Oleh: Herawati, S.Pd.I

Tragedi pembantaian di Srebrenica tahun 1995 silam menggoreskan duka bagi seluruh dunia khususnya umat muslim, sampai saat ini trauma itu belum hilang, khususnya bagi umat muslim di Bosnia. Dilansir dari,
https://m.cnnindonesia.com/internasional/20200712113724-134-523694/bosnia-peringati-25-tahun-pembantaian-muslim-di-srebrenica

Jakarta, CNN Indonesia —
Umat Muslim Bosnia menandai peringatan 25 tahun pembantaian Srebrenica pada Sabtu (11/7) waktu setempat, di tengah pandemi virus corona Covid-19.

Meski jumlah peserta menurun dari tahun-tahun sebelumnya, tapi tak sedikit pelayat yang berani menentang aturan pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran Covid-19 demi menghadiri peringatan tersebut. Peringatan tahun ini sekaligus menjadi upacara penguburan sembilan korban yang diidentifikasi selama setahun terakhir.

Pada 11 Juli 1995, usai Srebrenica dikepung, pasukan Serbia membunuh lebih dari 8.000 pria dan anak lelaki muslim dalam beberapa hari. Sehad Hasanovic, adalah salah satu dari sekitar tiga ribu kerabat korban yang menghadiri peringatan tersebut terlepas dari ancaman virus corona. Dia memiliki seorang putri berusia dua tahun -usia yang sama ketika dia kehilangan ayahnya.

“Sulit ketika kau melihat seseorang memanggil ayah mereka dan kau tidak memilikinya,” kata Hasanovic sambil menangis, dikutip dari AFP, Minggu (12/7)

Motif agama dan pelebaran kekuasaan menjadi alasan utama penyerangan tentara serbia terhadap umat muslim di Bosnia, serbia tidak terima karen pada tanggal 6 April 1992, komunitas Eropa mengakui kedaulatan negara Bosnia-Herzegovina. Yang akhirnya memicu konflik tiga etnis dominan, yakni Bosnia (Muslim), Serbia (Kristen Ortodoks), dan Kroasia (Katolik).

Mereka menganggap Bosnia sebagai musuh bersama. Hal ini sejalan dengan seruan kaum separatis Serbia dan Kroasia di wilayah Bosnia-Herzegovina sendiri. Masing-masing etnis itu menghendaki pembentukan wilayah otonom sejak Desember 1991.

Tragedi Srebrenica dan perang Bosnia menjadi pelajaran penting bagi generasi umat ini bahwa tanpa khilafah negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa muslim.

Tragedi ini juga menjadi bukti tidak adanya perlakuan adil PBB terhadap negara berpenduduk muslim, bahkan PBB menjadi alat melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim.

Ketiadaan Khilafah menjadi akar masalah terulangnya penindasan demi penindasan terhadap umat muslim diseluruh dunia, setelah khilafah runtuh tangga 3 maret 1924 M, saat itu juga umat muslim di seluruh dunia kehilangan sosok kholifah sebagai perisai (junnah).

Keruntuhan khilafah menyuburkan praktek penjajahan terhadap negeri-negeri Muslim, umat muslim diseluruh dunia menjadi saksi bagai mana penjajahan Zionis Yahudi terhadap muslim Palestina, kekejian tentara myanmar terhadap muslim rohingya, kedzoliman pemerintah china atas muslim oighur di china, dan masih banyak lagi kesombongan yang di pertontonkan oleh umat kafir penjajah.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Adalah Khalifah Al Mu’tashim Billah, seorang teladan abadi sepanjang masa. Kisah heroiknya dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriyyah, yang disebut dengan Penaklukan kota Ammuriah.

Pada tahun 837, al-Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang konon berasal dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar. Yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya.

Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah dengan lafadz yang legendaris yang terus terngiang dalam telinga seorang muslim: “waa Mu’tashimaah!” (di mana engkau wahai Mutashim… Tolonglah aku!)

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah.

Catatan sejarah menyatakan di bulan April, 833 Masehi, kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi.

Kisah Kholifah Al Mu’tashim Billah
Adalah bukti bahwa kholifah berfungsi sebagai perisai bagi umat Islam, untuk itu umat Islam harus menyamakan arah pandang perjuangan pada penegakan Khilafah. Sistem ilahi yang hadir sebagai wujud kasih sayang Allah SWT kepada makhluk-Nya. Agar rahmat Islam tersebar kepenjuru alam.

Wallahu a’lam bishawwab.