Oleh: Kiki Fatmala (Aktivis Muslimah UINSU)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memulai gerakan “pernikahan massal” atau penyelarasan antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja. Nadiem mengatakan perjodohan massal antara pihak Kampus dan industri dilakukan hingga tahap kontrak rekrutmen mahasiswa di perusahaan, terkait peluang usaha.
Tujuan utama dari gerakan ini adalah agar program studi vokasi di perguruan tinggi vokasi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja. Hingga saat ini Pendidikan vokasi telah menjelma menjadi primadona baru di dunia pendidikan. Orientasi dari pendidikan Vokasi ini adalah menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap memenuhi kebutuhan pasar kerja.

Dalam pendidikan vokasi, dengan ikut sertanya industri dipercaya mempermudah penyerapan tenaga kerja di kalangan pelajar dan juga lulusan kampus. Sehingga faktor peminatan pelajar pada suatu keahlian teknis mengindikasikan bahwa program pendidikan vokasi telah berhasil memengaruhi pemikiran mereka dalam menuntut ilmu. Ilmu yang kita peroleh tidak lagi bertujuan mencerdaskan anak bangsa. Tetapi dengan adaya Pendidikan Vokasi menuntut ilmu hanya motivasi untuk mencari pekerjaan.
Begitulah prinsip para pencari ilmu hari ini dalam kehidupa sistem kapitalisme. Keterampilan dan kompetensi kerja dijadikan poin utama seberapa besar serapan tenaga kerja di dunia industri. Dengan mengadopsi kebijakan Knowledge Based Economy, pendidikan diarahkan hanya untuk memenuhi pasar kerja. Perkawinan pendidikan vokasi dengan industri memperlihatkan tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat nihil. Jika pemerintah memiliki tanggung jawab, harusnya berpikir bagaimana meningkatkan SDM menjadi tuan di rumahnya sendiri. Bukan pelayan yang melayani para kapital.
Sayangnya, kapitalisme telah menggerus visi besar yang semestinya dimiliki sebuah Negara. Begitu juga dengan Pendidikan yang minus akan visi.

Dampak buruk dari kebijakan pendidikan yang mengarahkan lulusannya hanya tahu bagaimana menjadi mesin uang telah mengghilangkan karakter utama dari penuntut ilmu yang seharusnya menjadi pewaris Peradaban. Pendidikan yang semestinya bervisi membangun kepribadian utuh manusia sbg hamba Allah khalifah fil ardhi dikerdilkan hanya mencetak manusia bermental buruh.

Namun berbeda dalam Islam, pendidikan bukan dijadikan ajang untuk menciptakan lulusan siap kerja. Namun menjadikan lulusannya yang memiliki kepribadian islam serta berdaya guna di tengah masyarakat dengan menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya demi kemaslahatan umat. Hal ini bisa dibuktikan dengan lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim yang tak hanya pandai ilmu saintek. Mereka juga ahli dalam ilmu agama. Pendidikan Islam juga mendorong para lulusan bermental pemimpin peradaban.
Kapitalisme mungkin berhasil menciptakan generasi kerja. Namun, ideologi ini gagal membentuk generasi berkarakter mulia. Kapitalisme boleh saja menciptakan industri besar. Namun, ideologi ini juga gagal membangun industri berbasis kemandirian.

Berbeda dengan Islam yang memadukan orientasi dunia dan akhirat menjadi satu kesatuan. Selain berhasil membentuk generasi mulia yang beradab, Islam juga sukses mencetak SDM unggul di segala bidang. Baik politik, ekonomi, sosial, dan saintek.