Oleh: Yudia Falentina, S. Hut (Pemerhati Generasi dan Sosial Masyarakat)

Berdasarkan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diklasifikasikan dalam 3 jenis pendidikan, yaitu Pendidikan Akademik, Pendidikan Vokasi, dan Pendidikan Profesi/Ahli.

Pendidikan Vokasi merupakan pendidikan mengacu kepada penguasaan keahlian terapan tertentu. Pendidikan terapan akan mendapatkan lebih banyak praktik dibandingkan teori yakni 60:40. Berbeda dengan pendidikan akademik dengan porsi praktek dan teori sebanyak 40:60.

Tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memulai gerakan “pernikahan massal” atau penyelarasan antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI). Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Diksi Kemendikbud, Wikan Sakarinto.

Tujuan utama dari gerakan ini agar program studi vokasi di perguruan tinggi vokasi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja.

Wikan optimistis bahwa program tersebut akan menguntungkan banyak pihak. DUDI akan diuntungkan dengan skema pernikahan tersebut. Dengan adanya “link and match” , lulusan pendidikan vokasi juga akan semakin dihargai oleh industri dan dunia kerja bukan semata-mata karena ijazahnya melainkan karena kompetensinya yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

Keberhasilan program ini harus didukung dan perlu partisipasi aktif banyak pihak baik pemerintah pusat maupun daerah, serta seluruh pemangku kepentingan. Perlu kerja sama semua pihak agar perjodohan ini berhasil baik pusat, daerah maupun stakeholder,” terang Wikan (antaranews.com, 27/5).

Pendidikan Vokasi yang Minus Visi

Sekilas pendidikan Vokasi memang sangat menjanjikan bagi lulusan SMK atau perguruan tinggi. Pasalnya selepas sekolah dan kuliah mereka langsung bekerja pada perusahaan yang memang sesuai dengan bidang mereka. Sehingga mendorong orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di SMK ketimbang SMA.

Selain itu jika anak disekolahkan di SMA kelak harus melanjutkan ke perguruan tinggi yang biasanya bisa berjeti-jeti. Biaya kuliah yang tinggi tersebut juga tak menjamin nantinya anak bakal mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena fenomena yang terjadi justru angka pengangguran kian bertambah dari tahun ke tahun.

Hal ini pula yang menghantarkan masyarakat kita pada pemahaman bahwa pendidikan itu hanya bertujuan meraih pekerjaan dan materi selepas sekolah dan bangku kuliah. Sehingga ketika sekolah atau kuliah yang dikejar hanyalah seonggok nilai atau angka-angka dalam ijazah.

Ini menunjukkan sisi pragmatis pendidikan pada sistem Kapitalis. Saat pendidikan hanya dipandang sebagai jalan mendapatkan masa depan yang lebih baik dari segi finansial. Pemahaman tersebut diataslah yang melatar belakangi terbentuknya ide pendidikan Vokasi. Dengan tujuan membentuk SDM lulusan sekolah menengah atau perguruan tinggi yang memiliki kompetensi dalam mendapatkan pekerjaan.

Visi Besar Pendidikan Islam

Visi pendidikan dalam Islam yakni menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai hamba Allah dan Khalifah Allah di muka bumi. Dalam Islam, pendidikan tidak sekadar berorientasi mengejar lulusan siap kerja. Namun, orientasi lulusannya haruslah berimbang antara dunia dan akhirat.

Pada aspek dunia, mereka dibekali saintek, keterampilan, dan semua hal yang dibutuhkan agar berdaya guna di tengah masyarakat. Ilmunya digunakan untuk sebesar-besar kemaslahatan umat.

Dalam aspek akhirat, ia akan bertumbuh menjadi generasi yang memiliki kepribadian mulia. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim yang tak hanya pandai ilmu saintek. Mereka juga cakap dalam ilmu agama. Pendidikan Islam juga mendorong para lulusan bermental pemimpin peradaban.
Kapitalisme mungkin berhasil menciptakan generasi kerja. Namun, ideologi ini gagal membentuk generasi berkarakter mulia. Kapitalisme boleh saja menciptakan industri besar. Namun, ideologi ini juga gagal membangun industri berbasis kemandirian.

Islam memadukan orientasi dunia dan akhirat menjadi satu kesatuan. Selain berhasil membentuk generasi mulia yang beradab, Islam juga sukses mencetak SDM unggul di segala bidang. Baik politik, ekonomi, sosial, dan saintek.

Itulah keagungan sistem pendidikan yang menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat seorang hamba. Sebuah visi yang agung, yang memajukan peradaban manusia dengan naungan ilmu pengetahuan.

Visi pendidikan islam yang diuraikan diatas tak akan dicapai dalam Sistem Kapitalis sekuler yang diterapkan saat ini. Semua itu hanya akan tercapai dalam penerapan sistem islam secara menyeluruh, penetapan islam secara totalitas bukan islam yang dipilah-pilah (sekulerisme). Wallahu a’lam bish-shawab.