Oleh : Dien Kamilatunnisa

Moderasi beragama akan masuk kurikulum sekolah. Salah satunya terlihat dari perubahan kurikulum MI, MTS dan MA yang akan menggunakan kurikulum baru yaitu KMA 183 tahun 2019. Beberapa materi yang mendapat pembaharuan dalam kurikulum tersebut adalah materi khilafah, jihad dan moderasi yang disajikan intergratif (detik.com, 11/07/2020). Perubahan kurikulum madrasah di atas adalah bagian dari upaya untuk memperkuat moderasi beragama dalam menguatkan komitmen kebangsaan, toleransi aktif, serta mencegah paham keagamaan yang ekstrem (okezone.com, 03/07/2020).

Tanggapan pun muncul dari Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Menurut beliau penghapusan ajaran Islam dalam kurikulum madrasah 2020/ 2021 merupakan bagian dari agenda liberalisme dan liberalisasi yang menyasar Indonesia sejak lama. Bahkan beliau menegaskan perubahan kurikulum tersebut sebagai puncak dari liberalisme itu sendiri.

Tentu hal ini patut mendapatkan perhatian serius dari umat Islam. Dalam pandangan Islam, pendidikan bertujuan untuk membentuk pola pikir dan pola sikap Islam secara komprehensif. Dengan hal itu, maka seorang muslim mampu mengenali dan memahami ajaran Islam secara menyeluruh untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika perubahan materi kurikulum diubah pada sudut pandang moderasi beragama maka sama saja dengan mengebiri pemahaman terhadap syariat Islam. Dikhawatirkan kedepannya generasi muslim tidak mengenal syariat Islam secara utuh.

Adanya upaya sistematis menjauhkan umat Islam dari ajarannya memang sudah lama terjadi. Biasanya menggunakan isu jihad, perang, khilafah dan lain-lain. Upaya bisa dilakukan dengan memberikan sudut pandang negatif mengenai istilah-istilah tersebut sehingga menimbulkan ketakutan akan hal yang berkaitan dengan Islam (Islamophobia) di kalangan umat Islam itu sendiri. Seperti mengkaitkan Islam dengan aksi terorisme dan anarkis. Padahal, tuduhan terorisme maupun anarkis tidak berdasar sama sekali dan bukanlah ajaran Islam.

Dapat dibayangkan jika generasi muda Islam tidak mengenal istilah khilafah, perang dan jihad secara utuh maka mereka bisa saja salah mengenali musuh dan kawan. Padahal materi jihad, perang dan khilafah adalah bagian dari sejarah peradaban Islam. Jihad dan perang adalah bagian dari dakwah Islam di masa khilafah. Hal ini tidak dapat terbantahkan oleh siapapun.

Oleh karena itu, adanya upaya mengurangi substansi makna istilah khilafah, jihad, dan perang agar sesuai semangat moderasi beragama menjadi berbahaya. Generasi muda Islam dikhawatirkan tidak mengenal perang dalam Islam sehingga mereka tidak siap berperang dalam mempertahankan agama dan wilayahnya. Parahnya, mereka bisa saja malah menyambut musuh sebagai kawan dan memusuhi sesama muslim itu sendiri. Wallohu’alam

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff: 7)