Oleh: Andar Dwi

Pertambahan kasus infeksi covid-19 di Indonesia beberapa hari terakhir yang konsisten diatas 4 digit, menunjukkan penularan virus ini sangat tinggi, bahkan trend nya cenderung meningkat. Update nasional per 13 Juni 2020 ada pertambahan kasis positif sebanyak 1.014 kasus, sehingga menjadi 37.420 kasus positif covid-19 di Indonesia.

Memang pertambahan angka statistic itu tidak bisa langsung diartikan kondisi semakin memburuk, dengan alasan peningkatan jumlah kasus itu seiring dengan meningkatnya agresifitas tim covid-19 dalam melakukan pemeriksaan di tengah masyarakat, sehingga semakin banyak yang diperiksa tentu semakin tinggi peluang ditemukannya kasus positif covid-19.

Namun dari data itu sebenarnya juga bisa menunjukkan sebuah kondisi real masyarakat kita, bahwa yang sudah terinfeksi covid-19 memang sudah sangat banyak, bahkan lebih banyak dari yang terdeteksi. Apalagi dengan dihentikannya PSBB, peluang terjadinya penularan virus ditengah masyarakat bisa menjadi semakin tinggi, dan semakin berbahaya. Inilah pertaruhan sebuah peradaban sebuah bangsa sampai pada titik yang sangat krusial dan kritis.

Peradaban Kapitalisme yang bertumpuh pada arogansi pemilik modal, pengendali rezim diseluruh dunia, dihadapkan pada situasi kontrakdisi penyelamatan nyawa rakyat dengan pelemahan ekonomi yang menjadi soko guru kapitalisme itu sendiri. Korban dari situasi ini tentu rakyat kecil, mau karantina mandiri untuk memutus rantai penuluran berbenturan dengan kebutuhan pangan masing-masing individu masyarakat.

Ibarat buah simalakama, stay at home bisa menghentikan rantai penuluran, namun karena kebutuhan pokok tidak dijamin Negara, maka rakyat harus berjuang sendiri untuk mencari nafkah dan keluar dari rumah. Demikianlah, kondisi masyarakat ditengah Pandemi. Bahkan menurut Ekonomi Bisnis.com, Pandemi covid-19 bikin ekonomi buruk.

Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa Negara, dalam peradaban kapitalisme, tampak kedodoran dalam menghadapi Pandemi?. Ada beberapa hal yang bisa dikemukakan.
Pertama, Negara dalam peradaban Kapitalisme tersandra oleh kepentingan pemilik Modal. Trias Politika Demokrasi, dalam kontestasi politik yang berbiaya tinggi sangat bergantung pada kucuran dana para pemilik modal, akibatnya berbagai kebijakan, level Ekskutif, Legisatif, dan Yudikatif sangat dipengaruhi para bohir politik tersebut.

Inilah yang saat pandemi begitu nyata kelihatan benturan antara kebijakan penyelamatan nyawa manusia dengan kepentingan para pengusaha, yang pada akhirnya masyarakat akan menilai, kearah mana kebijakan Negara diambil, apakah penyelamatan nyawa rakyat di tengah Pandemi covid-19, ataukah kepentingan ekonomi para pengusaha?

Kedua, pilar ekonomi kapitalis yang memberikan peluang seluas-luasnya kepada swasta (baik nasional maupun asing) untuk menguasai factor-faktor produksi dan menempatkan Negara “hanya” sebagai pihak regulator, dengan penerimaan terbesarnya adalah sektor pajak. Kondisi ini memposisikan Negara menjadi “tidak berdaya dibidang ekonomi” berhadapan dengan Multinational corporate yang “menguasai” sebagaian besar sumber daya dan asset strategis.

Ketiga, “penguasaan” berbagai faktor produksi hanya bisa dilakukan berdasarkan Undang-undang yang berlaku dalam sebuah Negara. Oleh karena itu, dalam peradaban Kapitalisme Demokrasi yang bertumpu pada pilar kedaulatan ditangan rakyat, dimana Hak legislasi ada ditangan (wakil) rakyat, pengesahan berbagai undang-undang, misal tentang pengelolaan SDA seperti UU Minerba, bisa jadi sangat berpihak kepada pemilik modal besar dan menciptakan ketidakadilan.

Sinyal kebangkrutan peradaban Kapitalisme Demokrasi semakin hari semakin telanjang, dan mungkin tak lama lagi roboh menyusul saudara kandungnya, Sosialisme yang lebih dulu tumbang di tahun 1991 lalu, yang ditandai dengan ambruknya Negara adi daya blok Timur, Uni Soviet.

Fajar Kelahiran Peradaban Islam
Peradaban Islam yang memiliki akar historis eksis memimpin dunia lebih dari 13 Abad, secara fitrah akan menjadi alternatif yang sangat niscaya. Masifnya gelombang hijrah dikalangan milenial yang diikuti semangat ghirah menerapkan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari urusan pribadi, hingga social ekonomi, telah membangun kesadaran pada upaya implementasi aturan-aturan Allah secara makro dalam bermasyarakat dan bernegara.

Disisi lain, hukum kelembaman dalam ilmu fisika dimana suatu benda akan selalu cenderung mempertahankan keadaan posisinya, rupanya juga terjadi pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kerasnya benturan rezim-rezim dictator dengan Ummat Islam di berbagai belahan dunia, menggabarkan kelembaman politik pro status quo.

Fenomena ini bukannya menyurutkan ghiroh ummat, tetapi hal itu justeru menjadikan berbagai komponen ummat Islam menemukan momentum untuk bangkit secara pemikiran dengan balutan nuansa keimanan yang membara. Berbagai diskusi dan kajian fikih siyasi (fikih politik), paradigma system Ekonomi Islam (Nidhamul Iqtishody), system social hingga pemerintahan massif dikaji diberbagai kesempatan.

Fenomena yang dahulu menjadi domain aktifitas kampus, kini menembus berbagai level intelektual, level strata social, bahkan nyaris tanpa ada sekat. Proses irtifa’ul fikry (naiknya level pemikiran) masyarakat sebagai prasarat kebangkitan kini tengah berkembang semakin matang. Kedewasan dan ketenangan ummat Islam dalam bersikap, secara meyakinkan telah memupus habis stigma radikal, teroris, dan berbagai propaganda hitam yang dahulu mencitraburukkan Islam.

Akankah kelahiran peradaban Islam yang dijanjikan akan segera terwujud? Yang lebih penting dari pertanyaan itu adalah sudahkah kita berkontribusi dalam perjuangan ini? Wallahu a’lam bish shawab.
[ ]