Oleh : Rima Septiani
(Aktivis Mahasiswi Kendari)

Belum berakhir masalah akibat pandemi Covid-19, berita duka kembali menyelimuti kaum Muslimin. Insiden penyelamatan Muslim Rohinya baru-baru ini, rasanya cukup menguras air mata. Pasalnya,warga Desa Lancok menolong sekitar 100 pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di atas perahu mereka di perairan Aceh Utara pekan lalu. Para pengungsi meminta disiapkan perahu yang bagus karena mereka sebenarnya ingin ke Australia.

Hingga saat ini, para pengungsi telah mendapatkan bantuan makanan dari warga yang berada di Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara. Namun sebagian di antara mereka masih memerlukan bantuan medis setelah berada di lautan selama lima bulan.(liputan6.com/30/6/2020)
Derita Muslim Rohingya
Perlakuan pemerintah Myanmar terhadap masyarakat minoritas Muslim Rohingya merupakan kategori pelanggaran HAM berat. Tanpa memandang aspek kemanusiaan, mereka melakukan pembersihan etnis atau genosida massal, hanya karena mereka seorang Muslim, mereka tidak segan menunjukkan kebencian dengan cara mengusir Muslim Rohinya dari bumi Myanmar.

Bukan hanya terusir, mereka pun tak diterima di berbagai negeri tempat persinggahan. Seperti dikatakan Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM), ketika pemerintah Asia Tenggara menggunakan pandemi Covid-19 sebagai alasan untuk memalingkan wajah dari para pengungsi Rohingya. Astagfirullah

Pembunuhan massal, pemerkosaan berkelompok, penyiksaan dan pembakaran yang terjadi pada Muslim Rohingya merupakan bentuk kebencian membara yang ditujukan oleh pemerintah Myanmar. Akibat tindakan keras tersebut, tidak sedikit dari muslim Rohingya yang tertekan hingga mati dalam penderitaan.

Bisa dikatakan bahwa etnis Rohingya merupakan etnis paling teraniaya di dunia, melihat kekerasan yang mereka alami sudah dialami sejak beberapa tahun silam. Rekam jejak penindasan yang dilakukan oleh pemeritah Myanmar tak pernah dilupakan oleh kaum Muslimin.

Tahun 2012 insiden terjadi antara etnis Rohingya dan etnis Buddha. Bentrok tersebut mengakibatkan 200 orang tewas dan 140.000 orang kehilangan tempat tinggal.
Lanjut tahun 2015, sebanyak 25.000 etnis Rohingya mengungsi dari Rakhine menggunakan perahu melalui Teluk Bengal. 370 orang tewas di laut dan 3.500 orang terdampar di Indonesia, Malaysia dan Thailand.
Pada tahun 2016 yaitu sekitar bulan Oktober-November terjadi insiden yang diawali ditudingnya warga Rohingya menjadi dalang tiga serangan ke pos penjagaan aparat Myanmar yang mengakibatkan sembilan aparat tewas. Namun, tidak ada bukti konkret.

Dalam insiden ini setidaknya 86 etnis Rohingya tewas, 1.250 rumah hancur. Sebanyak 30.000 orang mencoba melarikan diri ke Bangladesh, namun dicegat. 72 orang tewas di sungai Naaf yang berbatasan dengan Bangladesh (cnnidonesia.com, 25/06/2020).
Penindasan tak berkesudahan terus saja menimpa Muslim Rohingya, Membuat kita bersimpatik dan bersedih melihat mereka terdampar di atas kapal-kapal kecil dalam waktu yang cukup lama, terombang-ambing di lautan tanpa tujuan yang jelas. Mereka terusir dari negara mereka.Seharusnya memantik persatuan umat Islam di tengah keterpurukan umat yang tak berkesudahan.

Konsep Nation state (negara bangsa) yang disuarakan begitu lantang, tak mampu memberi perlindungan utuh terhadap jiwa dan raga kaum Muslimin. Penindasan rakyat Palestina, Uighur Cina dan Muslim Rohingya menjadi bukti akan jahatnya sistem yang berjalan saat ini. Justru karena ide inilah kita tak dapat menolong saudara kita di sana. Kita dibatasi oleh sekat-sekat wilayah yang mempersulit untuk melakukan perlawanan.Nation state telah menyekat negeri-negeri Muslim dan menghilangkan ukhuwah atas nama keamanan dalam negeri.

Bukan hanya itu, pemimpin kaum Muslimin seluruh dunia hanya bisa diam membisu menyaksikan kebiadaban yang dilakukan orang-orang kafir. Yang terlontar hanya sebuah kecaman tanpa ada realisasi yang nyata. Terpuaskan hanya dengan mengirimkan obat-obatan, makanan dan pakaian. Apakah ini cukup untuk menolong mereka. Rasanya tidak.

Faktanya, pemimpin kaum Muslimin tidak lain hanyalah antek-antek barat. Demi kepentingan nasionalnya, mereka diam seribu bahasa. Menyuarakan dan mengirimkan pasukan jihad merupakan hal terlarang. Padahal, sejatinya hanya dengan jihad lah kaum Muslim dapat menghilangkan penjajahan atas mereka.
Solusi Masalah Rohingya

Hanya Khilafah lah yang akan menyelamatkan ketertindasan Muslim Rohingya. Dengan penerapan Islam secara kaffah seluruh kaum Muslimin akan terjamin harta , jiwa dan raganya. Konsep Islam kaffah yang akan mempersatukan seluruh kaum Muslimin di bawah naungan akidah Islam, sehingga ide-ide rusak yang menelantarkan kaum Muslimin akan diberantas secara tuntas tanpa bekas.

Islam mengharamkan kaum Muslimin untuk mengadopsi paham nasionalisme atau sekat kebangsaan karena hal ini merupakan bentuk penghancuran atas kesatuan kaum Muslimin. Rasulullah SAW bersada:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur.” (HR Bukhari-Muslim).
Dengan demikian Khilafah akan melindungi darah seluruh kaum Muslimin, melindungi mereka dari segala bentuk penindasan terutama dari kaum Kafir.
“Imam/Khalifah itu tak lain laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” (HR Bukhari-Muslim)

Dengan kepemimpinan Khilafah, persatuan seluruh kaum Muslimin akan terwujud. Melindungi darah kaum Muslimin. Dengan Khilafah kaum kafir tak akan berani untuk menindas umat Islam.
Wahai Kaum Muslimin, tentu kita ingin masalah Rohignya menemui akhirnya. Problematika akut yang melanda hampir seluruh sendi-sendi kehidupan haruslah segera dibuang. Sistem sekularisme yang menjadi akar masalah dunia saat ini, harus segera disingkirkan.

Saatnya menyelamatkan Muslim Rohingya dengan Khilafah. Insya Allah, hanya Khilafah lah yang akan menyelesaikan permasalahan seluruh kaum Muslimin. Kepemimpinan umat yang satu akan membawa rahmat bagi seluruh alam, menjaga kehormatan dan darah kaum Muslimin, hingga umat ini menjadi umat terbaik bagi seluruh alam. Wallahu ‘alam bi ash shawwab.