Oleh: Rina Yulistina

Kambing Hitam Radikalisme
Oleh: Rina Yulistina

Beberapa bulan yang lalu berita nasional dipenuhi oleh berita radikalisme. Ditengah pandemi covid-19 berita yang diaruskan bukannya bahaya covid namun bahaya radikalisme di tengah pandemi. Media mainstrem memberikan framing jahat seolah-olah pihak radikal memanfaatkan kondisi pandemi untuk memperkeruh suasana dengan menyebar berita hoax yang berisi ketidak becusan penguasa mengatasi pandemi.

Tuduhan menyebarkan berita hoax pun tak ada bukti, karena fakta dilapangan lebih valid. Kekurangan APD bagi tenaga medis memang fakta, honor bagi nakes yang kunjung mengucur juga fakta, ekonomi lumpuh juga fakta, masyarakat kesusahan dalam mencukupi kebutuhan hidup juga fakta, PHK besar-besaran juga fakta, semakin hari jumlah kasus covid bertambah memang fakta. Lantas dimana letak hoaxnya? Sehingga tuduhan kaum radikal penyebar hoax tak terbukti sama sekali.

Isu radikalisme tak akan pernah berhenti apalagi dikondisi wabah seperti kali ini menjadi momet terbaik untuk terus menggoreng isu radikal, seolah-olah keberadaan Indonesia terancam dengan radikalisme.

Ketika kita lihat kondisi di masyarakat, masyarakat pun sebenarnya tak peduli dengan isu radikalisme bahkan lebih tepatnya jengah dengan drama radikal, mereka lebih peduli dengan kondisi perekonomian keluarga yang carut marut karena korona, apalagi bantuan pengamam sosial tak semua orang mendapatkannya padahal yang terkena dampak korona semua elemen masyarakat.

Tidak berlebih jika banyak pihak yang memandang bahwa isu radikal akan terus dimainkan oleh pemerintah untuk mencari kambing hitam atas kegagalan dalam memimpin bangsa ini. Ketika kita melihat secara global radikalisme yang dicetuskan oleh Bush terus disebarluaskan di negara-negara dunia terutama di negara muslim. Isu radikal menjadi bahan empuk untuk mempertahankan hegomoni kapitalisme sekaligus untuk mengontrol politik ekonomi negara-negara jajahannya.

Sehingga dari sini jelas bahwa isu radikalisme akan terus selamanya hidup. Namun sepertinya negara kampium kapitalis lupa bahwa semakin drama radikalisme ini digoreng maka semakin masyarakat tidak percaya dan pada akhirnya mata, hati dan pikiran masyarakat semakin menemukan kebenaran bahwa Islam agama damai.

Hal ini menjadi bumerang bagi pencipta radikalisme yaitu AS, semakin rakyat ditakuti dengan isu radikal maka semakin mereka menginginkan penerapan Islam. Sehingga hal yang sia-sia membendung kemenangan Islam karena itu adalah janji Allah.