oleh : Pita N. (aktivis mahasiswi)

“Penyimpangan yang dibiarkan akan jadi Kewajaran kemudian Kerusakan”. Pernyataan ini selaras dengan adanya penyimpangan LGBTQ+ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender and Queer) di dunia saat ini terkhusus di Indonesia. LGBTQ+ menjadi keresahan masyarakat. Sebab dukungan LGBTQ+ semakin masif dilakukan. Beberapa waktu lalu, salah satu perusahaan besar yakni Unilever membuat pernyataan dukungan kepada LGBTQ+ diakun resmi Instagram. Selain Unilever masih banyak perusahaan besar turut mendukung LGBTQ+. Seperti Apple, Google, Facebook, Youtube, Instagram dll. Aplikasi berbagi foto, Instagram semakin menunjukkan dukungan kuatnya dengan adanya hastag berwarna pelangi ‘#LGBT’ yang muncul saat hari Pride Day atau pawai kebebasan. Hingga kini, dukungan terhadap LGBT itu makin menguat dengan menambahkan fitur ‘pride’ dalam sisi awal story Instagram, sekaligus juga terlihat dalam bentuk sticker dalam story.
Aksi Unilever melakukan pernyataan dukungan menuai kecaman banyak pihak terutama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk memboikot dan beralih pada produk lain. “Saya selaku ketua komisi ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever,” kata Azrul. (Republika, Ahad (28/6))
Masalah LGBT adalah masalah kesehatan jiwa dan tegas dinyatakan di buku pedoman kesehatan jiwa Indonesia. Menurut Neuro psikolog dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ihshan Gumilar menegaskan lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) adalah penyakit mental. “LGBT adalah penyakit mental dan bukan disebabkan oleh faktor biologis atau bawaan lahir. Pasti ada kejadian (yang membuat seseorang menjadi LGBT),” ujarnya saat Forum Koordinasi anggota Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi (GTP3) bertema Pornografi dan LGBT,Kementerian PPPA, di Jakarta, Senin (30/1).( Republika.co.id 30/1/18). Beberapa penelitian juga telah menunjukan efek negatif dari praktek seksual bagi kelompok ini, seperti, Kanker Dubur, Kanker Mulut, Meningitis (radang selaput otak) hingga HIV/ AIDS . Tak hanya dari segi kesehatan saja. LGBT membawa dampak buruk bagi kehidupan sosial diantaranya, penghancur hubungan keluarga, gangguan mental psikologis, mempengaruhi anak-anak dll. Sehingga penyakit LGBT memang harus diberangus sampai ke akar-akarnya.
Aksi boikot adalah salah satu bentuk penolakan LGBT, namun sayangnya tidak ada jaminan bahwa dukungan terhadap kebobrokan LGBT akan dihentikan. Faktanya banyak negara barat sudah menganggap LGBT sebagai hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Sebab negara barat memang menganut asas liberalisme. Penerimaan LGBT di Barat ternyata menuntut pula untuk penerimaan di dunia Timur. Apalagi kehidupan hampir seluruh negara dunia berasas kapitalisme sekuler sehingga dengan massif LGBT diterima dan dikampanyekan keberadaannya. Karena dominannya kapitalisme, LGBT memberi lahan subur bagi bisnis perusahaan besar. Maka wajar perusahaan besar itu tak segan mendukungnya.
Perlawanan terhadap LGBT harus dilakukan dengan upaya sistematis menghapus faham, sistem, individu dan institusi/lembaga liberal. Tanpa itu mustahil LGBT dihapuskan. Sistem yang mampu menghapuskan LGBT yakni sistem Islam. Sistem ini akan menindak tegas perilaku LGBT dengan tindakan preventif dan kuratif sebagaimana dijelaskan dalam hukum-hukum Islan. Maka menjadi tugas kita untuk meninggalkan sistem kehidupan kapitalis sekuler kemudian menerapkan sistem Islam dalam kehidupan.