Oleh : Anairasyifa
(Pemerhati Sosial Politik)

Pendidikan di negeri ini menarik untuk dibicarakan. Terbaru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendorong upaya membangun ‘perjodohan’ atau kerjasama antara perguruan tinggi atau Kampus dengan industri.

Setali dengan Mendikbud, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto PhD juga mengatakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan lembaga pelatihan keterampilan juga harus “menikah” dengan industri atau dunia kerja.
Ada apa gerangan perjodohkan dengan industri?

Tujuan ‘Perjodohan’

Tujuan utama dari gerakan ini agar program studi vokasi di perguruan tinggi vokasi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja dengan konsep ‘link and match’ yang dicetuskan dan diupayakan terwujud di Indonesia. Tidak sedikit SMK dan kampus vokasi yang sudah menerapkannya namun, hanya selesai pada MoU.

Tolak ukur tingkat kedalaman “pernikahan” tersebut, ditunjukkan dengan beberapa tolak ukur. Pertama, kurikulum harus sesuai dengan kondisi yang sebenarnya di dunia kerja dan didukung oleh beberapa industri atau pengguna lulusan yang bereputasi, serta menjawab kebutuhan keterampilan dan kompetensi masa depan.
Kedua, program magang industri minimal satu semester atau lebih, yang dikelola bersama dengan sangat baik dan terkonsep. Ketiga, jumlah dosen tamu atau praktisi yang mengajar di SMK dan kampus vokasi harus semakin tinggi dan intensif. Keempat, guru-guru SMK, dosen-dosen vokasi di Politeknik, Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Akademi dan Akademi Komunitas harus memiliki sertifikasi kompetensi yang diakui oleh industri dan dunia kerja. Kelima, industri harus berkomitmen dalam penyerapan lulusan pendidikan vokasi, dengan skema penghargaan dan skema karier yang baik. Keenam, sertifikasi kompetensi yang diakui industri bagi lulusan SMK dan lulusan pendidikan tinggi vokasi, sehingga melengkapi ijazah dan kemampuan bahasa asing yang baik, ketika memasuki dunia kerja.

Mencetak Generasi Industri

Sekilas, program di atas terlihat sebagai terobosan yang “out of the box”. Pendidikan di Indonesia yang terpasung sistem pembelajaran yang dirasa monoton dan teoritis membuat masyarakat seolah mendapat angin segar. Selain melakukan kerja sama, berbagai perusahaan bahkan organisasi dunia seperti PBB bisa ikut menyusun kurikulum untuk prodi tersebut. Hal ini seperti dipaparkan Mendikbud dalam kebijakan Kampus Merdeka 4.0.

Pemerintah memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator, dan kapitalis. Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinvestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian. Hal ini membuka mata kita bahwa pemerintah semakin mengokohkan peran Lembaga Pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja bagi industri atau kepentingan kapitalis. Generasi bangsa hanya dipersiapkan sebagai mobilisasi industri.

Keuntungan industri itu dibenarkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto mengatakan Program “Pernikahan Massal” antara pendidikan vokasi dan dunia industri menguntungkan dunia industri. Dari sembilan paket “pernikahan massal” sekitar lima diantaranya menguntungkan industri, yakni kurikulum disusun secara bersama, dosen tamu dari industri, program magang yang terstruktur dan dikelola dengan baik, riset bersama, dan pengenalan program dunia industri. (AntaraNews, 10/07)

Namun, disisi lain beberapa industri mempertanyakan apa untungnya buat kami dan mengapa kami wajib mendonasikan dana untuk kampus? Hal ini karena sebuah industri di sistem kapitalisme saat ini hanya akan mencari keuntungan bagi mereka. Sedangkan angin segar bagi anggapan rakyat sebenarnya hanyalah angin berdebu karena melihat sarana dan prasarana pendidikan di negeri kita yang tidak memadai bisa mengakibatkan tingginya uang semester yang harus dibayarkan. Belum lagi realitanya banyak pekerja asing yang turut memasuki dunia kerja di Indonesia akibat investasi (baca:utang) persaingan kerja antara pribumi menjadi tidak sehat. Jika ingin mengharap perubahan yang baik di segi pendidikan maka haruslah merubah pula sistem ekonominya. Jika semuanya masih kapitalisme maka yang ada hanyalah tujuan profit atau keuntungan.

Kebijakan bagi perguruan tinggi negeri atau swasta yang bebas membuka program studi baru ternyata hanya akan diperuntukkan bagi perguruan tinggi vokasi atau institut teknologi, bukan untuk jurusan yang bersifat keilmuan murni atau sains. Arah dari program studi yang ada dalam kurikulumnya juga ditujukan bukan untuk kepentingan umat melainkan untuk kemakmuran para korporat.

Sistem Pendidikan Terbaik

Sistem pendidikan tidak bisa dilepaskan dengan sistem ekonomi karena ekonomi pula yang akan menopang pendidikan. Selama sistem negara adalah kapitalisme-liberal maka pendidikan yang semestinya bervisi membangun kepribadian utuh manusia sebagai hamba Allah (khalifah fil ardhi) dikerdilkan, dan hanya mencetak manusia bermental buruh atau pekerja.

Dalam pandangan Islam, pendidikan merupakan sarana untuk menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga dengannya manusia memiliki adab dan perilaku yang mulia. Ilmu merupakan karunia sekaligus amanah yang akan dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat jika dibentengi dengan akidah Islam. Negara dalam sistem Islampun bertanggung jawab menyediakan fasilitas sarana dan prasarana penunjang pendidikan. Pembiayaannya bukan berasal dari investasi industri tapi kekayaan dalam negeri dan juga wakaf.

Sejarah pun mencatat betapa terbaiknya pendidikan dalam sistem Islam. Ilmuwan banyak terlahir dari sistem pendidikannya. Contohnya Al Khawarizmi yang terkenal dengan penemu konsep aljabar dan angka nol. Dan masih banyak ilmuwan muslim yang penemuannya bermanfaat hingga masa moderen. Bukan hanya jago dalam sains dan teknologi, para ilmuwan muslim juga menguasai beberapa ilmu. Dan ini tidak akan terjadi jika kita tidak njadikan Islam sebagai pengatur kehidupan kita secara menyeluruh.

Wallahu a’lam bishowwab