Penulis: Nurul Izzah

Desir hembusan angin yang menghembuskan dedaunan Rumbia. Di sini, kembali Aku lukisan sebuah perjalanan kehidupan, Tempat di mana hari – hari terlewati semestinya. Dirumah yang beratap Rumbia dan dinding usang inilah Yang menjadi tempat berteduh, tempat menumpang kehidupan sebuah keluarga kecil di pedalam desa.

Di balik Sepoi – Sepoi kesejukan angin terdengar perbincangan sederhana keluarga kecil ini. Anak kecil masih berusia kurang lebih 10 tahun. Masih menginjak bangku sekolah dasar. Anak ini dengan penampilan kumuh dan wajah lesu, mulai berbicara dengan ibunya.

“Bu, Aku ingin seragam baru, pakaian yang Rani kenakan semuanya terlihat kumuh dan usang, kira – kira kapan ya ibu bisa beli yang baru?”

Dengan raut wajah sedih ibunya yang bernama bu Maya menyahut ucapan buah hati nya,

“Bersabar sebentar lagi ya, Nak, kalau misalnya panen di sawah kita sudah mulai bisa dituai ibu akan ganti keperluan kamu dengan yang lebih layak.” jawab ibu maya meyakinkan putri nya.

Terlihat jelas mata ibu maya yang berkaca-kaca. Bukan dia tidak mau memberikan keinginan putri nya. Namun,dia khawatir jika ucapan nya barusan menjadi harapan penuh kesenangan dalam lubuk hati Rani. Karena ibu ini tau mengganti perlengkapan seragam sekolah anaknya tidak mudah. Jika diharapkan hasil panen yang belum menentu. Bagaimana tidak,. Hanya sepetak tanah peninggalan almarhum ayahanda putrinya yang menjadi tempat menumpang hidup. Belum lagi keperluan adik – adik rani yang masih berusia 5 tahun, dan ada yang masih baru bisa merangkak.

Ayah Rani meninggal dunia tepat saat adik kecil Rani berusia 1 bulan.. perlahan langkahku mendekati rumah ini, yang beratap Rumbia, berdinding dipan dan beralas tanah yang nampaknya sudah padat. Hati kecilku merasa iba, tak bisa rasanya ku bendung air mata yang sudah hampir berjatuhan melihat pedihnya perjuangan hidup keluarga ini. Namun, kutekatkan keyakinan dalam hati, aku harus kuat terlihat baik – baik saja dihadapan adik kecil bernama Rani dan saudaranya yang lain. Yang terlihat dengan tenangnya bermain mobil – mobilan usang. Anak kecil ini masih terlalu kecil untuk memahami kondisi keluarga nya.

Demburan ombak memecah keheningan. Letak rumah ini tidak begitu jauh dengan tepian pantai. Menjemur ikan teri kecil merupakan kebiasaan masyarakat disini. Siang ini diatas alas tikar yang sulit kulukiskan, aku merebahkan sejenak penat . Pandangan ku tertuju pada atap rumbia yang sudah melapuk.. beberapa helai lainnya terlihat tidak layak dipakai. Dan yang menjadi sesak dikalbu ku disaat mata ku memandang sebelah utara bagian atap rumah. Disana beberapa atap sudah diterbangkan angin, rumah yang letaknya dekat pantai ini terkadang angin yang berhembus mampu menerbangkan beberapa atap rumah Rumbia.

Rintik-rintik hujan mengguyur pedalaman ini, khusus desa dimana rumah ibu maya dan anaknya Rani serta adik adiknya tinggal. Kondisi seperti ini bukan hal baru dalam keluarga ini. Menjalani hidup yang penuh ujian dan tempaan, bukan lah hal yang mudah. Beruntung sekali Rani dan saudaranya memiliki ibu yang sangat bijak dan penyabar. Menjadi wanita hebat dihadapan anak-anak nya. Detik berlalu semestinya kini rintikan hujan sudah reda. Di atas lantai tanah yang beralas tikar yang alakadar ini ibu maya menghidangkan makanan untuk anak-anak nya. Berlauk daun singkong rebus dan ikan asin hasil jemuran tetangga yang beberapa waktu lalu sempat disedekahkan kekeluarga ini. Mentari sudah mulai condong ke ufuk barat. Cahaya senja yang begitu indahnya.. aku menikmati suasana pedesaan ini, dihadapan bentangan laut yang luas sambil mengajak Rani. Ingin menghapus sejenak lelahnya pikiran Rani yang harus menerima ujian hidup disaat dia masih menginjak bangku sekolah dasar. Senang rasanya, ketika kulihat raut wajah senyuman nan indah dari Rani. Gadis kecil, meskipun penampilan kumuh nya aku yakin suatu saat dia pasti jadi gadis sukses dan hebat. Pandangan ku menatap lekat wajah adik ini..mulai kuajak dia bercerita tentang kehidupan nya.

“Dik, senang ya bisa main-main seperti ini?”

“Iya kak Rani senang” jawaban singkat Rani dengan wajah tersipu malu.
“Dik, kira kira kalau Rani besar nanti mau jadi seperti apa coba?” Aku kembali melontarkan pertanyaan.

“Eum, apaa yaa? Rani ingin jadi anak yang sukses, Kak” jawab Rani dengan wajah lugunya dan ucapan polos yang dia lontarkan.

“Itu baru namanya anak baik, Rani mau sukses, berarti harus semangat dong belajar nya, rajin ke sekolah, iyakan?” Sambil memberikan senyuman aku menatap dan meyakinkan Rani.

“iya Kak pasti” jawab Rani.

Ufuk senja pun semakin memudar, ini tandanya sebentar lagi suasana beranjak pergantian untuk menyambut malam. Akupun mengajak rani bergegas pulang ke rumah. Di balik reotnya rumah yang beratap daun rumbia ini aku menikmati malam ini. Di luar sana, terlihat syahdunya suasana langit yang bertaburan bintang dengan kedipan yang elok. Dan sang rembulan yang memukau. “Meskipun kondisi tempat seperti ini kami masih bersyukur, masih punya tempat untuk berteduh,. Begitu banyak anak diluar sana jangankan untuk tempat tinggal, mereka terkadang terpisah dari sanak keluarga. Dan harus bertahan hidup dengan cara yang terkadang menyayat kalbu, Ucap ibu maya meyakinkan hati nya.

Namaku salsa salah satu mahasiswa yang ditugaskan untuk mengabdi pada masyarakat dalam beberapa waktu kedepan. Malam pun semakin sunyi dan perlahan mataku terlelap. Keesokan harinya kembali aku melangkah di pedalaman desa ini, menghirup udara segar pedesaan. Dan indahnya hamparan bentangan pasir putih di pinggiran pantai. Kalbuku berkata, ada banyak hikmah dibalik tempat yang aku tempati saat ini. Menjalani kehidupan yang layak dan mewah terkadang membutakan langkah. Namun, berbeda dengan Aku. Disini kalbuku berniat untuk mampu memberikan hal layak untuk keluarga ini. Terutama untuk Rani, hari hari di desa ini hampir berakhir, kuberikan sebuah kado terindah.
Untuk Rani, kuberikan sepaket perlengkapan belajar untuk dia. Dari seragamnya, hingga alat tulis. Disini kutitipkan pesan untuk adik kecil ini,” Dik, jadilah kebanggaan ibumu yaa,, ingat harus rajin ibadah, rajin belajar, bantu keluarga juga ya, suatu saat kamu pasti sukses! Ingat pesan kakak ya.” Hari ini adalah moment mengharukan antara aku dan keluarga kecil ini. Berat rasanya meninggalkan pedalaman dan keluarga yang sudah kuanggap seperti orang tua sendiri. Langkahku pun beranjak meninggalkan tempat ini. Dengan membawa segudang kerinduan dan kenangan.

Tahun berlalu, waktu berjalan semestinya, detik demi detik sudah berlalu. Sekarang aku menjadi seorang guru bidang studi di sekolah favorit kota besar. Hari ini adalah hari pertama aku mengajar, bertemu dengan siswa baru, keadaan baru, dan lokasi yang nyaman di sini, di sekolah ini aku dipercaya mengajar kelas unggul.

Bel berbunyi, menandakan pelajaran pertama akan dimulai. Langkah ku dengan penuh semangat menghampiri kelas unggul. Dan satu persatu nama diabsen mulai kupanggil. Kemudian ada rasa yang berbeda di lubuk hatiku saat kulihat nama siswi Rani. Kupanggil dan dia menyahut dengan suara yang pernah kudengar akrab. Entah dari mana … Kemudian disaat satu persatu siswa dan siswi memperkenalkan diri tiba giliran Rani.
“Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh, perkenalkan nama saya Rani, berasal dari daerah pedalaman. Saya salah satu siswi yang terpilih sebagai siswi berprestasi. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.”
Pandanganku langsung buyar, aku yakin ini adalah adik kecil yang dulunya pernah hadir dalam hidupku. Dengan langkah penuh kerinduan aku menyapa dia. Ternyata memanglah benar, siswi ini adik kecil Rani yang dulunya tinggal di rumah reot beratap Rumbia yang sekarang menjadi siswi berprestasi. Tetap menjadi kebanggaan bukan hal yang mustahil, meskipun kita berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, menjemput kesuksesan adalah ikhtiar kita yang kita memohon lewat doa untuk disatukan antara harapan dan keinginan hidup. Rani kecil sekarang mampu menggapai cita cita yang pernah dia lukisan beberapa tahun yang sempat jadi harapan. Dan sekarang menjadi kenyataan yang dia rangkul erat dalam hidup.
Roda kehidupan terus berputar, terkadang kita berada di titik paling terendah, itu bukan untuk menjadi kan kita pribadi pesimis. Namun disaat kita berada di titik tersebut, berjuang lah! Yakinlah bahwa sang Khaliq ingin mengangkat engkau siapapun engkau kederajat yang lebih baik sebelumnya. Memang butuh proses, maka jangan mudah menyerah.
Ketika roda kehidupan memberikan kita posisi yang terunik dan mengagumkan. Jangan berbesar hati. Karena semua ini akan berjalan, terkadang di bawah, di tengah, di samping dan bahkan tertinggal beberapa langkah. Namun jangan menyerah jadilah pribadi tangguh.. jalan sirat langkah perjalanan hidup semua sudah tertulis di lauhul Mahfudz. Tugas kita berikhtiar, biarkan Allah yang menentukan.

*****

Biografi Penulis

Nama lengkap: Nurul Izzah
Tempat, tanggal lahir : Awe Geutah, 02 Januari 1999
Domisili kota : Aceh, Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen.
Profesi : Mahasiswi Institut Agama Islam Almuslim Aceh. Paya Iipah, Fakultas tarbiyah, prodi pendidikan Agama Islam.

Motivasi Menulis : Ingin Mengembangkan potensi, melalui karya tulis. Seperti ditukilkan sebuah ungkapan bijak dari kalangan ulama terdahulu yaitu ” Jikalau engkau bukan anak ulama, atau bukan dari kalangan keluarga terpandang, maka jadilah pepenulis. Dan namamu akan dikenal dari hasil karya mu.”