Oleh : Marsitin Rusdi . Sst,FT,ftr
(Praktisi Klinis)

New Normal, demi Ekonomi Rakyat atau Kapitalis?

Oleh : Marsitin Rusdi . Sst,FT,ftr
(Praktisi Klinis)

Berbicara pandemi seakan tidak ada habisnya, ada saja pembahasan yang memicu adrenalin karena antara berita dengan fakta dilapangan tidak sama, bahkan kebingungan mencari data yang sebenarnya. Semua dinilai dengan nilai benda atau barang. Sesuatu yang tidak nampak seakan tidak ada nilainya, nilai benda seperti tambang emas mengalahkan keimanan kepada Allah swt. Kebohongan lebih bermakna daripada keselamatan umat atau rakyat. Kepentingan lebih bermakna daripada nasib rakyat. Suasana seperti ini sangat membingungkan, membosankan, melelahkan bagi rakyat.

Sejak pemerintah menyatakan uji coba new normal life, harapannya adalah supaya perekonomian akan merangkak naik. Akan tetapi sebenarnya rakyatlah yang justru dikorbankan dengan kebijakan ini. Bagaimana tidak, mareka yang sehat dan sakit tidak dipisahkan. Jadi mereka yang sehat sangat rentan terpapar virus saat beraktivitas di luar. Bahkan dengan penularan yang cukup ganas. Hanya melalui droplet orang–orang bisa tertular dengan mudah.

Sungguh gegabah pemerintah dalam mengambil langkah menangani pandemi. Lebih mementingkan perekonomian dari pada nasib nyawa rakyat yang terancam pandemi. Bahkan puluhan dokter dan tenaga medis hilang nyawa karena ketidaksiapan sarana dan prasarana untuk penyelesaian pandemi ini, karena aturan dibuat susah, rumit, dan berbelit.

Pengambilan paksa langkah new normal kurang lebih 2 minggu, di jawa timur sudah ada 14 Dokter PPDS terkonfirmasi covid-19.( jawa pos edisi minggu 21 Juni 2020 ). Sungguh miris melihat kenyataan ini yang tidak ada langkah serius pemerintah untuk segera mengakhiri pandemi ini.

Contoh kasus para dokter PPDS yang tidak mendapatkan perhatian khusus dari instansi terkait, sehingga para dokter PPDSpun berupaya mencari sendiri kebutuhan untuk isolasi serta APD. Sudah berupaya mencari sponsorpun diberhentikan programnya, ada yang mau mensuplay APD diberhentikan.

Ini menunjukkan bahwa penguasa tidak menganggap nyawa manusia itu penting, apalagi peran penting dokter seharusnya harus dilindungi. Mengingat mereka adalah pahlawan yang tiada tara perjuangannya dalam memerangi pandemi ini. Namun apa yang terjadi? Tes untuk dokter PPDS hanya rapid saja bukan tes swab PCR. Ruangan yang tidak memenuhi standart untuk kasus ini karena di IGD bercampur dengan orang sakit emergency non covid-19. Sehingga resiko penularan kepada orang lain pun di rumah sakit semakin tinggi, sehingga menambah stres semua orang bahkan paramedis.

Dibukanya new normal pada zona tertentu tentu menambah kasus covid-19 melonjak drastis. Namun pemerintah sudah tidak peduli pada kasus ini, justru mereka sibuk menerbitkan atau hal–hal yang menguntungkan golongan dan bisnisnya. Berbagai kebijakan kontroversial dan merugikan rakyat dimunculkan, agar rakyat melupakan kasus penyelesaian pandemi ini.

Bahkan media elektronik dibungkam semua agar tidak memberikan informasi terkini tentang pademi, hanya media cetak tertentu atau koran yang membahas. Sehingga rakyat tidak banyak yang tahu, apalagi dipelosok desa. Pemerintah sudah memilih new normal dan dijadikan Jawa Timur nomor satu lomba new normal, padahal faktanya penambahan kasus covid-19 justru semakin melonjak di Jawa Timur.

Dengan kondisi seperti ini, rakyat hanya dipertontonkan masalah perekonomian yang kacau seakan karena pandemi, pandemi menjadi biang keladi dari krisis ekonomi. Padahal sebelum pandemi inipun ekonomi di negeri ini sudah ambruk. Untuk menutupi bobroknya ekonomi negeri selalu mencari kambing hitam.

Kebobrokan ekonomi, kasus demi kasus terus menggerogoti rakyat. Namun saat ini seakan ditutup, masalah yang sebenarnya tidak mereka tampakkan. Seperti buah semangka, warna didalam berbeda dengan warna kulitnya. Sesungguhnya kunci berlarutnya kasus pandemi ini adalah kebodohan pengambilan kebijakan awal seorang pemimpin, bukan salah virus corona. Akan tetapi yang terjadi seakan yang salah adalah rakyat yang tidak mau mematuhi hibauan pemerintah. Akhirnya pemerintah membuat berbagai upaya diluar akal sehat. Inilah pandainya politik sekuler membolak balikkan fakta agar rencana mereka berjalan sesuai dengan targetnya.

Semua ini menunjukkan ketidak berdayaan sistem demokrasi sekuler untuk mengurus kehidupan umat. Tidak mampu mengendalikan gejolak apapun yang muncul baik gejolak yang berskala kecil hingga gejolak berskala besar. Dan semakin mempertegas bahwa sistem politik, ekonomi dan kesehatan yang berjalan selama ini telah gagal. Sudah saatnya berganti dengan sistem yang mendatangkan solusi.

Yaitu sistem yang sohih yang dapat menyelesaikan segala problematika yang muncul saat ini. Yakni dengan kembali pada sistem yang dibuat oleh Allah SWT yakni sistem Islam. Sistem Islam berpedoman pada syariat Islam dalam menyelesaikan setiap masalah termasuk dalam menangani wabah.

Penguasa dalam Islam akan berusaha seoptimal mungkin dalam menyelamatkan nyawa rakyatnya dan penanganan yang tepat. Seperti yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khattab pada tahun 18 H, dalam perjalanan ke Syam, ternyata disana sedang terjadi wabah thaun Amwas dari hasil laporan gubernur Syam saat itu, maka Umar tidak melanjutkan perjanan untuk berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain. Ibarat menggembalakan kambing : pilih padang rumput hijau atau kering. Akhirnya mereka pulang ke Madinah.

Wabah Thaun berhenti dibawah kepemimpinan Amr bin Ash, beliau mengatakan : wahai manusia, penyakit ini seperti kobaran api, maka jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung.

Amru bin Ash, yaitu gubernur Mesir, dan apa yang telah diupayakan oleh Amr bin Ash ternyata sangat efektif dengan membuat kebijakan seluruh masyarakat wajib uzlah atau mengisolasi diri ke bukit-bukit, pegununungan dan lembah-lembah. Bagi yang tak punya bekal, Negara saat itu memberi jaminan akan kebutuhan pokoknya.

Maka jika wabah meluas, peran negara sangat dibutuhkan. Sebab negara dengan khalifah sebagai pemimpinnya adalah orang yang paling bertanggungjawab atas nasib rakyatnya. Sistem negara yang kuat dan pemimpin yang bertaqwa adalah kondisi ideal dalam menyelesaikan persoalan wabah ini.

Amir atau pemimpin masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggungjawab atas (urusan) rakyatnya (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad) .

Begitulah cara Islam dalam menjaga, melindungi, dan menyelamatkan nyawa rakyat. Islam mempunyai cara tepat dan cepat dalam menangani setiap masalah tanpa mengorbankan ribuan jiwa manusia. Karena Islam berpedoman pada syariat Islam yang mampu menyelesaikan segala problematika kehidupan. Lalu buat apa kita bertahan pada sistem ini? Sudah saatnya kita meninggalkan sistem ini dan mengembalikan sistem Islam tegak kembali di muka bumi ini, agar semua masalah bisa teratasi dan nyawa rakyat dilindungi.

Wallahu a’lam biashshawab.