Oleh Fadkhuli Jannati

Kuda Troya Sosialisme Komunisme Seganas Kuda Troya Demokrasi Kapitalisme

Oleh Fadkhuli Jannati

Mengingat kembali kisah Perang Troya, tentang tipudaya pasukan Yunani untuk memasuki kota troya . Setelah pengepungan sekitar 10 hari, belum berhasil menguasai kota Troya, pasukan Yunani membuat patung kuda raksasa dari kayu dan menyembunyikan beberapa prajurit ke dalamnya. Pasukan Yunani lainnya berpura-pura meninggalkan kota. Ibarat mendapatkan hadiah kemenangan, orang-orang Troya menarik patung kuda kayu ke dalam kota sebagai lambang kemenangan. Malamnya pasukan Yunani keluar dari patung kuda dan membuka gerbang kota Troya, sehingga pasukan Yunani lainnya masuk dengan leluasa, menghancurkan kota Troya, dan memenangkan perang.
Kini secara metamorfosis istilah “kuda troya” bermakna “tipudaya”

Kesadaran rakyat Indonesia khususnya kaum muslimin terhadap kuda troya (tipu daya) sosialisme komunisme sangat tinggi, bahkan bisa dikatakan trauma, takut dan ngeri mendengar kata komunis. Ini tidak berlebihan, karena kaum muslimin pernah mengalami situasi yang sangat mencekam dan memilukan. Bagaimana tidak, mereka mengalami penyiksaan, pembunuhan dan pembantaian saat peristiwa pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) dan beberapa partai sosialis lainnya yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) tahun 1948 di Madiun (SindoNews. Com). Korban pembantaian sekiar 1920 orang (DetikNews). Belum lagi pembunuhan para Jendral Angkatan Darat pada tahun 1965 yang disebut gerakan G30SPKI.

Tipu daya komunis berupa slogan : sama rasa sama rata, yang bermakna keadilan bagi seluruh manusia (tidak ada perbedaan /kesenjangan antara manusia satu dengan yang lain), juga slogan: berpihak pada rakyat kecil, sehingga mewujudkan kesejahteraan ternyata hanya tipu daya yang berakhir dengan kebengisan yang luar biasa yang menghilangkan sifat kemanusiaan.

Bagaimana mungkin bisa mewujudkan nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan, sedangkan pada Al Kholik (Sang Pencipta ) saja mereka tidak mengakui dan menghargai, bagaimana bisa menghargai manusia.

Kesadaran inilah yang mendorong kaum muslimin akhir-akhir ini melakukan aksi tolak komunis, bahkan dengan disertai resolusi jihad (qital=perang), merupakan bukti kaum muslim sadar untuk membela kebenaran (al haq= Islam) dengan raga dan jiwa (nyawa).

Hampir di seluruh kota besar di Indonesia terjadi aksi penolakan komunis, berawal dari Solo, Surabaya dan beberapa kota besar lainnya (3 Juli 2020), disusul Jawa Barat (10 Juli 2020), puncaknya aksi di Jakarta (11 Juli 2020).

Kuda Troya Demokrasi Kapitalisme Juga Sangat Berbahaya.

Seharusnya kaum muslimin juga menyadari bahwa bahaya besar bukan hanya pada sistem komunisme, namun juga demokrasi kapitalisme.

Demokrasi lahir dari aqidah (ideologi) kapitalisme, asas yang mendasarinya adalah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Tuhan tidak boleh ikut campur mengatur urusan manusia. Tuhan hanya punya hak untuk menciptakan dan tidak berhak untuk mengatur manusia.

Tipu daya demokrasi nampak jelas dari ide kebebasan yang ditawarkan, antara lain: kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan dan kebebasan bertingkah laku. Seolah-olah manusia akan bahagian jika hidup dalam alam kebebasan

Nyatanya, kebebasan yang ditawarkan demokrasi kapitalisme hanya slogan saja. Lihatlah kebebasan beragama yang mereka gembar-gemborkan faktanya tendensius.
Kaum muslimin yang ingin bersungguh-sungguh menjalankan agamanya justru mendapat serangan luar biasa, mulai dari tuduhan teroris, kriminalisasi terhadap ulama dan ajaran islam , hingga penyiksaan, pembantaian, dan pengusiran dari tanah kelahiran mereka.

Tengoklah fakta sejarah, sejak puluhan tahun silam ketidakadilan terjadi pada kaum muslimin. Pembantaian muslim bosnia (25 tahun yang lalu) oleh Serbia misalnya, yang memakan korban sekitar 8000 orang. Janji PBB untuk memberikan keadilan pada muslim Bosnia hingga kini tak terwujud. Belum lagi serangan dan pembantaian terhadap rakyat Palestina sejak sekitar tahun 1967 hingga kini, yang memakan korban jutaan orang (TribunNews. Com).

Hingga kini ketidakadilan dan pembantaian terhadap kaum muslimin terus saja terjadi, kaum muslimin Rohingnya, Kashmir, Uygur, India dan masih banyak lagi di belahan bumi yang lain. Negara-negara pelopor Demokrasi Kapitalisme membiarkan dan menyaksikan itu semua tanpa penolakan. Inikah kebebasan beragama yang mereka dengungkan?

Kebebasan berpendapat yang mereka agungkan pun juga tendensius. Berapa banyak fakta jika kaum muslimin menyampaikan kebenaran (ide-ide islam) justru ditudah makar, menyebarkan berita hoax sehingga dikriminalisasi.

Ide Kebebasan Kepemilikan merupakan tipu daya besar , dimana sumber-sumber kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak bebas untuk dikuasai kelompok, bahkan individu, sehingga angka kesenjangan sosial sangat tinggi, yang kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Data tahun 2015 menunjukkan bahwa kekayaan dunia dikuasai oleh 62 orang saja, padahal di tahun itu jumlah penduduk bumi mencapai sekitar 7 milyar orang. Tahun 2016 kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 8 orang yang kekayaannya setara dengan 3,6 milyar orang penduduk miskin (CNN. Indonesia, 2 Januari 2020).

Indonesia sendiri sudah tergadai pada asing. Rezim memberikan peluang besar pada asing untuk menguasai Indonesia. Perpres 44/2016, tentang batasan kepemilikan asing dalam perusahaan penyelenggara transaksi perdagangan, asing boleh menguasai maximal 49 % bila investasi dibawah 100 milyar, untuk investasi di atas 100 M tidak ada batasan, tidak heran jika perusahaan besar di negri ini 80% lebih dikuasai asing (Bisnis. Com)

Adapun ide kebebasan bertingkah laku, sesungguhnya telah memerosotkan martabat manusia sampai pada derajat binatang. Sensus sebuah koran AS menyebutkan bahwa satu juta orang di AS melakukan hubungan seksual dengan keluarga sendiri (incest), baik dengan ibu, anak , maupun saudara.

Di Indonesia sendiri pergaulan bebas, perzinaan, ibarat penyakit kronis. Bahkan fenomena miris akhir-akhir ini terjadi pesta sex 37 pasang anak SMP, sungguh memprihatinkan di negeri mayoritas muslim. Bahkan hasil penelitian Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM tahun 2016 menunjukkan bahwa 58% remaja hamil dan berupaya melakukan aborsi (Republika. co. id)

Sistem Islam Memberikan Keadilan, Kesejahteraan Dan Rahmat Bagi Seluruh Alam

Sejarah telah membuktikan bahwa di jazirah Arab khusus Makah, sebelum kedatangan islam telah terjadi kedholiman dan kebodohan yang luar biasa. Perbudakan, pertikaian antar suku, merendahkan derajat wanita bahkan mengubur bayi perempuan hidup-hidup dan lain sebagainya. Islam datang dengan membawa pemahaman yang benar, meluruskan cara berfikir manusia untuk tunduk kepada Sang Pencipta beserta aturannya, sehingga masyarakat mekah dan Madinah berubah menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi, terwujudnya keadilan dan kesejahteraan tidak hanya bagi kaum muslimin, tapi juga seluruh manusia bahkan seluruh alam

Hal tersebut dikarenakan Rasulullah Muhammad SAW mangajak manusia untuk tunduk pada sistem yang berasal dari Al Khalik (Tuhan semesta Alam) yang maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sehingga terwujud kegemilangan islam yang terus berlangsung bahkan sepeninggal Rasulullah dan para shahabat hingga 13 abad kemudian.

Beberapa ahli sejarah Barat menggambarkan era kegemilangan islam sebagai pemimpin dunia, diantaranya : Jacques C. Reister berkomentar: Selama beratus-ratus tahun lamanya Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi.

Kebenaran hukum -hukum Allah yang digali dari Al-Qur’an dan Assunah itulah yang mengantarkan manusia menuju pada kebahagiaan yang hakiki.

Kebenaran Al Qur’an bersifat mutlak. Semua perkara yang diberitakan pasti benar, demikian pula keadilan hukum yang diterapkannya.

Allah SWT berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًا ۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

(QS. Al-An’am 6: Ayat 115)

Realitas itu seharusnya membuat kaum muslimin sadar untuk mengikuti Rasullah dan mengambil hukum-hukum dari Al Qur’an, karena semua yang diharomkan oleh Allah pasti buruk bagi manusia dan semua yang dihalalkan pasti manfaat bagi manusia.

Allah SWT berfirman:

اَ لَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُ مِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ وَا لْاِ نْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰٮهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰٓئِثَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka

(QS. Al-A’raf 7: Ayat 157)

Dan sudah seharusnya kaum muslimin segera meninggalkan sistem (hukum) selain islam, karena mengikuti mereka berarti membiarkan diri kita terjebak dalam tipu daya mereka.

Allah SWT berfirman:

وَاِ نْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَ رْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِ نْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat
tipu daya.”

Wahai kaum muslimin mau sampai kapan kita terjebak dalam tipudaya musuh islam ? Bersegeralah memenuhi seruan Allah dan RasulNya.
Wallahu a’lam bisshowab