Oleh: Tawati (Muslimah Revowriter Majalengka)

Sejumlah guru agama di Kabupaten Majalengka mengaku resah dengan adanya informasi yang beredar terkait penghapusan mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab sesuai dengan Keputusan Menteri Agama.

Salah seorang Guru Bahasa Arab di MTs Kecamatan Sukahaji, Enda mengungkapkan dirinya mendapatkan informasi adanya peniadaan mata pelajaran bahasa Arab. Jika informasi tersebut benar, maka kebijakan itu akan berdampak sangat luar biasa.

“Bahasa Arab itu bahasa Alquran dan Hadis. Jika ini dihapuskan akan membuat generasi umat Islam semakin buta tentang agama,” kata Enda saat berkunjung ke sekretariat PWI Majalengka, Jumat (10/7/2020). Menurut Enda, bahasa Arab sangat membantu para siswa memahami agama Islam secara utuh.

Hal senada diungkapkan guru MI di Desa Ujung Berung Kecamatan Sindangwangi, Dede. Sebagai guru PAI, di mata pelajaran itu ada Sejarah Peradaban Islam, Quran Hadis, Akidah Akhlak, dan lainnya. “Jika itu dihapus bagaimana anak didik kita ke depannya?” imbuhnya. (Dikutip Radar Majalengka, 13/7/2020)

Bahasa Arab adalah bahasa resmi negara bagi peradaban Islam. Sejak berdiri di Madinah, Islam terus mengalami kejayaan demi kejayaan dengan bertambah luasnya wilayah kekuasaan, kekayaan alam, bertambahnya suku bangsa dan juga ribuan kebudayaan baru yang ditaklukkan, semua melebur dalam satu kekuasaan, Islam. Dan bahasa Arab adalah bahasa pemersatunya kala itu. Tidak heran dengan luas wilayah kekuasaan meliputi dua pertiga wilayah dunia, bahasa Arab memiliki kosa kata yang demikian kaya.

Potensi bahasa Arab tentu tidak bisa dipisahkan dari peradaban Islam. Kita bisa melihat justru umat Islam menjadi kuat di era-era kejayaannya dikarenakan potensi bahasa Arab menyatu dalam setiap sendi pemikiran (fikrah) mereka. Memengaruhi gaya hidup dan visi misi kehidupan mereka baik sebagai individu maupun bernegara. Kita bisa melihat, ketika bahasa Arab ini sedikit demi sedikit ditinggalkan, umat Islam terkena penyakit kesukuan dan wathoniyyah (nasionalisme), pada saat yang sama Islam sebagai sebuah peradaban besar mulai mengalami kesurutan dan kemunduran.

Ini ditegaskan oleh Amirul Mukminin, ‘Umar bin al-Khaththab r.a.. Abu Bakar bin Abi Syibah menyatakan, “Kami telah diberitahu oleh ‘Isa bin Yunus dari Tsaur dari ‘Umar bin Yazid berkata, “Khalifah ‘Umar telah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari ra.

“Amma ba’du, perdalamlah as-Sunnah, dan perdalamlah bahasa Arab. Kuasailah bahasa Arab aI-Qur’an, karena al-Qur’an adalah kitab berbahasa Arab.” Dalam riwayat lain, “Pelajarilah bahasa Arab, karena bahasa Arab itu bagian dari agama kalian. Pelajarilah berbagai kefardhuan, karena ia pun bagian dari agama kalian.”

Bahkan di masa lalu, para sahabat menyebarkan Islam, dengan membawa al-Qur’an di tangan kanan, dan bahasa Arab di tangan kirinya. Imam as-Syafii menuturkan bahwa hukum mempelajari bahasa Arab adalah fardhu “ain: “Wajib bagi tiap Muslim untuk mempelajari bahasa Arab hingga kemampuannya bisa mengantarkannya untuk menunaikan kefardhuan (yang ditetapkan kepada)-nya.”[Lihat, al-Imam Muhammad ‘Ali as-Syaukani, Op. Cit., hal. 1232]

Syaikh Islam, Ibn Taimiyyah, mengatakan: “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama, dan mengetahuinya hukumnya fardhu yang diwajibkan. Sebab, memahami aI-Kitab dan as-Sunnah hukumnya fardhu. Sementara semuanya itu tidak bisa dipahami, kecuali dengan memahami bahasa Arab. “Suatu kewajiban yang tidak bisa sempurna, kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib.“![Lihat, Ibid, hal. 1232]

Untuk hal ini para ulama mendefinisikannya menjadi dua: Pertama, hukumnya fardhu ‘ain, bagi tiap Muslim agar bisa menjalankan kewajibannya dengan baik dan benar. Kedua, hukumnya fardhu kifayah, jika lebih dari kewajiban yang pertama, misalnya untuk berijtihad. Mengingat hukum ijtihad itu sendiri adalah fardhu kifayah.

Sesungguhnya jika kita runut dan teliti lebih dalam, kondisi umat Islam ketika bahasa Arab digunakan sebagai bahasa pemersatu negara maupun ketika ditinggalkan. Bahasa Arab memberikan pengaruh yang baik bagi umat Islam ketika diterapkan sebagai bahasa resmi negara.

Di dalam kitab At-Takatul Hizbiy disebutkan ada tiga potensi bahasa Arab yang tidak bisa dipisahkan dengan potensi Islam. Ketiga potensi itu adalah potensi disebarkan secara meluas (tawasu`), potensi menyebar (intisyar), dan potensi dari kemampuan bahasa Arab untuk memberikan pengaruh (ta`tsir).

Sedangkan kemerosotan umat Islam justru dimulai ketika mereka mulai meninggalkan bahasa Arab. Semisal dengan ditinggalkannya bahasa Arab maka potensi umat Islam untuk melakukan ijtihad menjadi menurun. Padahal ijtihad sangat penting dilakukan dalam kondisi kaum muslimin berada dalam zaman dimana teknologi dan pengetahuan berkembang pesat.

Seandainya bahasa Arab adalah bahasa keseharian tentu jumlah mujtahid akan lebih banyak. Sebab salah satu syarat ijtihad adalah penguasaan akan bahasa Arab dengan baik. Dan kekayaan teknologi umat Islam akan jauh lebih banyak yang bisa di akomodir setelah terlebih dahulu dilakukan proses ijtihad memastikan kebolehan penggunaannya dalam kehidupan.

Mudah-mudahan kedepan umat Islam akan semakin membumikan bahasa Arab dalam setiap sendi kehidupan. Sekaligus bahasa Arab akan sekali lagi menjadi bahasa resmi dan bahasa komunikasi internasional sebagaimana ketika dulu peradaban Islam menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.

Kita perlu menguatkan azzam agar bahasa Arab ini tidak hanya dijadikan sebagai bahasa kelas dua atau sekadar pengetahuan semata. Namun menjadi bahasa yang kita cintai sebagaimana dalam hadis berikut, “Cintailah bahasa Arab karena tiga hal, yaitu bahwa saya (Muhammad adalah orang Arab, bahwa Al Qur`an adalah bahasa Arab, dan bahasa penghuni surga di dalam surga adalah bahasa Arab.” (HR. ath-Thabrani)

Wallahu a’lam bishshawab.