Oleh: Fitri W, Pemalang

Dukungan Unilever terhadap gerakan lesbian, gay, biseksual , transgender dan Queer menjadi trending topik di dunia maya. Tidak hanya Unilever, sebelumnya kaum elgebete juga mendapat dukungan dari perusahaan multinasional diantaranya Apple Inc, Microsoft corp, Google, Yahoo, YouTube, Facebook, Chevron, Nike. Bahkan PBB melalui UNDP juga mengucurkan dana US$ 8 juta atau sekitar 108 miliar untuk mendukung komunitas ini.
Dukungan Unilever ini mendapat kecaman di dunia Maya, tidak sedikit yang menyerukan boikot terhadap produk Unilever, MUI juga menyerukan hal yang sama. Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain. Meski sentimen pemboikotan Unilever berpengaruh turunnya saham mereka sebesar 2,71% di pasar modal, tapi tidak berpengaruh terhadap performa mereka sebagai perusahaan multinasional yang menguasai produk-produk di dalam dan luar negeri.

Sikap masyarakat yang mengancam pemboikotan produk ini jelas patut diapresiasi karena masih ada kepedulian masyarakat bahwa mereka tidak setuju dengan perilaku kaum pelangi. Hanya saja yang harus diperhatikan apakah gerakan boikot produk ini akan menyelesaikan masalah elgebete ini. Karena faktanya sekalipun ada gerakan boikot, tetap saja perusahaan multinasional tetap mendukung mereka. Penyakit elgebete adalah akibat diterapkan sistem kapitalis, yang sekuler dan liberal. Penentangan terhadap fitrah manusia yang diciptakan Allah dan perilaku serba bebas semakin menyuburkan virus kaum pelangi ini.

Islam sebagai agama yang sempurna akan mampu memboikot total perilaku elgebete ini. Islam mempunyai aturan preventif misalnya, larangan laki-laki menyerupai perempuan dan sebaliknya, aturan menutup aurat, aturan pergaulan laki-laki dan perempuan dan sebagainya. Selain itu islam juga akan memberlakukan hukum kuratif bagi para pelaku elgebete ini. Maka jika hukum syariat Islam diterapkan oleh negara maka perilaku menyimpang elgebete bisa dihilangkan di muka bumi.