Oleh: Maman El Hakiem

Badai belum berlalu. Wabah masih berlanjut. Resesi ekonomi dunia di depan mata. Negara maju seperti Singapura, Australia, Amerika dan lainnya telah kehilangan akal sehat untuk menyelamatkan ekonominya. Pun negara berkembang sudah pasti semakin tertekan, depresi mata uang kertas semakin nyata. Pengetatan anggaran belanja dan perampingan berbagai sektor yang banyak menyedot dana harus dipangkas. Inilah sikap seperti rumor yang akan dilakukan penguasa negeri ini untuk “membubarkan” belasan lembaga atau badan negara.

Wabah covid-19 telah mampu menjadikan manusia di dunia terbuka karakter aslinya. Manusia kapitalisme dengan “kedunguannya” telah menjadi “covidiot capitalist”, memaksakan membuka kenormalan hidup baru dengan menjadikan bisnis di atas keselamatan jiwa manusia. Begitupun manusia yang berusaha menggunakan “dalil” agama, namun cenderung fatalistik, meremehkan wabah ini dengan entengnya. Mereka bebas merasa “normal’ sehingga segala temuan dari sains selalu diabaikan. Protokol kesehatan begitu mudah dilanggar hanya dengan satu dalil “takdir tidak akan tertukar”.

Menurut Prof. Dr. Ing Fahmi Amhar dalam sebuah kajian di ruang virtual,manusia yang meremehkan sains di tengah wabah, hanya bermodal “kun fayakun” adalah karakter manusia “covidiot spiritualist”. Mereka mengesampingkan “kebenaran” sains hanya dengan kedangkalan ilmunya, seolah wabah itu hanya bisa dihalau dengan “doa”, padahal inilah peluang orang-orang beriman untuk menunjukan kebenaran tentang perintah Allah SWT agar senantiasa memikirkan segala ciptaan-Nya.

Jika manusia-manusia kapitalisme saat ini tengah berada dalam kegusaran dan rasa prustasi yang tinggi. Harusnya tidak demikian dengan orang-orang beriman yang lisannya selalu basah dengan dzikrullah, hatinya tenang dan akalnya tidak pernah berhenti memikirkan segala fenomena alam ini. Wabah yang diperkirakan panjang masa berakhirnya ini, harus menjadikan orang-orang beriman semakin teruji untuk terus mencari solusi di tengah pandemi.

Dalam kehidupan manusia, sebenarnya dihadapkan dengan dua zona yang menyertainya. Zona ketetapan Allah SWT yang tidak bisa dikuasai manusia, seperti keberadaan manusia yang terlahir ke alam dunia,tanpa mampu didesain oleh siapapun, kecuali hanya oleh Allah SWT. Ini adalah zona aman bagi manusia karena bebas dari pertanggungjawaban kelak di akhirat. Sedangkan, zona lain adalah zona yang mampu dikuasai manusia,itulah berupa pilihan perbuatan yang secara akal sehat mampu dipilih sebagai jalan keselamatan, bukan kesesatan. Maka, orang yang beriman hidup bukan pasrah dengan keadaaan,melainkan rela diatur oleh hukum Allah SWT dengan pilihan-pilihan akal sehatnya.

Ibarat badai yang belum berlalu, sedangkan bahtera harus tetap melaju. Segala hantaman ombak covid-19 ini tidak boleh meruntuhkan nilai-nilai tauhid kepada Allah SWT,tetap bersabar mengarungi lautan hidup yang ombaknya begitu ganas ini. Namun, sikap sabar itu adanya pada kekuatan mental,pahala batiniah, sedangkan secara lahiriah, tangan harus tetap mengkayuh berusaha menyelamatkan bahtera agar tidak karam di tengah badai.

Saat terjadi resesi ekonomi dunia,jauhkan segera segala “idiotisme”, hentikan gaya hidup kapitalisme yang serba instan, kebiasaan konsumtif dan penghamburan harta. Sudah saatnya kita berusaha dengan “tangan sendiri”, tidak lagi bergantung pada orang lain dalam mendapatkan rezeki, mengasah kreatifitas. Memanfaatkan celah pekarangan atau tanah yang ada untuk dimakmurkan,biasakan bercocok tanam untuk ketahanan pangan, mengubah kebiasaan dari terbiasa utang menjadi “tangan di atas” dalam meraih kemuliaan, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat dalam ketaatannya kepada Allah SWT. Kini, pohon kapitalisme segera tumbang, tentu hanya sistem Islam yang cocok tumbuh dan berkembang untuk menggantikannya.

Wallahu’alam bish Shawwab.***