Oleh: Yuyun Rumiwati

Dalam perbincangan di sebuah warung, ada dua bapak bercakap-cakap seputar Pandemi. Salah seorang di antaranya berpakaian rapi, sekilas menunjukkan beliau seorang pegawai. Sedang lelaki di depannya seorang pedang yang hampir sebulan ini tutup warungnya. Di akhir percakapan salah satunya berpesan untuk menjaga protokol, dan tidak banyak ke luar kecuali jika ada perlu. Sang bapak satunya langsung menjawab, ” iya mas, kalau sampeyan (kamu), enak tiap bulan gaji tetap. Kalau seperti kami gak keluar makan apa?”
——

Bisa jadi kita sering menemukan percakapan serupa di kala pandemi ini. Sensitivitas rakyat naik, ketika diingatkan sesama yang berpendapatan tetap (tidak berdampak Pandemi), terlebih kondisi ekonomi diri berdampak menurun di era Pandemi.

Di satu sisi ada yang merasa posisi PNS lebih beruntung dari yang tidak. Posisi guru lebih baik dari pada wali murid. Terjadilah secara tidak langsung, hubungan yang kurang sedap “Sawang sinawang” (saling melihat), hingga rumput tetangga tampak lebih hijau.

Melihat kondisi tersebut, seyogyanya sikap tebar empati yang digalakkan, bukan tebar iri dan dengki atau pun tebar egoisme diri. Dengannya persaudaraan akan terjalin kuat, dan terhindar dari hubungan yang tak produktif.

Beberapa catatan berikut bisa kita lakukan untuk memperkuat empati dan persaudaraan karena Allah. Diantaranya,

Pertama: Membiasakan melihat ke bawah untuk urusan dunia.

Rasulullah telah bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Berdasar hadist di atas, sikap empati bisa kita wujudkan dengan banyak melihat sesama yang kondisinya bisa jadi lebih memprihatinkan dari kita. Dengannya kita akan lebih bersyukur dengan keadaan kita. Tidak mudah mengeluh dan timbul iri terhadap kondisi orang lain yang lebih enak dalam persepsi kita.

Dan tetap memahami bahwa tiap manusia punya jatah rezki masing-masing. Bisa jadi ada yang dilebihkan dari sisi harta.Yang lain ada yang dilebihkan dari sisi ilmu. Begitu pun ujian Allah berikan sesuai kadar kemampuan. Jika sikap memahami ini terbentuk. Maka tiap potensi dan ujian akan menjadi hubungan saling membantu dan menguatkan. Bukan memicu peluang iri dan jarak persaudaraan.

Kedua: Saling Mendoakan

Kebiasaan kita untuk berempati pada sesama akan melahirkan jiwa untuk saling mendoakan. Hal yang ringan saja, ketika melihat penjual lewat di depan kita. Terbayang bagaimanapun istri dan anaknya yang sedang menanti. Bahkan ketika melihat saudara yang jualan dan promo di media sosial. Doa pun bisa kita panjatkan langsung atau tanpa diketahui yang bersangkutan.

Dari sini terangkatlah kepekaan naluri kasih sayang dan beragama kita untuk mendoakan. Bukankah Rasulullah pun bersabda,

Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim)

Ketiga: Saling Sapa dan Berbagi Info Peluang Kebaikan

Meski jarak memisahkan, dengan adanya media sosial tak ada halangan bagi kita untuk saling tanya kabar. Ini pun bentuk empati. Bisa jadi ada saudara kita yang butuh bantuan, namun tak tersampaikan. Entah karena sungkan atau malu. Dengan saling sapa khususnya cating pribadi sesama sahabat karena Allah, keterbukaan lebih mudah terjalin. Yang jelas komunikasi syar’i sesama perempuan atau mahrom.

Dengan komunikasi dan saling sapa kita bisa berbagi info misalnya ada lowongan pekerjaan atau bisnis. Atau berbagi ilmu dan sebagainya. Di sinilah perekat persaudaraan kian kokoh.

Keempat: Hindari Pamer

Memang antara syukur berbagi kebahagiaan dengan pamer atau bangga diri bisa jadi tipis batasannya. Tapi sebelum kita posting kita bisa tanyakan pada diri kita masing-masing apa niat saya memosting hasil masakan yang beragam? Apa tujuan saya sering memosting perjalanan, murni karena Allah kah? Murni karena ingin berbagi kebagian karena Allah kah atau terbersit rasa bangga diri? Masalah tujuan dan niat ini, hanya Allah dan diri kita yang tahu.

Untuk menghindari dari pamer yang berefek memicu rasa iri, dengki atau sedih bagi saudara atau sesama. Bisa kita kembalikan pada diri kita andai kita dalam posisi keterbatasan dan kekurangan, jujur apa yang ada di hati kita? Andai memungkinkan bisa, giat berbagi tanpa diketahui itu lebih terjaga dari riya’ dan lainya.

Semoga tips di atas kian berkah dan kian mengokohkan persaudaraan di antara kita dan menghindarkan dari rasa daling iri, dengki yang merusak cinta pada saudara dan sesama manusia. Terlebih saat umat belum punya sistem pemersatu di naungan sistem khilafah Islam. Pun belum mendapati pemimpin yang tulus menyatukan rakyat dalam satu cinta karena Allah. Jika tidak di mulai dari kita, kapada siapa kita berharap empati tersebut? Mungkinkah pada rezim yang mengabdi pada kepentingan penjajah negeri? Allahu a’lam bi shawab