Oleh: Yudia Falentina, S. Hut (Pemerhati Generasi dan Sosial Masyarakat)

Tak terasa lebih dari tiga bulan kita mengalami masa pandemi covid 19. Akibat pandemi ini, kita banyak berada dirumah. Menghabiskan waktu dengan keluarga, melakukan pekerjaan yang tertunda, juga melakukan aneka hobi yang disuka. Salah satunya game online yang bertambah peminatnya selama pandemi Corona. Wajar bertambah karena banyak waktu yang tersedia, dari pada bengong mending main game aja. Begitu ungkapan para pecinta game online ini.

Game online merupakan sebuah permainan yang biasanya menggunakan jaringan internet serta teknologi seperti modem dan koneksi kabel. Game Online ini banyak sekali variannya. Mulai dari Dota 2, PUBG, League of Legends dan masih banyak yang lainnya. Soal bayaran ada yang bisa diakses secara gratis tapi tetap dikenakan biaya jika ingin naik ke level selanjutnya.

Menanggapi banyaknya efek negatif yang melanda gamer, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan kecanduan game termasuk salah satu gangguan mental. Pasalnya game membuat seseorang lupa waktu, asyik dengan aktivitasnya, menjadi enggan bergaul dan malas melakukan aktifitas lainnya. Terlebih games dengan genre kekerasan bisa saja mematikan hati seseorang.

Tak terbayangkan jika setiap hari melihat aksi kekerasan, adegan adu tembak dan darah berceceran. Tentunya ini nantinya akan mengikis rasa kemanusian dan menghilangkan rasa empati. Hal ini jadi pemicu pemain game melakukan aksi kejahatan didunia nyata, seperti tragedi penembakan jamaah sholat jumat di Australia. Selain itu beberapa game juga disertai konten-konten pornografi yang berbahaya bagi generasi. Ada juga kasus bullying yang terjadi sebagai akibat tontonan yang bikin rugi.

Pandangan Islam terhadap Game

Islam memandang bermain game sesuatu yang boleh dilakukan asal tidak melenakan. Karena memang tidak ada nash khusus yang mengharamkan. Sesuai dengan Kaidah Fikih “Hukum asal dari segala sesuatu adalah boleh atau mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkan.”

Jadi bermain game itu boleh-boleh saja dilakukan asalkan tidak berlebihan atau melalaikan. Tidak bikin lalai dalam ibadah, lalai dalam memenuhi hak-hak tubuh seperti istirahat dan tidur, makan dan minum teratur. Juga tidak lalai dalam pekerjaan dan hal lainnya. Hal ini sudah berbeda kasusnya jika menimbulkan kelalaian hingga mengakibatkan kecanduan. Ini yang menyebabkan hukum awalnya mubah berubah menjadi haram atau tidak boleh dilakukan.

Dalam Islam kita diajarkan untuk menggunakan waktu sebaiknya. Karena semua aktifitas kita akan diminta pertanggung jawaban di hari akhir kelak. Waktumu untuk apa kau gunakan, hartamu kemana kau belanjakan, anggota tubuhmu untuk apa yang gunakan dan aneka pertanyaan lainnya.

Jika waktu kita hanya dihabiskan dengan main game seharian, maka alangkah meruginya kita selaku manusia. Banyak melakukan hal yang sia-sia. Padahal sejatinya kita didunia hanyalah sementara, buat mencari bekal tuk menghadap rabbNya.

Pun, kita harus bijak dalam memanfaatkan teknologi. Karena teknologi ibarat pisau yang bisa berguna bagi kebaikan dan berbuat kriminal. Itu semua tak lepas dari pandangan islam terhadap perkembangan teknologi. Islam memandang teknologi berkembang sesuai dengan pelaksanaan hukum syara. Teknologi digunakan dalam rangka beribadah dan mensyiarkan islam.

Juga para generasi kita musti diselamatkan dari gempuran games Online yang banyak merugikan. Karena generasi muda adalah generasi penerus agama islam. Jangan sampai generasi kita dilenakan dengan bermain games hingga melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai generasi penerus. Jangan sampai games Online menjadikan generasi islam banyak Rebahan ketimbang memperjuangkan islam. Wallahu a’lam bi ash-showab