Oleh: Yudia Falentina, S. Hut (Pemerhati Generasi dan Sosial Masyarakat)

Tragis, 37 orang remaja dibawah umur terjaring razia Pekat (Penyakit Masyarakat) disalah satu hotel di Provinsi Jambi. Razia ini dilakukan oleh tim gabungan TNI/Polri bersama Pemerintah Kecamatan Pasar Kota Jambi.

Dalam razia itu, banyak yang terjaring anak-anak remaja di bawah umur. Mereka menyewa kamar hotel untuk pesta seka. Sangat miris sekali. Laki-lakinya umur 15 tahun, ada perempuannya umur 13 tahun. Bahkan ditemukan ada 1 perempuan 6 laki-laki di satu kamar.

Puluhan pasang anak muda itu terjaring dari berbagai tempat, di antaranya hotel Ceria, Bintang Timur, Sarinah, Mayang Sari.Tak hanya itu, saat ditangkap, petugas juga menemukan barang bukti berupa satu kotak alat kontrasepsi dan obat kuat.

Razia tersebut dilakukan berdasarkan adanya laporan dari masyarakat tentang banyaknya remaja yang menggunakan kamar hotel saat pesta ulang tahun. Sebagai sanksi kepolisian akan memanggil orangtua puluhan remaja yang terjaring dalam razia. Juga akan memberikan teguran keras kepada pihak hotel karena telah menerima anak di bawah umur untuk menginap di kamar (kompas.com,11/7)

Kejadian ini tentu sangat melukai hati kita, apalagi bagi para orang tua yang anaknya terjaring razia. Bagaimana mungkin anak-anak yang masih labil itu telah terpapar seks bebas, bahkan tak malu lagi untuk unjuk diri. Harusnya mereka sibuk sekolah dan membantu orang tua, bukan membuat ulah. Tentu ini bukan sebuah prestasi, tapi noda hitam dunia generasi abad ini.

Memang negeri ini sudah bobrok karena beragam kasus pornoaksi, pornografi, bullying, pelecehan seksual, kekerasan, incest dan masih banyak lagi angkanya terus bertambah, demikian pula korban ataupun pelakunya bukan hanya dewasa namun anak-anak juga.

Semua itu tak lepas dari berbagai propaganda media. Media televisi penyumbang besar rusaknya generasi abad ini. Lewat tontonan berupa sinetron beraroma pacaran dan roman picisan. Mulai dari tayangan Dylan, Dua Garis Biru juga berbagai sinetron yang identik dengan adegan ciuman. Sehingga tak jarang saat ini gadis belia yang dihamili pacarnya, hingga aborsi bahkan dihabisi nyawanya oleh kekasih yang menghamili.

Ditambah lagi dengan skandal petinggi negeri, selegram dan yuotuber yang menghiasi konten mereka dengan tontonan sampah yang unfaedah. Plus drama korea, musik k-pop yang mengkampanyekan hubungan sejenis, gay, homo dan perilaku merusak lainnya.

Juga kurikulum dunia pendidikan yang semakin menjauhkan generasi dari nilai-nilai agama dan akhlakul karimah. Terbukti dengan penghapusan kata-kata jihad dan khilafah dari berbagai buku sekolah. Jadi lengkap sudah, generasi kita telah diserang dari berbagai lini.

Semua itu bisa terjadi, karena beberapa sebab berikut ini :

Pertama, penerapan sekulerisme yang kian akut dinegara kita. Sekulerisme merupakan pemisahan agama dari kehidupan. Agama hanya dipakai saat beribadah, sholat, puasa, naik haji dan nikah. Sementara dalam menjalani kehidupan sehari-hari tak memakai aturan Islam. Pergaulan muda-mudi mengadopsi paham liberal, serba bebas.

Padahal nih ya, pedoman islam telah jelas bagi pelaku zina dalam QS An-Nur 24 : 2, yang artinya:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.”

Sayang pedoman ini tak dipakai dalam Sistem Demokrasi saat ini. Yang dipakai sistem buatan manusia, yakni pelaku zina dinikahkan dengan pesta besar-besaran. Pelaku zina dianggap biasa saja, bukan perbuatan dosa dan nista.

Hingga wajar perzinahan, pornografi, pornoaksi semakin merajalela. Seiring juga pelaku perbuatan insest, pelecehan seksual tak mendapat hukuman berat. Semua hukuman tak memberi efek jera, berbeda dengan pelaksanaan hukum cambuk dan rajam dalam Islam. Semuanya itu memberi efek jera bagi masyarakat umumnya, hingga perbuatan serupa tak terulang kedepannya.

Kedua, tak ada kontrol dari keluarga terhadap anak-anak mereka. Semua ini tak lepas dari pemahaman orang tua yang kurang terhadap hukum islam, hingga anak dibiarkan bergaul secara bebas dengan teman-temannya. Tak ada batasan laki dan perempuan, tak menutup aurat dan pelanggaran hukum lainnya. Padahal nih, keluarga merupakan benteng utama dalam menjaga keutuhan keluarga. Maka sungguh, jadi orang tua itu dituntut untuk paham agama, agar punya pegangan dalam mengarahkan anak-anak ke jalan yang seharusnya.

Ketiga, tak ada kontrol masyarakat terhadap lingkungan. Pengaruh liberalisme telah berimbas pada masyarakat. Paham ini menjadikan masyarakat yang individual, tak peduli dengan lingkungan dan kondisi sekitar. Sikap enggan menyapa dan menegur karena menganggap urusan pribadi yang tak pantas dikoreksi.

Hal ini jadikan pembiaran perbuatan maksiat, jika ada yang zina dan lainnya masyarakat enggan menegur. Padahal sesama muslim itu harus saling mengingatkan, jika ada yang berbuat zina dan salah segera diingatkan agar kembali ke jalan yang benar. Karena, ketika zina telah dihalalkan di suatu negeri, maka itu sama dengan mengundang azab Allah, Rasulullah saw. bersabda:

“Apabila zina dan riba telah tampak di suatu kampung, sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah bagi mereka. (HR ath-Thabarani dan al-Hakim).

Itulah sekelumit penyebab hancurnya generasi kita. Jika kita mau berbenah, kembali ke sistem islam merupakan solusi utama. Insya Allah aturan Allah itu yang paling sempurna, maka tak ada pilihan selain menetapkannya dalam kehidupan nyata. Wallahu a’lam bish-shawab.