Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban)

Dilansir dari media KOMPAS.com, 15 Juli 2020, setidaknya ada enam selebritas Tanah Air yang terlihat bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada hari yang sama. Diantaranya Boy William, Raffi Ahmad, Judika, Andre Taulany Ari Lasso, Gading Martin dan Desta. Apa urusan apa gerangan hingga Istana ” butuh ” mereka, kemana para Buzzer?

Para artis kemudian menggunggah foto kebersamaan mereka dengan orang nomor 1 di Indonesia, presiden Jowo Widodo. Sekaligus menulis pesan untuk bersama-sama melewati Pandemi Covid-19 di akun Instagram masing-masing, seperti yang ditulis Andre Taulany berikut:

“Ayo sama-sama kita berselancar di gelombang ombak pandemi ini ya pak… Ombak Besar jangan di lawan tapi kita belajar dan beradaptasi dengan ombak tsb sehingga kita bs berselancar dengan cantik diatas ombak. Tetap lakukan protokol kesehatan dan tingkatkan kesadaran dan disiplin kita , Bismillah kita bisa bersama2 melewati pandemi ini , Aamiin,” tulis Andre di akun @andrestaulany.

Agaknya ini memang salah satu strategi pemerintah guna melanjutkan skenario revisi pengucapan New Normal yang awalnya diucapkan oleh presiden Jokowi. Sebab penggunaan diksi new normal selama pandemi Covid-19 dinilai sulit dipahami oleh masyarakat. Akibatnya, pemerintah mengubah diksi tersebut menjadi adaptasi kebiasaan baru.

“Diksi new normal, dari awal diksi itu segera ubah. New normal itu diksi yang salah dan kita ganti dengan adptasi kebiasaan baru,” kata Yurianto dalam acara peluncuran buku Menghadang Corona: Advokasi Publik di Masa Pandemi karya Saleh Daulay secara virtual (kompas.com,10/7/2020).

Presiden Jokowi yang diketahui lebih sering mengucapkan new normal dan langsung menjadi istilah baru yang ramai diperbincangkan, dimana intinya Presiden Jokowi mengajak masyarakat “berdamai” dengan Covid-19. Istilah “berdamai” digunakan Presiden lantaran hingga kini vaksin virus corona belum ditemukan. Namun masyarakat harus tetap produktif.

Kemana para buzzer? Sudah lapukkah fungsi mereka? Agaknya strategi kali ini diambil dengan cara mengambil para public figure yang mempunyai banyak fans, sebagaimana ketika dulu Jokowi mengambil generasi milenial menjadi staf khususnya, Jokowi ingin menampilkan Citra yang lebih santai, hedonis tak terlalu protokoler dan itu ada pada kehidupan para artis. Seakan rakyat diminta untuk menggambarkan bahwa peralihan diksi akan segera membawa kebaikan.

Pengalihan ini bukan hal yang pertama dilakukan oleh penguasa ketika mereka gagal dalam melaksanakan kebijakan. Secara fakta memang penyebaran virus Corona hari ini di luar dugaan sebab kebijakan relaksasi PSBB, hingga “pemaksaan” beberapa wilayah di Indonesia untuk segara produktif perekonomiannya justru menambah jumlah pasien positiv Covid-19. Kebijakan New Normal sendiri adalah pengalihan yang sukses dipaksakan kepada rakyat.

Pemerintah pusat demikian pula dengan pemerintah daerah hingga hari ini tidak mengubah teknik penanganan maupun pendanaan pandemi Covid-19. Semua berjalan sebagai kemarin, padahal sudah jelas kegagalannya. Lantas bisakah berharap Desember tahun ini , kita berharap pandemi Covid-19 benar-benar hilang?

Rakyat sudah lelah berjuang sendiri, maka adakah bedanya jika yang menyampaikan ” kita harus bersama” hadapi Covid-19 itu pemerintah atau para artis? Justru merekalah ikon penghambaan kepada selain Allah, jika memang mereka datang ke Istana untuk ikut berkontribusi ke masyarakat tentang solusi tuntas pandemi Covid-19, tentu yang disampaikan adalah solusi hakiki, yaitu kembali kepada aturan Allah bagaimana keluar dari pandemi ini.

Sebab, seorang pemimpin bukanlah seorang sutradara yang sibuk mengganti peran utama atau peran pembantu, namun bagaimana mengupayakan secara real kesejahteraan rakyatnya dunia akhirat. Rasulullah bersabda :

“Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah ): Orang tua yang berzina, Penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim). Wallahu a’ lam bish showab.