdulillah lancar Ais, malah sekarang aku menambahkan baju-baju gamis dan kerudung, sebagai produk best seller” sahut Dewi.

“Alhamdulillah syukurlah kalau gitu, mudah-mudahan kamu nanti bisa pake baju gamis dan kerudungnya juga!” sahut Aisyah.

Aisyah selalu mengingatkan Dewi, untuk menutup auratnya memakai busana muslimah, dengan cara-cara santun dan santai, tidak menggurui. Dan itu yang membuat Dewi suka Aisyah, sahabatnya selalu mengingatkannya.

“Iya-ya Ais, mudah-mudahan saja aku cepat dapat hidayah,”

“Aamiin … sebenarnya hidayah itu dijemput, dengan usaha kita. Cara kamu menjual busana muslimah seperti itu, sebenarnya salah satu hidayah Allah. Menyampaikan secara tidak langsung, meski Dewi sendiri belum mau menutup aurat.”

“Memang sih, aku juga sebenarnya sudah ada niatan Ais, untuk menutup aurat,” sahut Dewi.

“Lantas menunggu apa lagi? Jika memang sudah ada niat baik segera lakukan, jangan ditunda-tunda. Umur kita gak ada yang tahu sampai kapan, mumpung masih diberi kesempatan sama Allah, gunakan itu untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Sudah jelas dalilnya bahwa berjilbab itu wajib dalam surat Al-Azab ayat 59 dan An-Nur ayat 31. Kamu bisa baca sendiri!” Jelas Aisyah panjang lebar.

Dewi mendengarkan dengan seksama penjelasan Aisyah. Ia kagum pada sosok sahabatnya yang semakin luas wawsan agamanya. Namun tetap rendah hati tidak sok-sok an menganggap orang lain rendah karena ilmu agamanya kurang, seperti dirinya.

“Sebentar aku siapkan minuman ya Dewi, mau minum apa?” tanya Aisyah pada sahabatnya.

“Biasa aja, jangan repot-repot, cukup teh manis hangat!” sahut Dewi yang suka buatan teh Aisyah karena harum lain dari yang lain.

Aisyah ke dapur membuatkan teh, tak lama kemudian kembali ke ruang tamu memberikan suguhan teh yang diminta, sekaligus memberikan cemilan untuk Dewi.

“Minum Dewi!” Aisyah mempersilahkan Dewi.

Setelah meminum teh dan mencoba cemilanku. Kami berdua kembali lanjut mengobrol ngalor ngidul. Tiba-tiba kami berdua melihat sekelebat bayangan hitam cepat sekali. Bergerak dari dapur menuju kamar mandi yang ada toiletnya. Kebetulan kamar mandi di rumah Aisyah memang ada dua. Satu khusus buat mandi, dan yang satu lagi khusus buat BAB.

Aku dan Dewi saling berpandangan satu sama lain, bengong sekaligus tidak percaya dengan yang baru saja kami lihat baru saja, hanya sekitar satu detik bagaikan kilat, bayangan hitam itu menghilang.

“Tadi apa ya Dewi?” Aisyah bertanya kepada Dewi.

“Lah aku pikir, aku aja yang ngelihat bayangan sekelibatan masuk ke WC.” ucap Dewi.

“Hiiii serem masa siang-siang ada setan sih?” sahut Dewi, sambil berdiri mau keluar rumah.

“Mungkin itu anak-anak kali ya, tadi mereka ada di kamar Adel kok tiba-tiba semua ada di teras ya?” sahut Aisyah.

“Mungkin karena keasikan ngobrol, kita jadi gak ngeh mereka keluar dan ada di teras sekarang,” timpal Dewi, “Coba Ais panggil anak-anaknya!”

“Adel …” panggil Aisyah pada anak pertamanya.

“Iya Bunda …,” Mbak di sini.

“Itu ada Adel di teras, Abyan kemana ya?” sahutku.

“Coba liat siapa tahu Abyan di kamar mandi!” saran Dewi padaku.

Dengan berat hati agak tegang, aku melangkah menuju kamar mandi yang sempat dimasukkan bayangan hitam tersebut. Maklumlah karena ini juga rumah kontrakan yang baru tiga hari kami tempati.

“Bismillah ….,” gumamku dalam hati, “Abyan …,” pangilku.

Yang dipanggil gak ada jawaban, semakin tegang saja hatiku saat lebih dekat di kamar mandi. Dan ternyata saat di dalam kamar mandi, ada Abyan sedang nongkrong BAB.

“Ya Allah, Abyan kok dari tadi bunda panggil diam aja sih?” tanya Aisyah pada Abyan.

“Abyan lagi ee,”

“Tadi lari ya masuk kamar mandinya?” tanyaku lagi pada Abyan.

“Iya tadi Abyan kebelet ee, jadi lari,”

“Ada-ada aja nih Abyan, lain kali gak usah lari kalau ke kamar mandi, nanti jatuh.”

Ternyata Abyan anak keduaku yang usianya tiga tahun. Dia memang suka sembunyi-sembunyi kalau mau BAB, tapi gak langsung masuk kamar mandi. Nanti kalau sudah kebelet baru deh dia masuk. Tingkahnya ada aja unik, dikira bayangan hitam itu setan, gak tahunya sekelebat larinya.