Oleh : Lilik Yani (Muslimah Peduli Umat)

Idaman setiap orang tua muslim jika memiliki anak-anak penghafal al-Qur’an. Apalagi jika selain hafidz, dia juga memahami al-Qur’an dan menerapkan dalam seluruh aktivitas kehidupan.


Sebuah keluarga muda, memiliki visi sama untuk mencetak generasi Qur’ani dalam keluarganya. Maka dimulailah dari diri mereka berdua untuk mulai menghafalkannya. Tekat dan komitmen yang kuat ditancapkan di hatinya. Setiap hari mereka berusaha keras untuk interaksi dengan al-Qur’an dan menghafalkannya.

Perlu waktu 6 tahun, mereka bisa hafal 30 juz al-Qur’an. Bersamaan dengan proses menghafal, mereka mendirikan kelas-kelas pelajaran al-Qur’an yang diikuti oleh para pecinta al-Qur’an.

Ketika hamil anaknya, janin dalam rahim itu selalu dibacakan al-Qur’an dan dilibatkan dalam proses belajar mengajar ayah bundanya. Setelah lahir, dia sering diajak bundanya menghadiri kelas-kelas al-Qur’an. Walaupun di kelas dia hanya duduk diam mendengarkan, namun ternyata dia menyerap isi pelajaran.

Saat usia 2 tahun 4 bulan, dia sudah menghafal juz 30 secara otodidak. Hasil dari rutinitasnya dalam mengikuti aktivitas ibundanya yang menjadi penghafal dan pengajar al-Qur’an. Melihat bakat istimewa anaknya, maka ayahnya pun secara serius mengajarkan hafalan al-Qur’an juz 29. Setelah dia berhasil menghafal juz ke 29, dia mulai diajari hafalan juz pertama oleh ayahnya.

Untuk memulai menghafal al-Qur’an, dia diajari terlebih dahulu membaca al-Qur’an, hal ini dilakukan agar dia bisa mengecek sendiri hafalannya tanpa bergantung pada ayahnya terus. Kemudian ayahnya menciptakan metode sendiri untuk mengajarkan makna-makna al-Qur’an, yaitu dengan menggunakan isyarat tangan. Misalnya saat melafazhkan kata Allah, tangan menunjuk ke atas. Saat melafazhkan kata yuhibbu yang berarti mencintai, maka tangan seperti memeluk sesuatu, dan yang lainnya disesuaikan makna agar anak mudah memahami.

Selain itu kalau ayahnya akan menceritakan makna suatu ayat secara keseluruhan dengan menggunakan bahasa yang sederhana kepadanya. Kemudian dia akan menirukan ayahnya, mengucapkan ayat itu sambil melakukan gerakan-gerakan tangan yang mengisyaratkan makna ayat.

Metode ini sedemikian berpengaruh pada kemajuan dirinya dalam menguasai ayat-ayat al-Qur’an. Hingga dengan mudah dia mampu menerjemahkan ayat-ayat itu ke dalam bahasa ibunya. Dan dia mampu menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari.

Ketika banyak orang menyebut bahwa anaknya merupakan anak istimewa. Ayahnya tidak setuju. Karena ayahnya berpendapat, semua anak bisa memiliki kemampuan seperti anaknya. Dengan catatan prakondisi dan kondisinya harus disiapkan lengkap. Dalam arti harus ada persiapan dulu dari orangtuanya.

Dulu ketika dia masih dalam kandungan, kedua orangtuanya sudah mulai membacakan ayat-ayat al-Qur’an untuknya. Kemudian sejak kecil dia dididik dan dibesarkan dalam lingkungan yang cinta al-Qur’an.

Untuk itulah, ada pesan dari ayah dia, bila ada orangtua yang menginginkan anaknya menjadi pecinta dan penghafal al-Qur’an, langkah pertama yang harus dilakukan adalah orangtuanya terlebih dahulu juga harus mencintai al-Qur’an dan rajin membacanya di rumah.


Perjuangan keluarga tersebut berbuah manis. Di usia 5 tahun, anaknya sudah hafal 30 juz. Dan di usia 7 tahun, dia paham arti dan tafsir al Qur’an. MasyaAllah, begitu besar nikmat yang diberikan pada keluarga tersebut. Seluruh keluarga sangat kompak, memiliki visi misi sama. Visi akherat. Menjadi generasi pecinta al-Qur’an.

Jika kelurga tersebut bisa, maka keluarga lain pun juga bisa. Butuh tekat dan kemauan kuat untuk membentuk keluarga cinta Qur’an. Tidak mudah, tapi bisa. Karena sudah ada yang membuktikan, dan kita diberikan trik dan metode langkah-langkah untuk mewujudkannya. Hingga bisa ditiru dan diaplikasikan dalam perbuatan, demi meraih impiannya.

Jika tahu betapa besar manfaatnya menjadi hafidz, penjaga dan penghafal al-Qur’an. Dimana dia akan mendapat cahaya yang akan menyinari alam kubur. Kemudian di akherat kelak akan menjadi syafaat dan pembela baginya. Maka, sudah seharusnya jika semua keluarga muslim akan terus bersemangat memperjuangkannya.

Apalagi jika anak yang kita didik menghafal al-Qur’an, bisa menjadi hafidz dan hafidzah. Maka Allah akan memberikan hadiah berupa mahkota yang akan dipasangkan di kepala ayah bundanya. Subhanallah, nikmatnya jika hal itu dikaruniakan kepada kita.

Maka dari itu, selagi masih ada kesempatan, mari kita berjuang maksimal untuk membimbing anak-anak kita agar ingat Rabb-nya, lalu istiqomah interaksi dengan al-Qur’an. Kemudian dibaca, dihafalkan, dipahami, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hingga indahnya Islam bisa dirasakan seluruh alam.

Wallahu a’lam bisshawab