Oleh: Ita Mumtaz

Komunitas menjijikkan LGBT semakin mendapatkan ruang untuk eksis. Perusahaan besar Unilever menyatakan komitmen dukungannya kepada gerakan warna pelangi itu. Pernyataan itu diposting di akun instagram Unilever Global pada Jum’at 19 Juni 2020. Salah satu bentuk dukungannya adalah dengan menampilkan logo perusahaan diubah menjadi warna pelangi.

Kaum muslim tidak boleh tinggal diam. Jika dibiarkan merebak, maka tunggu saja, negeri muslim terbesar ini akan menemui kehancurannya.

Mengingat dukungan yang teramat kuat kepada LGBT, maka suara penolakan harus lebih tinggi diteriakkan. Digaungkannya dukungan ini pun bukan yang pertama kali. Unilever bukan satu-satunya perusahaan yang terang-terangan mendukung LGBT. Ada 20 perusahaan besar yang juga menyatakan dukungannya. Termasuk di antaranya Microsoft, Facebook, Walt Disney, Apple, Nike, Starbucks.

Masyarakat muslim yang menentang tentu lebih besar. Baik di dunia maya maupun kehidupan nyata. Seruan boikot terhadap produk Unilever pun kencang terdengar.

Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain. “Saya selaku ketua komisi ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever,” kata Azrul saat dihubungi Republika, Ahad (28/6).

Tidak ada yang salah jika kaum muslim memboikot produk dari para pendukung gerakan LGBT. Sebagai bentuk perlawanan kita kepada kemaksiatan. Hanya saja, perusahaan raksasa Unilever terlalu besar. Bisnisnya sudah menggurita di tengah-tengah umat. Justru masyarakat sudah tergantung dengan berbagai produk yang merupakan kebutuhan sehari-hari.

Masalahnya pula, gerakan LGBT adalah gerakan internasional yang sangat masif dan terstruktur dengan dukungan dana besar. Di Eropa dan Amerika, LGBT sudah menjadi gerakan politik. Eksistensinya pun semakin kuat sejak AS melegalkan pernikahan sejenis tahun 2015.

Padahal dalam pandangan Islam, LGBT adalah perbuatan keji dan dosa besar dengan ancaman hukuman sangat berat. Selain menimbulkan berbagai macam penyakit fisik, mental dan keburukan yang lain terhadap pelakunya, juga berdampak pada kondisi sosial masyarakat secara umum.

Sebagaimana Firman Allah dalam surat al-A’raf 81.

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, kamu benar-benar kaum yang melampaui batas”

Sanksi Allah bagi kaum Luth telah dijelaskan dalam Alquran surat Hud 82. Bahwa Allah Swt memberi sanksi kepada mereka dengan khasf (dilempar batu hingga mati).

Bahkan Ali bin Abi Thalib ra. mengatakan, ”Liwâth adalah perbuatan dosa yang belum pernah dilakukan oleh umat manusia, kecuali satu umat, yakni umat Luth, sebagaimana yang telah kalian ketahui. Dengan demikian kami punya pendapat bahwa pelaku liwath harus dibakar dengan api.

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad dari bapaknya dari Ali bin Abi Thalib selain dari kisah ini berkata, ”Rajam dan bakarlah dengan api.”

Demikian tegas dan berat hukuman bagi kaum Luth. Ini merupakan hukuman dari Sang Pencipta yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi manusia. Maka jika ada yang membela LGBT, sejatinya mereka adalah para pembangkang Tuhan semesta alam.

Hanya Ideologi Islam yang Mampu Mengalahkan

Gerakan berbasis sistem hanya mampu dihadapkan dengan sistem pula. Jadi yang dibutuhkan adalah boikot sistem untuk melawan gerakan LGBT yang semakin mendunia. Ideologi kapitalisme yang mendominasi umat saat ini memang harus segera dihancurkan.

Tak ada lagi alasan untuk mempertahankan sistem yang merusak ini. Hanya ideologi Islamlah yang mampu mengalahkan hegemoninya. Karena Islam adalah ideologi yang lahir dari Wahyu Sang Pencipta. Islam dengan seperangkat aturan dari Sang Pemilik bumi dan seisinya yang mampu memberikan solusi terbaik dari berbagai masalah yang mendera umat saat ini.

Sungguh tidak ada pilihan lain bagi seorang muslim, kecuali harus berjuang di garda depan untuk mengembalikan penerapan syariah Islam. Wallahu a’lam bish-shawwab.