Oleh : Ummu Hanik

Ancaman berkembangbiaknya LGBTQ+ ternyata makin nyata. Faktanya banyak dukungan secara terang-terangan yang diberikan kepada gerakan itu. Di antaranya aksi dukungan dari Unilever dan juga MNC, perusahaan multinasional. Dukungan mereka berpijak pada liberalisme yg diagungkan dan memberi lahan subur bagi bisnis mereka.

Padahal jika dicermati, adanya gerakan LGBTQ+ banyak menimbulkan hal negatif pada masyarakat. Prof. Dr. Abdul Hamid Al-Qudah, spesialis penyakit kelamin menular dan AIDS di Asosiasi Kedokteran Islam Dunia menjelaskan dampak-dampak yang ditimbulkan LGBT jika dilihat dari segi kesehatan, sosial, pendidikan dan keamanan.

Dari segi kesehatan, 78 % pelaku homoseksual terkena penyakit menular dan rentan terhadap kematian. Rata-rata usia laki-laki yang menikah adalah 75 tahun, sedangkan rata-rata usia gay adalah 42 tahun, dan menurun menjadi 39 tahun jika sakit AIDS. Rata-rata usia wanita yang bersuami dan normal adalah 79 tahun, sedangkan rata-rata usia lesbian adalah 45 tahun.

Dari segi sosial, seorang gay akan sulit mendapatkan ketenangan hidup karena selalu berganti-ganti pasangan. Penelitian menyatakan: “Seorang gay mempunyai pasangan antara 20-106 orang pertahunnya. Sedangkan pasangan zina saja tidak tidak lebih dari 8 orang seumur hidupnya. Sebanyak 43 persen orang gay yang didata dan diteliti menyatakan bahwa seumur hidupnya melakukan homoseksual dengan 500 orang. 28 persen melakukannya dengan lebih dari 1,000 orang. 79 persen melakukannya dengan pasangan yang tidak dikenali sama sekali dan 70 persen hanya merupakan pasangan kencan satu malam atau beberapa menit saja.

Dari segi pendidikan, penelitian membuktikan bahwa pasangan homo menghadapi permasalahan putus sekolah lima kali lebih besar dari pada siswa normal karena mereka merasakan ketidakamanan dan 28 persen dari mereka dipaksa meninggalkan sekolah.

Dari segi keamanan, kaum homoseksual menyebabkan 33 persen pelecehan seksual pada anak-anak di Amerika Serikat (AS), padahal populasi mereka hanyalah 2 persen dari keseluruhan penduduk negara itu. Sementara itu, di Indonesia melalui riset dengan bantuan Google dalam kurun waktu 2014 hingga 2016, telah terjadi 25 kasus pembunuhan sadis dengan latar belakang kehidupan pelaku dan atau korban dari kalangan pelaku homoseksual.

Melihat begitu banyaknya dampak negatif yang diakibatkan oleh kaum ini, maka terhadap gerakan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ+) telah menuai kecaman di dunia maya. Termasuk kecaman terhadap para pendukungnya di antaranya pihak Unilever dan MNC. Tak sedikit seruan untuk memboikot produk Unilever, termasuk dari MUI. Aksi boikot memang akan merugikan produsen, tapi tidak ada jaminan bahwa dukungan terhadap kebobrokan (LGBT) akan dihentikan.

Perlawanan Terhadap LGBT

Perlawanan terhadap kaum LGBT harus dilakukan dengan upaya sistematis. Hal yang harus terus diupayakan adalah menghapus faham, system dan individu- institusi/lembaga liberal. selama ini siatem liberalisme telah membuat manusia hidup dalam kebebasan yang tak terikat dengan apapun juga. Manusia bebas memenuhi semua hawa nafsunya. Padahal, harusnya manusia terikat dengan norma-norma kehidupan dan agama.

Jika menginginkan kehidupan bisa berjalan dengan normal, maka sistem liberalisme yang telah merusak sendi-sendi kehidupan haruslah diganti dengan dominannya ideologi Islam yg melahirkan individu-institusi/Lembaga taat beragama dan menebar rahmat.

Solusi Tuntas Ada Pada Islam

Problem LGBT sebenarnya merupakan problem yang sistemik, sehingga pencegahan dan pemberantasannyapun harus dilakukan secara sistemik. Oleh karena itu peran negara dalam hal ini sangatlah penting. Namun mengingat negara menerapkan sistem kapitalis sekuler, mustahil jika mampu menyelesaikan problem tersebut. Faktanya sampai saat ini, perilaku penyimpang tersebut tumbuh bebas di negara ini. Oleh karena itu tidak ada solusi tuntas dari pencegahan dan pemberantasan LGBTQ+ kecuali dengan menerapkan kembali Islam dalam sendi-sendi kehidupan ini.

Sebagai agama yang sempurna dan paripurna, Islam dapat menjadi solusi segala problematika kehidupan umat manusia termaksud problem LGBTQ+. Dalam Islam telah jelas bahwa penciptaan laki-laki dan perempuan adalah untuk kelangsungan jenis manusia dalam segala martabat kemanusiaannya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt dalam QS an-Nisa : 1. Dengan demikian, telah jelas bahwa semua hubungan seksualitas yang dibenarkan oleh Islam adalah melalui pintu pernikahan yang sah secara syar’i. Adanya lesbian, homoseksual, perzinahan, anal seks, semuanya adalah perilaku seks yang menyimpang, dan tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang normal. Semua itu juga menjadi ancaman bagi keberlansungan hidup manusia. Oleh karena itu dalam Islam, jelas bahwa ide LGBTQ+ adalah haram dan tidak boleh dilindungi dengan dalih apapun.

Selain itu Rasulullah Saw juga menegaskan bahwa perilaku LGBTQ+ merupakan perilaku menyimpang yang dilaknat oleh Allah. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadits Nabi Saw : “Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual,” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).

Di dalam siatem Islam, negara akan senantiasa mewajibkan kepada setiap pribadi rakyat untuk mempelajari akidah Islam dan membangun ketakwaan kepada Allah Swt. Keimanan dan ketakwaan itulah yang akan menjadi benteng diri mereka dari segala sikap hidup yang tak terkontrol. Dengan kata lain, mereka akan mampu membentengi dari sikap hedonis dan budaya barat yang mengutamakan hawa nafsu.

Selain itu, negara juga berkewajiban menanamkan norma-norma Islam, budaya, moral dan pemikiran Islami kepada rakyatnya. Semua itu ditempuh dengan semua sistem, termaksud sistem pendidikan yang Islami. Kemudian negara juga akan menjaga para pemudanya dengan memblokade situs-situs pornoaksi dan pornografi di tengah masyarakat, sehingga akan terhindar dari media-media yang dapat merusak moral pergaulan masyarakat.

Paling penting lagi adalah negara akan memberikan saksi tegas dan keras terhadap pelaku LGBTQ+ sesuai syariat Islam. Meski terkesan kejam, namun sanksi di dalam Islam lebih berorientasi pada sikap membuat jera para pelaku dan juga jadi pelajaran buat masyarakat secara luas. Menurut syariat Islam, hukuman bagi pelaku LGBTQ+ adalah dengan menjatuhkannya dari gedung yang tinggi hingga mati. Jika demikian adanya, maka keberadaan LGBTQ+ akan mampu dicegah dan dihentikan. Semua hanya bisa terjadi dengan penerapan sistem Islam beserta aturannya secara kaffah.