Oleh: Yuyun Rumiwati

Ibadah hamba-Ku yang paling aku cintai adalah memberi nasehat (hadist Qudsi riwayat Thirmidzi). Maha kasih dan sayang Allah yang memberikan aturan terbaik-Nya bagi manusia.

Betapa, Allah sang maha pencipta maha tahu akan hakikat sifat manusia sebagai mahluk ciptaan-Nya. Khilaf dan lupa adalah fitrah manusia. Sehingga amat butuh pengingat. Dan lewat kewajiban saling sehat menasehati proses mengingatkan terjadi.

Di sistem kapitalis, dimana kebebasan diagungkan, imbasnya sifat egois pun rawan menerpa manusia. Tak heran ketika nasehat dan peringatan datang dari sesama dianggaplah menyampuri urusannya. Bahkan, sang penasehat pun dicap sok suci dan paling berhak masuk surga.

Di samping berefek pada sulit menerima nasehat. Efek Kapitalisme demokrasi pun, kian membuat manusia enggan dan takut memberi nasehat. Apalagi jika hidup di wilayah yang kritik dianggap ujaran kebencian, bisa dibayangkan kian ciut nyali sebagian manusia untuk empati dan saling menasehati.

Andai kita tahu bahwa nasehat adakah cinta. Yang menjaga kita dari segala salah dan lupa. Tentu tak mudah kita meninggalkan sahabat yang sabar mengingat kita.

Sekali saja, kita salah meninggalkan mereka yang mencintai kita karena-Nya. Ibarat kita telah merobohkan benteng pertahanan iman dan takwa kita agar tetap Istiqomah terjaga atas izin-Nya.

Jika Allah saja, dalam Qur’an Al-ashr menyampaikan salah satu sifat orang yang tidak merugi adalah mereka yang beriman dan saling sehat menasehati dalam kesabaran. Itu artinya Allah sangat maha tahu kebituhan manusia.

Namun, lagi-lagi manusia dengan sifat “sombongnya” kadang sulit menerima nasehat dan enggan memberi nasehat.

Karenanya berbahagialah siapa saja, yang Allah lembutkan hatinya untuk nenerima nasehat. Dari siapa pun, dari mana pun. Selama itu kebaikan ia terima. Ini mutiara termahal. Betapa hati yang tak ikhlas sulit untuk fokus pada konten nasehat. “Emangnya siapa lho menasehati gue”, mungkin itu kalimat simpel kesombongan pembentang nasehat.

Belum lagi faktor figuritas yang lebih mendominasi. Melihat siapa yang menyampaikan dari pada apa yang disampaikan. Jadilah kita pilah dan pilih dengar kebenaran.

Betapa sahabat terbaik Rasulullah khulafa’ur Rasyidin mengajar kan jiwa lembut terhadap nasehat ini. Tak heran jika sosok pemimpin besar Umar yang disegani musuhnya, bahkan ditakuti syaithan. Sungguh Umar amat rindu dengan nasehat dan kritik rakyatnya.

Begitu pun, Khalifah Ali bin Abi Thalib yang terkenal keutamaan ilmunya. Mengajarkan pada kita. Undur mas qoolaa wa laa tandur man qoola, “Lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.

Bisa jadi ketika Allah menghendaki kebaikan untuk kita. Allah ajarkan kebaikan itu dari orang yang paling tidak kita suka. Agar kita bisa tunduk setunduknya atas kebenaran Allah semata. Bukan tunduk karena keinginan dan kecenderungan nafsu kita, yang cenderung lebih mendengar dari mereka yang kita anggap lebih mulyan. Entah dari sisi ilmu pun kehormatan dunia. Padahal hanya Allah, yang paling tahu siapa yang paling Mulya.

Betapa, tak mudah menerima nasehat kecuali bagi hati yang ikhlas dan tawadzu’. Hati yang sadar siapa hakikat dirinya. Hanya makhluk lemah tak bisa berbuat apa dan tak punya apa-apa. Selain yang Allah titipkan sementara. Entah harta, ilmu, jabatan , ketenaran dan sebagainya.

Jika bukan kasih sayang-Nya, amat mudah Allah membuka aib-aib kita. Hingga tak ada celah dan layak pujian untuk kita. Tapi sungguh, kecintaan Allah selalu menjaga hamba-Nya.

Wahai jiwa bercerminlah, wahai hati dan wajah merunduklah serendah sujud mu di hadapan-Nya. Hingga sombong, congkak, bangga diri, dan segala penyakit hati tak membutakan nasehat.

Semoga Allah ikatkan hati umat rasulullah Muhammad dengan cinta karena Allah dan rasul-Nya. Dalam ikatan kokoh laa Ilaha illallah. Persatuan hati, satu umat, satu daulah dalam satu kepemimpinan Kholifah pun segera terwujud atas izin dan Ridha Allah. Aamiin.