Oleh: Aini Ummu Aflah

Ada Apa dibalik penghapusan Materi Ajar Khilafah?

Oleh: Aini Ummu Aflah

Dulu, kata khilafah terdengar asing. Sekarang kata khilafah meluas bak roket yang melesat tanpa siapa pun bisa mencegahnya.

Orang bisa mengatakan khilafah dengan fasih. Bahkan khilafah di bahas di mana-mana. Setiap pergantian rezim pun, kata khilafah semakin booming. Manusia juga semakin paham, apa itu khilafah. Bahkan buku agama yang ada di madrasah yang membahas khilafah tidak di persoalkan.

Sekarang khilafah bak seperti momok yang menakutkan. Apapun pembahasan tentang khilafah dicekal, dihapus bahkan diberantas. Mengapa dengan istilah khilafah? Padahal khilafah adalah ajaran Islam. Khilafah berasal dari sang Maha Menciptakan. Mengapa rezim ini ngotot untuk menghapus buku-buku yang membahas khilafah?

Seperti yang diberitakan dalam Republika.co.id bahwa seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah dan perang atau jihad telah diperintahkan untuk ditarik dan diganti. Hal ini sesuai ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.

Ditemukan Soal Khilafah, Kemenag Kediri Gelar Ujian Ulang
Materi Khilafah di Ujian Aliyah, Ini Penjelasan Kemenag
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada Kementerian Agama (Kemenag), Umar, menjelaskan yang dihilangkan sebenarnya bukan hanya materi khilafah dan perang. Setiap materi yang berbau ke kanan-kananan atau ke kiri-kirian dihilangkan.

Dia mengatakan, setiap materi ajaran yang berbau tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan dan toleransi juga dihilangkan. “Karena kita mengedepankan pada Islam wasathiyah,” kata Umar kepada Republika.co.id, Sabtu (7/12).

Dia menambahkan, semua buku-buku ajar di MI, MTs, dan MA berorientasi pada penguatan karakter, ideologi Pancasila, dan anti korupsi. Paling utama mengajarkan Islam wasathiyah.

“Jadi kita ini menyiapkan generasi yang akan datang generasi yang betul-betul bisa menjaga perdamaian, persatuan dan toleransi demi keutuhan NKRI dan kejayaan Islam di Indonesia,” jelasnya.

Kemenag ingin memberikan bekal kepada para siswa supaya melek informasi tentang negara. Supaya anak-anak tahu membela negara ini hukumnya fardu ain. Tapi membela yang mengedepankan asas pemerintahan yang Pancasila, meneguhkan NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Berita lain seperti yang terkutip dalam Terkini.id, dinyatakan bahwa konten radikal yang termuat di 155 buku pelajaran agama Islam telah dihapus oleh Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi. Namun, untuk materi Khilafah tetap ada di buku-buku tersebut.

“Dalam buku agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme,” ujar Menag lewat keterangan tertulisnya, Kamis, 2 Juli 2020 seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Menag mengungkapkan, penghapusan konten radikal tersebut merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama yang dilakukan Kemenag.

“Kami telah melakukan review 155 buku pelajaran. Konten yang bermuatan radikal dan eksklusivis dihilangkan. Moderasi beragama harus dibangun dari sekolah,” ujarnya.

Fachrul mengungkapkan, ratusan judul buku yang direvisi itu berasal dari lima mata pelajaran, yakni Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Alquran dan Hadis, serta Bahasa Arab.

Pihaknya pun memastikan ratusan buku pelajaran agama tersebut telah direvisi dan mulai dipakai untuk tahun ajaran 2020/2021.

Selain itu, kata Fachrul, program moderasi beragama lainnya yang juga tengah dijalankan Kemenag yakni pelatihan bagi guru dan dosen, penyusunan modul pengarusutamaan Islam wasathiyah, serta madrasah ramah anak.

inilah fakta bahwa rezim sedang mengalami penyakit Islamphobia. negeri ini akan digiring dalam kacamata islam wasathiyah yang akan menyesatkan aqidah generasi umat. Memberi label Islam radikal pada pemeluk Islam kaffah. Dan memberi label Islam Moderat pada pemeluk islam gado-gado sesuai haluan yang di ingginkan negeri ini. Mengaburkan hukum-hukum syara’ yang sudah ditetapkan oleh AL Kholiq, Sang Maha Menciptakan.

padahal jika kita saksikan saat ini, banyak kerusakan dimana-mana akibat dari sistem yang diberlakukan di negeri ini. Sistem inilah yang seharusnya di waspadai dan ditakuti, Sistem Kapitalisme dan Sistem Komunisme. Bagaimana mungkin negeri ini lupa dengan sejarah biadabnya komunis membantai para ulama. Sistem kapitalis merusak tatanan ekonomi dengan privatisasi sumber alam, ribawi yang menjadi penopang ekonomi nomor wahid. belum lagi rusaknya remaja dengan sesk bebas, tawuran, pesta sabu-sabu. Belum lagi pejabat yang korupsi, menjual aset negara, dll.

lantas, sistem manakah yang mengancam eksistensi negeri ini?

Banyak kitab-kitab yang menyebutkan istilah khilafah. padahal kata khilafah sudah fix dalam kitab 4 madzab. Semua madzab bersepakat bahwa khilafah ajaran Islam.

Khilafah sesungguhnya bukanlah istilah asing dalam khasanah keilmuwan Islam. Menurut Wahbah az-Zuhaili, “Khilafah, Imamah Kubra dan Imarah al-Mu’minin merupakan istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama.” (Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, 9/881).

Menurut Dr. Mahmud al-Khalidi (1983), “Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan syariah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.” (Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 226).

Karena merupakan istilah Islam, Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. Apalagi menegakkan Khilafah adalah wajib menurut syariah Islam. Bahkan Khilafah merupakan “tâj al-furûd (mahkota kewajiban)”.

Sumbangsih khilafah di Indonesia sungguh besar. masyarakat Indonesia tak boleh melupakan bagaimana khilafah membantu penyebaran Islam melalui para wali. sejarah juga tidak boleh lupa, bagaimana khilafah membantu negeri nusantara ini, mengusir portugis dan belanda dari bumi yang kita cintai ini. masih kah kita menutup mata dengan khilafah yang bisa menyelamatkan negeri ini?

“Tidak patut bagi Mukmin dan Mukminat, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat secara nyata” (TQS al-Ahzab [33]: 36)