Oleh: Desi Wulan Sari

Aku memiliki dua pasang mata mungil di rumahku. Fatih, Seorang anak laki-laki kuat, sehat, periang, gigi atasnya ompong, habis dimakan gula-gula dan susu favoitnya, tubuhnya energik, percaya diri, dan karakternya selalu ingin tau dengan jawaban memuaskan atas apa-apa yang ditanyakannya. Satu lagi seorang anak perempuan Malika namanya. Wajahnya cantik bak bidadari surga, penyayang, badannya mungil, giginya besar dua di depan. Selalu tersenyum, bertanggung jawab ketika diberikan amanah, hanya sedikit sensitif, dan memilki daya ingat yang super glowing.

Ketika aku menatap mereka, seakan hidup tanpa perasaan beban dalam dirinya, baginya hidup adalah mencintai keluarga dengan segala aktifitas kesehariannya. Entahlah nak, bagaimana engkau memandang dunia yang luas diluar sana. Penuh dengan lika -liku kehidupan yang terkadang ramah, namun terkadang kejam bagi manusia.

Aku sadar anakku, walau dunia manusia dewasa tidak sama indahnya dalam pandangan mungilmu, tapi aku tak kuasa menahan tubuh mungilmu untuk bergerak, berlari, melompat, berjalan kesana kemari bersama mulut mungilmu yang selalu lantang berteriak, tertawa, nenangis, dan marah dalam peran-peran kehidupan yang engkau mainkan.

Aku teringat kalimat ajaib yang tercatat dalam otakku, seoamg penulis mengatakan kalau anak itu memiliki dunianya sendiri yang berbeda dengan dunia orang dewasa yaitu dunia bermain. oleh karena itu, janganlah sekali-kali melarang anak-anak bermain dan terus-menerus memaksa mereka untuk belajar, karena dengan melarang mereka bermain dan memaksanya untuk belajar akan mematikan hatinya, melemahkan kecerdasannya dan menyempitkan hidupnya. (Imam Musbikin, 2010)

Tidak….
Jangan khawatir anakkku sayang, aku tidak akan menghalangimu untuk terus menikmati dunia bermainmu, sampai waktunya tiba nanti. Kapan? Mungkinkah 3 atau 4 tahun mendatang? Jawaban apapun bisa terungkap oleh waktu. Namun yang pasti nak, Saat itulah aku akan mulai mengisi gelas-gelas mungilmu dengan air-air jernih yang Menyehatkan. Perlahan tapi pasti, gelasmu akan penuh pada akhirnya. Akan ku isi hari-hari mu kelak dengan ilmu mulia tak terbantahkan sebagai bekal hidup dimasa datang.

Dua pasang mata mungilku, aku akan mendampingi dan membawa dirimu untuk melngkah satu demi satu, jalan hidup diluar sana yang sedang menantimu. Kalian harus tahu bahwa Allah maha pencipta dengan kasih sayangnya atas segala apa-apa yang akan engkau lihat kelak, yaitu riuhnya kehidulan manusia di luar Sana.

Namun, saat ini teruslah bermain qurota’yun ku. Dunia kecilmu senantiasa menjadi ingatan terindah dalam hidupmu. Dunia yang tidak boleh dirampas oleh orang dewasa disekitarmu. Jadilah dirimu sendiri, berkembang luas dengan wawasan warna warnimu. Belajarlah dengan caramu sendiri. Karena di mata mungilmu aku hanyalah seorang pelindung bak malaikat duniamu, yang selalu membuka tangan selebar cinta dan hangatnya rindu untuk pelukan dari seorang Ibu.

Bogor, 14 Juli 2020