Oleh: Indriyatul Munawaroh (Aktivis Muslimah)

Cukupkah Boikot Unilever?
Oleh: Indriyatul Munawaroh (Aktivis Muslimah)

Sejak Unilever menuliskan dukungannya kepada komunitas LGBTQ di Instagram tanggal 18 Juni lalu, banyak terjadi pro dan kontra terutama di kalangan masyarakat Indonesia. Berbagai tanggapan pun disampaikan di kolom komentar instagram unilever. Diantaranya akun @aesthetichaeyoung menuliskan ini 2020 gues, LGBT is literally everywhere, kalau gak suka ya udah diem aja, gak usah spread hate. Inget respect ama support itu beda, kalo gasuka, yaudah diem aja, respect.

Ada juga yang menyerukan untuk berhenti menggunakan produk Unilever seperti tulisan akun @roshintarasyid, Indonesian, let’s stop buy unilever product (Masyarakat Indonesia, ayo berhenti membeli produk unilever). Dan ada juga yang tidak setuju seperti @arkn_killsyou, Halah sok-sokan boikot coba ada promo di supermarket juga diembat.

Seperti kita ketahui ada tiga komitmen unilever untuk dukungannya itu, yaitu Unilever mengambil aksi dengan menandatangani Declaration of Amsterdam untuk memastikan setiap orang memiliki akses secara inklusif ke tempat kerja, Unilever juga membuka kesempatan bisnis bagi LGBTQ sebagai bagian dari koalisi global. Selain itu, Unilever meminta Stonewall, lembaga amal untuk LGBT, mengaudit kebijakan dan tolok ukur bagaimana Unilever melanjutkan aksi ini.

Menanggapi dukungan unilever pada kaum menyimpang ini, MUI (Majelis Ulama Indonesia) pun buka suara. Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain. “Saya selaku ketua komisi ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever”. Menurut Azrul, kampanye pro LGBT yang tengah gencar dilakukan Unilever sudah keterlaluan dan sangat keliru. Azrul juga menyayangkan keputusan Unilever untuk mendukung kaum LGBT (Republika, 29/06).

Unilever Tak Sendiri

Selain unilever ada 200 perusahaan lain di dunia yang telah menunjukkan dukungannya pada kaum ini, diantaranya yang familiar adalah Apple Inc, Microsoft Corp, Google Inc, Coca-Cola, Walt Disney, Visa, Yahoo Inc, Chevron Corp, Ford Motor co, Nike Inc, eBay Inc, Dell Inc, Motorola Inc, dan masih banyak lagi (hops.id).

Sebagai seorang muslim yang paham akan ajaran Islam bahwa perbuatan homoseksual dan turunannya adalah haram dan sangat dibenci oleh Allah SWT, maka wajar jika keinginan untuk memboikot produk Unilever muncul. Sikap ini adalah realisasi dari keimanan itu sendiri. Dimana seorang muslim akan menolak perbuatan mungkar melalui lisan, perasaan dan perbuatannya.

Memang membuat aksi boikot akan merugikan produsen, tapi tidak ada jaminan bahwa dukungan terhadap kaum LGBT akan dihentikan. Faktanya di era saat ini yang berlandaskan kapitalisme, perusahaan-perusahaan multinasional yg mendukung LGBT berpijak pada paham liberalisme. Dimana dari liberalisme inilah ide HAM (Hak Asasi Manusia) muncul dan dengan dalih HAM kaum LGBT mendapat legitimasi. Selain itu dari paham liberalisme yang diagungkan inilah yang memberi lahan subur bagi bisnis mereka.

Solusi Tuntas

Perlawanan terhadap LGBT tidak bisa hanya dilakukan secara individu dengan memboikot produknya saja, akan tetapi harus dilakukan dengan upaya sistematis. Karena kaum ini muncul dari paham yang mengagungkan kebebasan maka haruslah dengan menghapus paham liberal ini. Dimana saat ini paham liberlisme hidup dalam sebuah sistem bernama kapitalisme-sekuler. Sistem yang sudah menguasai semua lini mulai individu, masyarakat hingga institusi pemerintahan.

Sistem inilah yang perlu ditelanjangi kebusukkannya. Kemudian diganti dengan ideologi Islam yang melahirkan individu, masyarakat, dan institusi yang taat dan menebar rahmat. Islam telah memberikan gambaran yang jelas bagaimana manusia harus berbuat di dunia ini. Salah besar jika ada yang mengatakan agama khususnya Islam itu mengekang. Justru Islam sangatlah adil dan lengkap tuntunannya. Ketika seseorang akan berbuat sesuatu Islam memberikan petunjuk dan batas-batas sampai mana kebolehannya.

Aturan inilah yang akan memberi rahmat bagi kehidupan manusia. Karena jika manusia dibiarkan berbuat sesuka hatinya tanpa ada batasan benar dan salah maka akan membawanya pada lubang kehinaan dan penderitaan, baik di dunia dan akhirat.