Oleh: Naila Dhofarina, S.Pd.
(Anggota Komunitas Cinta Baca Tulis Untuk Peradaban)

Pendidikan merupakan bidang krusial untuk melahirkan generasi pemimpin berkualitas dalam sebuah negara. Agar output yang dihasilkan baik, maka untuk menjalankannya dibutuhkan sinergitas sistem yang visioner. Jika dijalankan sekedar mengikuti tren pasar atau kebijakan yang tidak matang, maka yang terjadi adalah kisruh dalam dunia pendidikan. Pendidikan di Indonesia senantiasa mengalami dinamika. Sayangnya berupa dinamika problem, dari kurikulum yang bergonta-ganti menyesuaikan dengan tren pasar, biaya masuk ke jenjang pendidikan yang melangit, sarana dan prasarana yang tidak semua sekolah memadai, output peserta didik yang bertingkah polah meresahkan masyarakat, juga soal gaji guru yang tak lepas dari problem. Belumlah hal-hal tersebut tuntas diselesaikan, baru-baru ini muncul problem baru. Yaitu, kisruh kisruh PPDB karena usia.

Hotman, orangtua dari anak berusia 14 tahun yang gagal masuk SMA karena terlalu muda, melakukan protes keras saat konfereni pers Dinas Pendidikan DKI Jakarta di Kantor Disdik DKI, Jumat pagi (26/06/2020). Ia menilai sistem zonasi yang diterapkan tidak sesuai dengan aturan soal jarak domisili ke sekolah yang dituju, karena lebih mementingkn kriteria usia. (kompas.tv, 27/6/2020). Ia tidak sendiri, ternyata juga banyak orang tua yang berunjuk rasa protes aturan PPDB zonasi di wilayah Jakarta tanggal 23 Juni 2020 lalu di kantor Gubernur DKI Jakarta. Mereka memprotes prioritas penerapan PPDB berdasarkan usia.

Sebelumnya, Kepala Dinas Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana mengatakan pemenuhan kuota PPDB menggunakan usia peserta didik yang lebih tua berdasarkan surat leterangan lahir dan akta kelahiran. Menurutnya, penggunaan usia sebagai kriteria seleksi lebih dapat mengakomodasi calon peserta didik baru dari seluruh lapisan masyarakat. (vivanews.com, 23/6/2020). Dari alasan yang dijelaskan, tampak bahwa pembatasan usia tidak didasari pemikiran yang mendalam, bahkan Ketua Komnas Anak menilai ini bertentangan dengan Permendikbud Nomor 44 tahun 2019. Komisi Nasional Perlindungan Anak juga menerima banyak laporan dan protes dari orang tua siswa terhadap mekanisme pembatasan usia pada sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), sehingga menuntut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mebatalkan proses PPDB DKI Jakarta dan mengulang kembali proses penerimaan murid.

SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

Selama sistem pendidikan dibangun atas dasar sekuler-materialis, dinamika problem akan terus terjadi tanpa solusi. Akibatnya, generasi calon pemimpin negara yang berkualitas tidak akan terlahir. Hal-hal teknis dalam pendidikan seperti mekanisme PPDB tidak bisa lepas dari sebuah visi pendidikan. Pendidikan sejatinya adalah hak semua warga negara, baik yang berusia lebih muda maupun yang berusa lebih tua. Keberadaan negara sudah tentu sebagai penjamin pemenuhan hak tersebut secara merata, di samping hak-hak lain. Kisruh PPDB seperti yang diberitakan menunjukkan gagalnya negara didalam memenuhi hak semua warga negara dalam hal pendidikan.

Dalam Islam, sistem pendidikan sangatlah diperhatikan, tidak sekedar mengikuti apa yang sedang tren di dunia lalu semata-mata dijadikan kiblat pendidikan negara atau sekedar mengikuti rutinitas tanpa pertimbangan visi besar yang hendak diraih. Pendidikan dalam pandangan islam merupakan upaya sadar, terstruktur serta sistematis untuk mensukseskan misi penciptaan manusia sebagai Abdullah dan khalifah Allah di muka bumi.
Sistem pendidikan Islam sebagai bagian integral dari sistem Islam berkaitan dengan supra sistem ekonomi Islam. Dalam pelaksanaan teknisnya sepenuhnya digratiskan untuk warga negara secara umum dengan pendanaan dari baitul mal.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat.” (HR. Ibnu Abdil Bari)
Hadits ini mendorong negara untuk memastikan semua laki-laki muslim juga muslimahnya dapat mengenyam pendidikan dengan baik, sehingga diberikan fasilitas yang memadai agar terlaksana kewajiban tersebut.
Berkaitan dengan PPDB yang menjadikan usia sebagai batas diterima ke jenjang pendidikan, ada sebuah hadits Rosulullah yang artinya :
“Perintahkanlah anak-anak mengerjakan sholat di kala mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka apabila meninggalkan sholat pada usia sepuluh tahun , dan pisahkanlah tempat tidur mereka (pada usia tersebut pula).” (HR.Al-Hakim dan Abu Dawud dari Abdullah bin Amr bin Ash).
Dalam hadits tersebut diterangkan tentang kapan anak mulai ditaklif hukum sehingga menjadikan dia wajib menjalankan syariat, termasuk menuntut ilmu yang wajib. Adapun penerimaan peserta didiknya untuk masuk sekolah, tidak berbatas usia. Yang ada hanyalah batas usia wajib belajar bagi anak-anak, yakni mulai usia tujuh tahun.

Mekanisme sistem pendidikan islam yang sederhana, memudahkan, dan adil untuk semua ini, membuat negara semakin kuat posisinya di hati warga negara nya sendiri terutama. Warga negara menjadi lebih bersemangat menuntut ilmu, tidak semata mengejar kepuasan intelektual atau mencari ijazah untuk kerja tapi karena dorongan keimanan, kebermanfaatan dan keinginan membangun negaranya menjadi lebih baik. Lebih gamblangnya, dapat kita simak buku Sejarah Bangsa Arab, karya Philip K Hitti. Dipaparkan di dalamnya gambaran gemilangnya lembaga-lembaga sekolah yang berbasis sistem pendidikan Islam yang menjadi pusat studi ilmu saat itu juga contoh-contoh output pendidikannya yang berkualitas. Semoga terwujud nyata kembali sebentar lagi.