Oleh: Iis Karlina
Ibu dan aktivis muslimah

Mendengar kata menikah siapa sih yang tak ingin. ngebayanginnya pasti yang indah-indah, yang senang-senang. Ah, pokoknya serasa dunia milik berdua deh hehe. Padahal sejatinya pernikahan itu adalah proses ibadah terpanjang yang memerlukan skill. Hah, nikah pake skill?
Ya. Tentu dong, nggak cuma penulis yang butuh skill, nikah juga butuh skill. Skill yang belum tentu bisa didapat di bangku sekolahan.

belakangan ini sering banget terdengar kasus KDRT atau (kekerasan dalam rumah tangga) sampai kasus perceraian pun meningkat pesat, selain karena wabah virus yang tak kunjung usai dan tidak sedikit pula orang stress karena kondisi ekonomi yang tidak lagi stabil. Faktor kurangnya rasa syukur pun tidak dapat dipungkiri. Bersyukur dan bersabar atas musibah yang menimpa diri merupakan hal yang wajib tertanam dalam diri, terlebih kita sebagai seorang muslim. Hal tersebut menjadi faktor tumbuhnya keikhlasan dalam diri dikala ujian menerpa, sambil menghidupkan hati serta menyadari bahwa diri ini akan selalu terikat beribadah kepada Allah, itulah istimewanya seorang muslim. Terlebih untuk orang yang telah menapaki kehidupan rumah tangga badai ujianpun akan selalu ada.

Pertanyaannya, mampukah kita tetap bersyukur diterpa badai ujian? sampai kita benar-benar mampu ikhlas dan menjadi pribadi yang lebih baik.

percaya nggak? ikhlas itu skill juga lho, butuh latihan terus menerus sampai kita berada dititik ikhlas Lillahi Ta’ala. begitupun sabar dan syukur harus dilatih agar diri selalu senantiasa bersabar dan bersyukur walau di tengah kesulitan sekalipun.

Contohnya berusaha terus tanpa letih sambil berdakwah karena permasalahan umat saat ini tidak hanya terletak pada kurangnya rasa syukur, namun juga abainya pemerintah terhadap rakyatnya.

Ungkapan syukur terhadap Allah tidak hanya mengucapkan “Alhamdulillah” saja, namun juga harus bisa diaplikasikan dalam kehidupan. Senyum terhadap sesama muslim bila bertemu itupun bagian dari rasa syukur, mendidik anak dengan penuh kesabaran dan kesadaran bahwa anak adalah titipan Allah itu bagian dari rasa syukur, berbagi makanan dengan tetanggapun itu bagian dari rasa syukur kita dan masih banyak lagi cara yang bisa kita perbuat sebagai tanda rasa syukur kita.

Pentingnya, Akan terasa berbeda jika kita mengerjakan sesuatu karena Allah sebab bentuk rasa syukur kita semua akan tercatat sebagai amal ibadah. Seruan untuk selalu bersyukurpun berulang kali disebutkan dalam firman Allah di Al-Qur’an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

yuhallażīna āmanụyy kulụ min ṭayyibāti mā razaqnākum wasykurụ lillāhi ing kuntum iyyāhu ta’budụn

Yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah”. (TQS. Al-Baqarah Ayat 172)

Nah, disitulah kita harus tetap bersabar sekaligus bersyukur dan tetap berusaha sekuat kemampuan kita, karena sabar dan syukur itu ada caranya, tidak lantas bersabar dan bersyukur lalu diam saja, itu salah. tetap harus dibarengi dengan ikhtiar sehingga tidak akan ada lagi tuh kasus KDRT pembunuhan istri oleh suami dan kasus-kasus serem lainnya. sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam Al-Qur’an

“jika engkau bersyukur maka Allah akan menambah nikmat nya”. Sebab rumah tangga adalah ibadah terpanjang yang semua aktivitas di dalamnya mengandung ibadah selama hati kita menyadari aktivitas yang dilakukan untuk mencari ridho Allah. Jadi mari perbanyak bersyukur.

Coba saja jika kondisi setiap keluarga muslim dengan kurang imannya, kurang ilmunya, kurang sabar serta syukurnya, pastilah menghadapi masalah dengan tidak tenang, selalu marah-marah, pesimis sehingga anak pun menjadi korban. sedih banget ya dengarnya, maka dari itu kita harus mulai dari diri sendiri untuk selalu senantiasa bersabar dan bersyukur di kala kesulitan sekalipun. Sebab allah bersama orang-orang yang sabar. Wallahu’alam.