Oleh: Muliawati (Revowriter dan Tim Media Perempuan Hijrah)

Bulan syawal memiliki salah satu keutamaan, yaitu waktu yang baik melangsungkan pernikahan.

Seperti yang dikisahkan dalam hadist muslim dari istri Rasulullah, Aisyah RA.
“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam menikahiku saat bulan syawal dan mengadakan malam pertama dengan aku di bulan syawal. Manakah istri beliau yang lebih mendapatkan perhatian selain aku?” (HR. Muslim, An Nasa’i).
Jadi menikah di bulan syawal merupakan salah satu sunah rasul, di mana Nabi Muhammad SAW menikah pada bulan syawal.

Di masyarakat kita dan terutama dibeberapa daerah tertentu. Banyak yang menetapkan pernikahan dengan syarat dan ketentuan yang bercampur adat istiadat setempat. Sehingga pernikahan menjadi sesuatu yang sangat sulit dilangsungkan. Membuat para lelaki dan wanita yang sudah mampu menikah dalam pandangan agama, tetapi terhalang oleh adat dan istiadat sehingga pernikahan tertunda bahkan dibatalkan.

Hal yang sering menjadi hambatan adalah
dalam penentuan mahar dan dana yang dibutuhkan dalam perayaannya.

Sebagai umat Islam yang seharusnya menjadi standar kita dalam melakukan perbuatan adalah syariat Allah, bukan adat.

Pemberian mahar ini wajib atas laki-laki, tetapi tidak menjadi rukun nikah, dan apabila tidak disebutkan pada waktu akad, pernikahan itu pun sah.( Kitab Fiqih Islam hal.393)
Dalam Islam, Allah mengatur hal ini.
Firman Allah Subhanuwata’ala dalam surah An-nisa yang artinya:
‘Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.’
Jadi harus ada keikhlasan dari dua belah pihak. Dan adat seringkali membuat kita terperdaya dengan kebiasaan bermegah-megah dengan banyak mahar, sehingga bisa jadi pernikahan batal atau menjadi jalan melakukan keharaman yaitu berhutang sana sini atau berzina, untuk sebuah hal yang sebenarnya dimudahkan dalam agama. Na’udzubillah mindzalik.

Dari Aisyah . Bahwasanya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda, ‘Sesungguhnya yang sebesar-besarnya berkah nikah ialah yang sederhana belanjanya.’ HR. Ahmad
Kemudian tentang perayaannya. Sesungguhnya dalam Islam sudah dicontohkan pula oleh Rasulullah , orang yang menikah hendaklah mengadakan perayaan menurut kemampuannya.

Sabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam kepada Abdur Rahman bin Auf sewaktu dia menikah: ‘Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing'(HR. Bukhari dan Muslim).
Dan sebagian ulama mengatakan wajib mengadakan perayaan sedangkan yang lain hanya mengatakan sunah.

Allah telah memudahkan pernikahan itu, ketika syarat dan rukunnya terpenuhi. Memberikan mahar sesuai kemampuan, memasak hidangan yang cukup, tidak perlu mewah.
Tidak perlu memakan biaya yang sangat banyak karena memang sebenarnya yang kita cari adalah berkah Allah.

Walaupun dengan adanya wabah, banyak masyarakat tetap melangsungkan pernikahan, bahkan tidak semewah pernikahan yang biasa diadakan, tidak menjadi penghalang.

Allah menciptakan naluri nau’ untuk melangsungkan kehidupan manusia. Bagaimana menggunakan naluri tersebut, agar tidak menimbulkan masalah?maka Allah pun telah membuat aturan penyalurannya dalam syariat Islam.

Jadi barangsiapa yang menggunakan akalnya untuk berfikir, merenungi alam semesta, kehidupan dan manusia. Dan dengan akalnya mampu menjawab 3 pertanyaan besar dalam hidupnya. Darimana, mau apa dan mau kemana setelah ini?
Maka sampailah ia pada kesimpulan bahwa Islam itu bukan hanya sekedar agama tapi juga sebagai pandangan hidup, dasar kehidupan yang diatasnya dibangun aturan-aturan Allah.

Wallahu ‘alam.