Oleh : Anis kurosatun Nisa S.Pd

New normal perlukah dievaluasi?
Oleh : Anis kurosatun Nisa S.Pd
Kelesuan ekonomi terjadi selama pandemi covid-19, sejak Januari hingga April 2020. Pemberlakuan PSBB oleh pemerintah menyebabkan sektor ekonomi mengalami pukulan yang luar biasa.

Bagi Masyarakat kelas bawah persoalan perut, tak bisa ditoleransi lagi, sementara pemerintah tak bisa menopang seterusnya kebutuhan tersebut dengan bansos yang diberikan.

Bagi kelas atas, mereka kehilangan keuntungan milyaran bahkan trilyunan hanya dalam waktu empat bulan. Sektor pariwisata, khususnya sektor perhotelan dan restoran ini adalah sektor yang paling terdampak covid-19. Selama pandemi mereka harus menanggung kerugian hingga Rp 70 trilyun, dilansir oleh SindoNews.com. 7 Juni 2020.

Kajian atas sektor ekonomi inilah, berikutnya yang menjadi alasan kuat pemerintah memberlakukan new normal. Ada time line yg disusun dan berlaku mulai tanggal 1 Juli 2020 dengan mulai dibukanya sektor industri, bisnis ke bisnis, pasar dan mall.

Kenaikan Tajam Pasca New Normal
Sementara para pakar epidemiologi, menyayangkan diberlakukannya new normal. Mereka beralasan pandemi covid-19 belum mencapai puncak, jika edukasi di masyarakat tidak maksimal, maka akan berbahaya pada bulan-bulan berikutnya dengan resiko mengorbankan kesehatan jiwa masyarakat luas.
Saat ini apa yang di khawatirkan para ahli epidemiologi mulai tampak hasilnya. Jika kita mau mencoba membandingkan data sejak awal pandemi awal Maret hingga akhir Mei 2020 korban positif covid-19 mencapai 26.473 kasus dengan tingkat kesembuhan 7.308 casus dan kematian 1.613 kasus
Per tanggal 30 Juni 2020 penambahan kasus positif covid-19 menjadi 56.385 casus, dengan kreteria dirawat 28.703 casus, sembuh 24.806 casus dan meninggal 2.873 casus.
Sejak diberlakukannya new normal penambahan kasus perhari rata-rata seribu lebih dan tanggal 30 Juni mencatat kenaikan tinggkat kematian tertinggi yakni 71 kasus. Ini berarti penambahan kasus sejak diberlakukannya new normal mengalami peningkatan yang luar biasa yaitu 29.912 dua kali lipat lebih.
Sementara pemerintah beralasan, naiknya kasus covid-19 dikarenakan pelacakan yang agresif disertai tes masif. Dengan cara orang yg ditemukan lewat hasil pelacakan itu kemudian dites spesimennya menggunakan metode PCR dan TCM, hingga memperoleh hasil signifikan positif.
Apapun alasannya, kasus covid-19 terus meningkat tajam selama bulan Juni. Harusnya pemerintah sigap, segera mengkaji ulang program new normal. Karena jika tidak kasus akan makin meningkat, sementara yang jadi pertanyaan adalah, sudahkah ada kesiapan dari Rumah Sakit, nakes dan segala fasilitas lainnya saat pasian membludak. Jika baru-baru ini saja kita disuguhi dengan Bu Risma wali kota Surabaya yang bersujud pada IDI memohon agar warga Surabaya diterima di RSUD dr. Soetomo. Sementara pihak IDI memberi alasan pasien membludak, daya tampung Rumah Sakit over load.

Islam Memberikan Solusi.
Islam agama yang sempurna, ajarannya abadi dan cocok sepanjang zaman. Andai dari awal pemerintahan mau mengikuti seruan Rasulullah saw dengan melakukan lock down pada wilayah awal mula kasus, tentu kasus bisa diminimalisir bahkan dihentikan. Tapi nasi telah menjadi bubur, semua sudah terlanjur.
Sebagai umat Islami, apapun keadaannya harusnya tetap optimistis dan yakin wabah ini bisa dilalau, dengan beberapa cara:

  1. Bagian dari tugas pemerintah dalam Islam adalah melakukan periayahan pada masyarakat, maka tes swab harus dilakukan bagi masyarakat secara masal.
  2. Pemetaan Yang positif dikarantina, sesuai levelnya. Pada wilayah tertentu untuk dilock down. Tidak ada yang boleh keluar dan masuk dari wilayah tsb.
  3. Lakukan penyemprotan masal disinfektan.
  4. Pada daerah hijau beri jaminan agar mereka aman dan kegiatan perekonomian biarkan berjalan normal. Untuk menopang wilayah yang terdampak.
  5. Memotivasi para ahli dan ilmuwan kesehatan dengan memberikan fasilitas yang mencukupi agar mereka berlomba-lomba menemukan anti virusnya.
  6. Mengajak masyarakat untuk menempuh jalur ilahiyah, bertobat memohon ampun pada pemilik alam agar Allah segera memberikan pertolongannya pada kaum muslimin

Dalam hal ini semua program akan berjalan lancar jika semua sektor saling bersinergi, sektor kesehatan penentu situasi red zone atau green zone. Sertor pendidikan yang akan mengedukasi tentang bahaya covid-19. Dan Sektor keuangan ( Baitul mal) yang akan menanggung seluruh biaya yang dibutuhkan. Dan ini hanya bisa dijalankan dengan penerapan Islam secara kaffah. Dalam bingkai sistem Islam bukan dalam bingkai demokrasi kapitalisme.