Penulis: Lelly Hapsari

Engkau adalah awan dan aku adalah angin yang selalu meniupkan kesejukan

Aku adalah hujan dan kau adalah payung hitam
Yang senantiasa melindungi dari rinai yang membasah

Aku sedang bercerita tentangmu Yang menyukai warna biru
Yang membenci asap rokok tebal hingga membuat nafas sesak sekitar

Senyummu begitu mahal
Hingga nyaris selalu tertahan
Terkesan dingin dan hening tetapi itu yang membuatku rindu.

Aku menyukai saat itu
Pada senja yang indah
Setelah hujan membasah
Di kelilingi titik bening embun bak butiran kristal yang menepel bergelayut manjs pada dahan juga rerumputan

Saat netraku sengaja kau tutup lembut dengan kedua telapak tanganmu

Pandangan seketika terhalang gelap
Kemudian kau bisikan suasana senja yang semakin memerah
Burung-burung camar berterbangan kembali ke sarangnya
Kemudian riak gelombang yang saling berkejaran

Aku yang kini sedang bicara tentangmu
Tentang renjana memoar kita yang dahulu
Sebelum pusara mengatupkan rasa dalam mawadah
Meski kutahu
Mengenangmu hanya akan mencabik hati dalam sembilu
Karena kisah ini telah terhentikan oleh lajunya waktu yang sedang cemburu

Apa kabar rindu?
Tak pernah kusesali jika kau datang tiba-tiba mengusik
Lalu segera saja kenangan itu kembali timbul tenggelam pada ingatan
Seperti tampilan slide album dalam memori hapeku
Perih menyayat nestapa pasti akan singgah mengakhirinya

Ah, cinta
kudapatkan sepenggal kisahnya kemudian terlena
Biarlah kusematkan saja pada lukisan langit yang menggantung pada ujung gemerlap bintang
Andai kau bisa mengintip dari celah surga
Bahwa aku sedang rindukan kekasih halal tercinta
Kabarkanlah pada semesta
Jika aku memang tetap menjadi bidadari yang kau cinta

****